Pagi di Pulau Derawan disambut dengan suara debur ombak yang lembut dan kicauan burung yang merdu. Langit cerah, laut terlihat biru jernih, dan angin sepoi-sepoi membuat suasana terasa begitu damai. Lev dan Faruq bersiap untuk memulai petualangan mereka di bawah laut.
"Faruq, aku... aku agak takut snorkeling," bisik Lev, dengan nada khawatir. "Nanti kalau aku tidak bisa bernapas bagaimana?"
Faruq tersenyum. "Tenang saja, Lev. Aku akan ajari kamu. Ini tidak sesulit yang kamu bayangkan."
Lev mengangguk, meskipun ia masih merasa was-was. Mereka naik ke atas perahu kecil, lalu menuju ke sebuah spot snorkeling yang terkenal. Di sana, mereka turun ke air. Lev merasa dingin, ia mencoba menenangkan diri.
"Lev, ikuti aku. Tarik napas, lalu buang," Faruq memberi instruksi.
Lev mengikuti instruksi Faruq. Perlahan, ia mulai terbiasa. Ia mulai bisa bernapas dengan tenang.
"Sekarang, coba lihat ke bawah, Lev," kata Faruq.
Lev melihat ke bawah, dan ia terkejut. Di bawah sana, terdapat sebuah dunia yang begitu indah. Terumbu karang berwarna-warni, ikan-ikan kecil yang berenang berkelompok, dan bintang laut yang tergeletak di dasar laut, menciptakan pemandangan yang magis.
"Subhanallah... Indah sekali," gumam Lev.
Faruq tersenyum. "Inilah keindahan bawah laut, Lev."
Lev mulai memotret. Ia memotret terumbu karang, ia memotret ikan-ikan, ia memotret bintang laut. Ia merasa senang, ia mendapatkan banyak foto yang bagus. Ia merasa, ia telah menaklukkan ketakutannya.
Namun, saat ia sedang asyik memotret, ia melihat sebuah ikan pari yang cukup besar. Ia panik, dan segera naik ke atas perahu.
"FARUQ! ADA IKAN PARI! IKAN PARI!" teriak Lev.
Faruq segera naik ke atas perahu. "Tenang, Lev. Itu cuma ikan pari. Tidak berbahaya."
Lev tidak bisa tenang. Ia merasa, ia sudah hampir mati. Faruq hanya bisa tertawa melihat tingkah Lev yang konyol.
"Lev, kamu ini memang ada-ada saja," kata Faruq.
Lev meringis. "Tapi aku selamat, kan?"
"Tentu saja. Kamu selamat," Faruq menepuk punggung Lev.
Setelah Lev merasa lebih tenang, mereka kembali ke air. Kali ini, Lev sudah lebih berani. Ia tidak lagi panik saat melihat ikan pari. Ia bahkan bisa memotretnya dari jarak dekat.
"Faruq, aku merasa, aku sudah lebih berani," kata Lev.
"Itu artinya, kamu sudah belajar, Lev. Belajar untuk menghadapi ketakutan," jawab Faruq.
Setelah beberapa jam, mereka kembali ke resort. Lev merasa lelah, tapi ia merasa bahagia. Ia telah mendapatkan pengalaman yang berharga.
Malam itu, mereka menikmati makan malam di sebuah warung makan di pinggir pantai. Mereka memesan ikan bakar, dan Lev tidak lupa untuk mengambil foto ikan itu sebelum ia makan.
"Lev, kamu tahu? Laut ini mengajarkan aku tentang kesabaran," kata Faruq.
"Apa maksudmu, Faruq?" tanya Lev.
"Laut itu selalu bergerak, tapi ia tetap sabar. Ia tidak pernah terburu-buru. Sama seperti hidup, Lev. Terkadang, kita harus bersabar. Kita tidak bisa memaksakan segalanya," jawab Faruq.
Lev mengangguk. Ia mengerti. Ia merasa, ia telah mendapatkan pelajaran berharga lagi. Ia merasa, ia sudah lebih mengerti tentang kehidupan.
Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
