Malam itu, sepulang dari perpustakaan, Lev dikejutkan oleh Anatasya yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Anatasya membawa sebuah tas kain besar.
"Kenapa, Anatasya? Ada yang ketinggalan?" tanya Lev, heran.
"Tidak ada. Aku hanya ingin membuat kejutan," jawab Anatasya, tersenyum lebar. "Aku tahu kamu pasti lelah. Jadi, aku yang akan memasak makan malam untukmu hari ini."
Lev terkejut. "Kamu? Memasak? Anatasya, kamu tidak perlu repot-repot."
"Aku tidak repot, Lev. Lagipula, aku ingin mencoba memasak sesuatu yang berbeda," kata Anatasya sambil melangkah masuk. "Ayo, bantu aku!"
Anatasya mengeluarkan bahan-bahan dari tas kainnya. Ada sayuran, daging sapi yang ia beli di pasar halal, dan rempah-rempah yang ia beli di toko Turki. Lev melihat Anatasya dengan kagum. Anatasya, yang biasanya terlihat ceria dan enerjik, kini tampak serius saat memasak.
Mereka berdua bekerja sama di dapur. Anatasya memotong sayuran, sedangkan Lev menyiapkan bumbu. Lev mengajari Anatasya cara menggunakan rempah-rempah, dan Anatasya mengajari Lev cara memotong sayuran dengan cepat. Mereka tertawa, bercanda, dan sesekali berselisih pendapat tentang cara memasak yang benar.
"Anatasya, kalau memotong sayuran jangan seperti itu. Nanti rasanya jadi beda," kata Lev.
"Tapi ini cara cepatnya, Lev," jawab Anatasya.
"Rasa yang penting, bukan kecepatan," balas Lev.
Mereka berdua tertawa lagi. Lev merasa senang. Ia merasa seperti sedang berada di rumah, memasak bersama Vania.
Setelah selesai memasak, mereka duduk di meja makan, menikmati hidangan. Anatasya memasak semur daging sapi, dengan rasa yang lezat.
"Enak, Anatasya," puji Lev. "Kamu jago masak."
"Aku sudah bilang, aku bisa memasak!" kata Anatasya bangga. "Tapi, rasanya tidak akan selezat masakan Vania, kan?"
Lev terdiam sejenak. "Masakanmu enak, Anatasya. Masakan Vania... itu berbeda. Itu masakan yang penuh cinta."
Anatasya mengangguk. "Aku mengerti. Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengekspresikan cinta."
Setelah selesai makan, mereka duduk di sofa. Anatasya melihat foto Vania di meja, dan ia tersenyum. "Aku suka melihat kalian berdua di foto itu," katanya. "Kalian terlihat sangat bahagia."
"Kami memang bahagia," jawab Lev. "Vania adalah segalanya bagiku."
Anatasya mengangguk. "Aku tahu. Tapi, kamu tahu? Ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuatmu bahagia, Lev. Kamu hanya perlu membuka hatimu."
Lev menatap Anatasya. "Aku... tidak tahu apakah aku bisa."
"Kamu bisa, Lev. Aku yakin kamu bisa," Anatasya meyakinkan. "Vania tidak ingin melihatmu seperti ini. Dia ingin kamu bahagia."
Mereka berdua terdiam. Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Lev merasa Anatasya adalah teman yang sangat baik. Ia tidak hanya membantunya beradaptasi dengan kehidupan di Stockholm, tetapi juga membantunya menyembuhkan luka di hatinya.
"Anatasya," kata Lev. "Aku... terima kasih."
"Untuk apa, Lev?"
"Untuk semuanya," jawab Lev. "Untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku."
Anatasya tersenyum. "Sama-sama, Lev. Kita adalah teman. Teman selalu ada untuk satu sama lain."
Malam itu, Lev tidur dengan perasaan hangat di hatinya. Ia merasa bahwa ia tidak sendirian. Ia merasa bahwa ia memiliki Anatasya, sahabat barunya yang selalu ada untuknya. Ia merasa bahwa ia bisa bahagia lagi. Ia siap untuk melanjutkan hidup.
