"Ayah, lihat! Kucingnya pintar sekali, dia tahu kalau Khalisah mau kasih makan," seru Khalisah Salsabilla sambil berjongkok di teras rumah. Tangannya yang mungil sibuk menuangkan biskuit kucing ke wadah plastik.
Hifni yang baru saja pulang dari kantor pemerintahan dengan seragam cokelatnya hanya bisa tersenyum pasrah. "Khalisah, kucingnya diberi makan boleh. Tapi ingat ya, kebersihan teras harus dijaga. Kebersihan itu sebagian dari iman."
Rina Rufida muncul dari balik pintu, masih mengenakan sisa seragam mengajarnya. "Yes, darling. Listen to your father. Dan jangan lupa, habis main dengan kucing, wash your hands, cuci tangan pakai sabun."
"Siap, Ummi! Siap, Ayah!" sahut Khalisah riang.
Tak lama kemudian, pagar rumah sebelah berbunyi. Drg. Dina Yulianti keluar bersama suaminya, bersiap menyiram tanaman. Naura Salsabilla, anak mereka, langsung berlari mendekati pagar pembatas.
"Khalisah! Aku punya mainan baru untuk kucingmu!" panggil Naura melambaikan tangan.
Melihat Drg. Dina, Hifni berdeham agak keras, mencoba bersikap sewajar mungkin. Rina yang melihat tingkah suaminya langsung menyenggol lengan Hifni pelan sambil berbisik, "Hayo, Ayah jangan melamun. Ingat berkas di kantor atau ingat masa lalu?"
"Eh, astagfirullah, Ummi. Ayah cuma ingat jemuran belum diangkat," kilih Hifni dengan wajah memerah, memicu tawa kecil dari Rina. Hubungan mereka sudah terlalu kuat untuk goyah oleh masa lalu, justru situasi ini sering menjadi bumbu komedi segar di antara mereka.
Malam harinya, setelah salat magrib berjamaah, sebuah momen mengharukan sekaligus menggelitik terjadi. Khalisah duduk di pangkuan Rina sambil membelai boneka kucingnya.
"Ummi, Khalisah senang sekali main sama Naura. Tapi kalau malam, Naura kan harus pulang ke rumah Tante Dina," ujar Khalisah dengan mata bulatnya yang berbinar.
"Lalu?" tanya Rina lembut.
"Khalisah ingin sekali punya adik perempuan sendiri, Ummi. Biar bisa diajak main kucing bareng-bareng di dalam rumah. Khalisah berjanji akan jadi kakak yang baik. Khalisah akan ajari adik mengaji," pinta bocah 7 tahun itu dengan tulus.
Hifni dan Rina saling berpandangan. Ada rasa haru yang membuncah di dada mereka. Keinginan polos Khalisah adalah doa yang malam itu juga mereka aminkan bersama dalam hati.
Beberapa bulan berlalu atas izin Allah SWT, doa di malam itu dikabulkan. Suasana rumah Hifni berubah menjadi penuh rasa syukur dan haru saat Rina melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Khalisah adalah orang yang paling melompat kegirangan di rumah sakit.
Sesuai dengan kesepakatan keluarga yang kental dengan nuansa Islami, bayi perempuan itu diberi nama Nuha Nuwaira. Nuha berarti pikiran atau kecerdasan, dan Nuwaira berarti cahaya kecil yang bersinar.
"Lihat, Nuha, ini Kakak Khalisah," bisik Khalisah di samping tempat tidur bayi, matanya berkaca-kaca penuh kebahagiaan. "Nanti kalau Nuha sudah besar, Kakak belikan mainan kucing yang paling bagus ya."
Kehidupan di Murung Pudak, Tabalong, malam itu terasa begitu sempurna. Di tengah riuh rendah tawa bertetangga, drama masa lalu yang lucu, dan tingkah menggemaskan seekor kucing, hadirnya Nuha Nuwaira menjadi pengikat bahagia yang hakiki bagi keluarga kecil Hifni dan Rina.
