Bab 23: Brisbane, Kota Tropis

Bab 23: Brisbane, Kota Tropis

Lev
0

Setelah melewati perjalanan panjang yang penuh tawa dari Canberra, Lev dan Jessica akhirnya tiba di Brisbane. Udara hangat dan lembap langsung menyambut mereka. Terbiasa dengan iklim kering di Perth dan Adelaide, Lev merasa seperti kembali ke Banjarmasin, hanya saja sungai di Brisbane jauh lebih besar dan lebih modern.

"Selamat datang di Brisbane, Lev!" seru Jessica dengan riang. "Rasanya seperti liburan di Bali, tapi versi Australia."

"Aku suka. Rasanya seperti di rumah," balas Lev, tersenyum lebar.

Mereka menginap di sebuah apartemen di South Bank, sebuah area yang terkenal dengan taman tropis dan laguna buatan di tengah kota. Pemandangan dari apartemen mereka sangat memukau, dengan Brisbane River yang mengalir tenang di bawah sana.

"Ini tempat yang sempurna untuk bersantai, Lev," kata Jessica. "Di sini, kita bisa berenang, piknik, atau sekadar jalan-jalan santai."

Pagi harinya, Lev dan Jessica memutuskan untuk mengunjungi Lone Pine Koala Sanctuary, tempat yang sudah sangat dinantikan oleh Lev. Mereka naik perahu menyusuri Brisbane River, menikmati pemandangan kota dari sungai.
Di dalam sanctuary, Lev dan Jessica disambut oleh puluhan koala yang sedang tidur pulas di dahan-dahan pohon eukaliptus. Mereka terlihat sangat menggemaskan, dengan bulu-bulu tebal dan telinga berbulu.

"Mereka sangat lucu," kata Lev, matanya berbinar. "Seperti boneka hidup."

"Mereka memang seperti itu, Lev," kata Jessica. "Tapi mereka hanya bangun sebentar untuk makan, lalu tidur lagi."

Di sana, ada sesi di mana pengunjung diperbolehkan untuk berfoto sambil menggendong koala. Lev, yang awalnya ragu, akhirnya memberanikan diri. Ia diberi seekor koala yang terlihat sangat jinak. Koala itu memeluknya dengan erat, dan Lev merasa ada kehangatan yang menjalar di hatinya.

"Dia nyaman sekali di pelukanku," bisik Lev kepada Jessica.

Jessica tersenyum. "Koala itu tahu, kamu orang yang baik."

Setelah berfoto dengan koala, mereka melanjutkan perjalanan ke area lain di sanctuary. Ada banyak hewan khas Australia lainnya yang bisa mereka lihat, seperti kanguru, wombat, dan Tasmanian devil. Lev sangat menikmati setiap momen di sana, berinteraksi dengan hewan-hewan yang selama ini hanya ia lihat di televisi.

"Ini pengalaman yang tak terlupakan, Jess," kata Lev. "Aku tidak menyangka bisa sedekat ini dengan hewan-hewan ini."

"Aku senang kamu suka, Lev," jawab Jessica. "Brisbane memang kota yang sempurna untuk pecinta alam sepertimu."

Lev dan Jessica juga melihat sebuah pameran tentang sejarah Aborigin, suku asli Australia. Mereka belajar tentang budaya, tradisi, dan perjuangan suku Aborigin. Lev merasa terhubung dengan mereka, karena ia juga berasal dari suku asli Indonesia.

"Ada banyak persamaan antara budaya kita, Jess," kata Lev. "Ada banyak cerita tentang alam, tentang leluhur, dan tentang bagaimana kita harus menghormati alam."

Jessica mengangguk setuju. "Itu membuatku berpikir, bahwa meskipun kita berbeda, kita semua punya akar yang sama. Kita semua adalah bagian dari bumi ini."

Malam harinya, mereka makan malam di sebuah restoran halal yang terletak di South Bank. Mereka menikmati hidangan seafood yang lezat, sambil melihat pemandangan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip.

Brisbane, kota tropis yang penuh dengan kehidupan, memberikan Lev dan Jessica banyak pelajaran. Mereka belajar tentang alam, tentang budaya, dan tentang bagaimana kita harus menghormati semua makhluk hidup. Dan di Brisbane, mereka menemukan bahwa di balik keramaian kota, ada ketenangan yang bisa ditemukan di alam.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default