Bab 24: Kejutan dari Indonesia

Bab 24: Kejutan dari Indonesia

Lev
0

Suatu pagi di Brisbane, saat Lev dan Jessica sedang sarapan di balkon apartemen, bel pintu berbunyi. Lev, yang sedang asyik meminum teh, mengerutkan kening. "Siapa, ya? Kita tidak pesan apa-apa," gumamnya.

Ia membuka pintu, dan seorang kurir mengantarkan sebuah kotak besar. "Paket dari Indonesia," kata kurir itu.

Mata Lev langsung berbinar. Ia tahu siapa yang mengirimnya. Dengan cepat, ia menandatangani resi dan membawa kotak itu ke dalam. Jessica, yang melihat kegembiraan Lev, merasa penasaran.

"Itu dari siapa, Lev?" tanyanya.

"Dari ibuku!" jawab Lev bersemangat. "Aku sudah bilang padamu kan? Ibuku suka sekali mengirimiku paket."

Dengan hati-hati, Lev membuka kotak itu. Isinya adalah berbagai macam makanan khas Banjar yang dibungkus rapi. Ada amplang (kerupuk ikan), wajik (ketan manis), dan tentu saja, bumbu-bumbu instan untuk membuat soto banjar. Ibunya juga menyisipkan sebuah surat yang ditulis tangan dengan tulisan yang rapi.

Lev membaca surat itu dengan senyum. "Ibuku bilang, dia rindu masakan buatanku. Dia juga bilang, dia berdoa agar aku selalu sehat dan dilindungi di sini."

"Itu sangat manis," kata Jessica, terharu. "Aku jadi ingin punya ibu yang bisa mengirimiku paket dari Indonesia."

"Kamu bisa anggap ibuku sebagai ibumu juga, Jess," kata Lev. "Aku yakin ibuku juga akan suka padamu."

Mereka berdua mulai mengeluarkan isi kotak itu. Lev memberikan Jessica amplang, dan Jessica langsung menyukainya. "Rasanya gurih dan renyah," katanya. "Ini lebih enak dari keripik kentang."

Lev tertawa. "Amplang ini terbuat dari ikan, Jess. Itu sebabnya rasanya berbeda."

Di dalam kotak, ibunya juga mengirimkan sebuah batik baru dengan motif yang lebih modern. Lev langsung mengenakannya. "Bagaimana penampilanku, Jess?" tanyanya.

"Kamu terlihat keren!" puji Jessica. "Batik itu cocok sekali denganmu."

Lev merasa hangat. Meskipun jauh dari rumah, ia merasa tidak sendirian. Ada keluarga yang selalu menyayanginya, dan ada sahabat yang selalu mendukungnya. Kejutan dari Indonesia itu menjadi pengingat bagi Lev akan akarnya.

Malam harinya, Lev memutuskan untuk memasak soto banjar dengan bumbu instan yang dikirim ibunya. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan Jessica dan beberapa teman-teman baru yang mereka temui di Brisbane. Lev mengundang beberapa mahasiswa Indonesia yang tinggal di sekitar mereka, dan Jessica mengundang beberapa temannya dari kampus.

Dapur apartemen menjadi ramai dengan aktivitas. Lev memasak soto banjar, sementara Jessica membantu menyiapkan soun dan telur bebek. Aroma rempah-rempah yang harum memenuhi ruangan, membuat semua orang merasa lapar.

Saat soto banjar sudah siap, semua orang berkumpul di meja makan. Lev menjelaskan tentang soto banjar, dan Jessica membantu menerjemahkan. Semua orang mencicipi soto banjar itu dengan antusias.

"Ini enak sekali!" puji salah satu teman Jessica. "Aku tidak pernah makan soto yang rasanya sekompleks ini."

Lev merasa bangga. Ia senang bisa berbagi kebahagiaan dengan teman-teman barunya. Ia menyadari bahwa makanan bukan hanya tentang mengisi perut, tapi juga tentang berbagi cerita, berbagi budaya, dan berbagi kebahagiaan.

Malam itu, mereka semua makan, tertawa, dan berbincang-bincang. Lev merasa seperti berada di rumah. Ia merasa ada ikatan kuat yang terjalin di antara mereka. Kejutan dari Indonesia itu tidak hanya membawa makanan, tapi juga membawa kehangatan dan kebahagiaan. Dan di Brisbane, kota yang tropis dan hangat, mereka menemukan bahwa persahabatan bisa tumbuh di mana saja, bahkan di antara orang-orang yang berbeda budaya dan latar belakang.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default