Lev dan Rauf kembali ke penginapan setelah makan malam yang menyenangkan di Tabalong. Hari sudah larut malam, tetapi mereka masih belum mengantuk. Mereka duduk di teras penginapan yang sederhana, menikmati suasana malam yang tenang. Angin sepoi-sepoi membawa aroma khas pedesaan, dan suara jangkrik bersahutan.
"Rauf, aku merasa aneh," Lev memulai percakapan.
"Aneh kenapa? Gara-gara insiden skateboard tadi?" Rauf bertanya, terkekeh.
"Bukan, bukan. Ini tentang Kakek," Lev berkata, serius.
Rauf menatap Lev dengan penasaran. "Kenapa dengan Kakekmu?"
"Aku merasa, ada sesuatu yang dia sembunyikan. Dari awal, dia enggak pernah jelasin kenapa harus kita yang jalanin misi ini. Kenapa harus mendokumentasikan kehidupan di Hulu Sungai? Kenapa bukan fotografer profesional aja?" Lev menjelaskan.
"Ya, kan karena kamu cucunya, Lev. Biar kamu belajar," Rauf berpendapat.
"Tapi, ini terlalu aneh, Rauf. Ada yang enggak beres," Lev curiga.
Tiba-tiba, ponsel Lev berdering. Nama "Kakek" muncul di layar. Lev dan Rauf saling pandang, merasa gelisah. Lev mengangkat telepon.
"Assalamualaikum, Kek?" jawab Lev.
"Waalaikumsalam, cucu durhaka! Gimana perjalananmu? Masih hidup?" suara Kakek terdengar dari seberang telepon.
"Alhamdulillah, masih hidup, Kek. Kenapa telepon malam-malam?" Lev bertanya.
"Kakek mau kasih kejutan. Kakek tahu kalian sudah sampai di Tabalong. Kakek juga tahu kalian pasti sudah banyak belajar," kata Kakek, suaranya terdengar bahagia.
"Kejutan apa, Kek?" tanya Lev, penasaran.
"Sabar. Kakek sudah siapkan sesuatu untuk kalian. Nanti, kalau kalian sudah pulang, kalian akan tahu. Tapi, ada satu hal lagi yang Kakek mau kasih tahu," Kakek berkata, suaranya berubah serius.
"Apa, Kek?"
"Kakek sudah ketemu sama calon menantumu, Lev," kata Kakek, tertawa terbahak-bahak.
Hening.
Lev dan Rauf saling pandang. Wajah mereka pucat pasi. Lev berusaha menenangkan diri. "Kakek ngomong apa sih? Bercanda, kan?"
"Enggak, enggak. Kakek serius. Namanya Sarah. Dia anak dari teman Kakek di Banjarmasin. Dia suka sama cowok yang suka petualangan, katanya. Jadi, Kakek bilang, cucu Kakek ini lagi keliling Kalimantan," Kakek menjelaskan.
Lev lemas. Ia merasa, kakeknya sudah gila. "Kakek... Kakek enggak bilang, kan, kalau aku suka jatuh dari perahu, suka manjat pohon, dan suka bikin keributan di pasar?"
"Ya, enggaklah. Nanti enggak jadi dapat menantu Kakek," Kakek terkekeh.
Setelah sambungan telepon diputus, Lev dan Rauf terdiam. Mereka tidak bisa berkata apa-apa. Kejutan dari Kakek, ternyata bukan kejutan yang menyenangkan.
"Rauf, aku merasa, misi kita ini bukan lagi tentang mendokumentasikan kehidupan di Hulu Sungai. Tapi tentang mencari jodoh," Lev berkata, pasrah.
Rauf hanya bisa menggelengkan kepala. "Aku sudah bilang, Kakekmu itu aneh, Lev. Tapi, kita sudah terlanjur di sini. Mau gimana lagi?"
Lev dan Rauf kembali merenung. Mereka tahu, petualangan ini tidak akan berakhir begitu saja. Masih ada satu babak lagi yang harus mereka lalui. Babak yang penuh kejutan, dan mungkin, babak yang paling berat.
Di dalam hati, Lev berterima kasih kepada Kakeknya. Karena berkat tugas absurd ini, ia bisa bertemu dengan banyak orang baik, dan belajar banyak hal. Meskipun, ia harus menghadapi kejutan yang tidak terduga. Babak ketujuh, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.
