D-Prison, penjara gurun Galbadia yang brutal, menjadi saksi bisu penderitaan tim SeeD. Squall masih koma parah, terbaring tak berdaya di sel yang lembap. Lev, Zell, dan Quistis dipisahkan di sel yang berbeda. Irvine berhasil lolos dan mencoba mencari bantuan.
Di selnya yang sempit, Lev Ryley, si pemuda Banjarmasin, merasa putus asa. Dia berdoa tanpa henti, memohon kesembuhan Squall dan keselamatan mereka semua. "Ya Allah, sembuhkan Squall. Dia orang baik, cuma kaku aja sifatnya," bisik Lev.
Saat itulah, fenomena aneh terjadi lagi. Kesadaran Lev dan teman-temannya kembali terlempar ke masa lalu, ke dalam tubuh Laguna, Kiros, dan Ward. Kali ini, mereka berada di desa terpencil bernama Esthar, jauh di utara. Laguna kini menjadi seorang jurnalis, sesuai impiannya, dan terlibat dalam misi rahasia di tambang Esthar.
Di masa lalu itu, Lev (sebagai Laguna) merasakan kedamaian. Tidak ada perang, tidak ada penyihir jahat, hanya misi jurnalistik yang sedikit berbahaya. Di sela-sela misi, mereka beristirahat di sebuah panti asuhan kecil di Winhill, tempat tinggal Ellone, seorang gadis kecil misterius yang punya kemampuan melintasi waktu (kemampuan yang membuat flashback ini terjadi).
Di panti asuhan itulah, plot twist terbesar Final Fantasy VIII terungkap. Semua anak yang ada di sana—Squall, Rinoa, Zell, Quistis, Irvine, Selphie, bahkan Seifer—ternyata tumbuh besar bersama di panti asuhan tersebut, di bawah asuhan seorang wanita baik hati yang mereka panggil "Mama Edea".
Lev, dalam tubuh Laguna, melihat Edea muda yang ramah dan penuh kasih sayang. Kontras sekali dengan Edea si penyihir jahat yang baru saja mereka lawan. Hati Lev terenyuh. Dia tahu Edea ini adalah orang yang sama. Apa yang membuatnya menjadi sejahat itu?
Lev (sebagai Laguna) berinteraksi dengan anak-anak panti asuhan. Dia melihat Squall kecil yang pendiam dan selalu menyendiri, merindukan "kakak"-nya (Ellone) yang sering menghilang. Lev merasa kasihan pada Squall kecil. Dia mencoba menghibur Squall kecil, menceritakan kisah-kisah lucu dari Banjarmasin, tentang buaya putih di Sungai Martapura, atau tentang kue bingka bakar yang lezat.
Squall kecil (yang dirasuki kesadaran Squall dewasa) menatap Lev/Laguna dengan tatapan bingung, tapi ada sedikit kehangatan di matanya.
Momen di panti asuhan itu menghangatkan hati Lev. Dia menceritakan tentang tradisi lebaran di Banjarmasin yang meriah, di mana semua keluarga berkumpul, saling memaafkan, dan makan ketupat kandangan bersama. Cerita itu membuat anak-anak panti asuhan yang kesepian itu tersenyum.
"Keluarga itu penting," kata Lev (sebagai Laguna) kepada anak-anak itu. "Di mana pun kita berada, keluarga adalah tempat kita pulang."
Kilas balik berakhir, dan kesadaran mereka kembali ke sel penjara D-Prison yang dingin. Suasana hati mereka berubah drastis. Ada kehangatan baru di antara mereka, rasa persaudaraan yang lebih dalam. Mereka sadar bahwa mereka bukan hanya rekan kerja, tapi juga 'keluarga' yang tumbuh bersama di panti asuhan yang sama. Amnesia akibat junction GF membuat mereka melupakan semua itu.
Squall, yang perlahan sadar dari komanya, menatap Lev. Wajahnya tidak sedatar biasanya. Ada ekspresi haru di sana. "Ceritamu tentang Banjarmasin... tentang lebaran... itu indah, Lev."
Lev tersenyum. "Alhamdulillah, Squall. Kita ini keluarga. Kita harus saling jaga."
Rasa putus asa di penjara gurun sirna, digantikan oleh semangat baru. Mereka adalah keluarga panti asuhan, dan mereka harus bersatu melawan ancaman Edea, 'mama' mereka yang kini tersesat. Ironi yang luar biasa.
Di dunia nyata Banjarmasin, Hajjah Halimah dan Paman Udin sedang menyiapkan kue bingka bakar untuk menyambut Idul Fitri yang tinggal menghitung hari. Suasananya hangat dan penuh kasih sayang.
Lev Ryley, di dunia game, telah menemukan arti keluarga yang sesungguhnya, jauh dari rumahnya di Banjarmasin. Kenyataan semu memori masa kecil itu telah menguatkan ikatan ukhuwah di antara mereka, mempersiapkan mereka untuk misi yang lebih besar: menyelamatkan 'ibu' mereka, Edea, dari kegelapan sihir.
