Setelah meninggalkan Balangan dengan kenangan manis dari panti asuhan, Lev dan Rauf melanjutkan perjalanan menuju Tabalong, kabupaten terakhir dalam misi mereka. Di dalam mobil, Lev masih saja teringat momen haru bersama anak-anak panti asuhan. Ia merasa, misi dari Kakeknya ini bukan hanya tentang dokumentasi, tapi juga tentang pelajaran hidup.
"Rauf, aku merasa, di sini, aku menemukan arti berbagi yang sesungguhnya. Enggak peduli berapa banyak yang kita punya, yang penting kita ikhlas," gumam Lev.
Rauf mengangguk setuju. "Memang, Lev. Anak-anak itu mengajarkan kita, bahwa kebahagiaan itu, bisa datang dari hal-hal yang sederhana."
Mereka memasuki kota Tanjung, ibukota Kabupaten Tabalong. Kota ini terasa lebih ramai dibandingkan Balangan, dengan deretan toko-toko modern yang mulai menjamur. Namun, di balik itu, masih tersimpan keindahan alam yang luar biasa.
Setelah mencari penginapan, mereka memutuskan untuk jalan-jalan sore. Lev melihat sebuah warung makan di pinggir jalan yang ramai dikunjungi orang. Aroma sate ayam yang menggoda membuat Lev dan Rauf langsung tertarik.
"Rauf, mampir, yuk. Kayaknya enak," ajak Lev, bersemangat.
Rauf mengangguk. "Ide bagus. Aku juga sudah lapar."
Mereka memesan sate ayam khas Tabalong yang terkenal. Sate ayam itu disajikan dengan bumbu kacang yang kental, dan nasi hangat. Lev langsung melahap sate ayam itu dengan lahap.
"Rauf, ini nih. Kekayaan kuliner Tabalong. Enak banget!" seru Lev.
Rauf mengangguk. "Memang. Di sini, makanannya enak-enak."
Di tengah makan, Lev melihat seorang kakek tua yang sedang duduk di kursi roda. Kakek itu terlihat sedih. Lev merasa iba. Ia membeli beberapa tusuk sate ayam, lalu memberikannya kepada kakek itu.
"Ini, Pak. Buat bapak," kata Lev, ramah.
Kakek itu terkejut. Ia tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu."
Lev tersenyum. Ia merasa bahagia bisa berbagi. Rauf yang melihat kejadian itu, hanya bisa tersenyum. Lev, dengan segala kekonyolannya, ternyata punya hati yang tulus.
Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan. Di sebuah taman kota, mereka melihat ada beberapa anak muda yang sedang bermain skateboard. Lev langsung tertarik.
"Rauf, mampir bentar, yuk. Aku mau lihat mereka main," ajak Lev.
Rauf setuju. Mereka duduk di sebuah bangku taman, mengamati anak-anak muda itu. Salah satu dari mereka, seorang pemuda dengan tato di lengannya, terlihat sangat mahir bermain skateboard.
Lev menghampiri pemuda itu. "Keren, Bro! Boleh coba?" tanyanya.
Pemuda itu menolak. "Enggak, Bang. Ini bahaya. Nanti abang jatuh."
Lev tidak menyerah. "Enggak apa-apa, Bro. Aku udah sering main, kok."
Akhirnya, pemuda itu pun menyerahkan skateboardnya kepada Lev. Lev, dengan percaya diri, mencoba bermain skateboard. Namun, baru beberapa meter, ia sudah terjatuh.
Bruk!
"ADUH!" jerit Lev.
Pemuda itu dan teman-temannya langsung menghampiri Lev, membantu Lev berdiri.
"Udah dibilangin, Bang. Bahaya," kata pemuda itu, terkekeh.
Lev merasa malu. Ia berterima kasih kepada pemuda itu dan teman-temannya. Rauf yang melihat kejadian itu, hanya bisa menggelengkan kepala.
"Lev, kamu ini ada-ada saja. Sudah tahu enggak bisa, malah nekat," Rauf mengomel.
Lev hanya nyengir malu. "Kan aku mau coba, Rauf. Enggak tahu kalau main skateboard itu susah."
Mereka kembali ke penginapan dengan perasaan senang. Lev merasa, ia sudah mendapatkan pelajaran berharga lagi. Bahwa tidak semua hal bisa dilakukan dengan asal-asalan. Beberapa hal, butuh latihan dan kesabaran.
"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.
"Catat apa lagi?" tanya Rauf.
"Catatan hari ini: Sate ayam Tabalong mengajarkanku tentang nikmatnya berbagi. Dan skateboard mengajarkanku tentang kesabaran. Bahwa tidak semua hal bisa dilakukan dengan instan. Ada prosesnya," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.
Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu, Lev. Berarti kamu sudah semakin mengerti."
Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak keenam, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.
