Bab 7: Tragedi Lonceng Mochi dan "Battle" Hafalan di Malam Reuni

Bab 7: Tragedi Lonceng Mochi dan "Battle" Hafalan di Malam Reuni

Lev
0
Kisah inspiratif Khalisah Salsabilla di Barabai, Kalimantan Selatan. Belajar Bahasa Inggris dan menghafal Juz 30 ditemani kucing oren bernama Mochi. Cerita keluarga PNS yang penuh komedi dan nilai agama.


Pagi di kantor pemerintahan Barabai tempat Hifni bekerja terasa lebih sibuk dari biasanya. Ada audit rutin yang membuat Hifni harus berkutat dengan ribuan baris data di layar komputer. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali ia teringat pesan WhatsApp dari Rina: "Bah, jangan lupa jam 7 malam ini kita ke rumah Nurul. Khalisah sudah dandan cantik, dia bilang mau pamer kalung baru Mochi ke Husna."

Hifni tersenyum tipis. Ia melirik jam tangan. Sebagai abdi negara lulusan 2013, ia sangat menghargai integritas waktu, baik di kantor maupun untuk janji keluarga.

Di tempat lain, Rina Rufida sedang memberikan materi Adjectives di kelasnya. "Anak-anak, apa bahasa Inggrisnya 'pintar'?"

"Smart, Ma'am!" jawab murid-murid serempak.

"Kalau 'saleh'?"

"Pious!"

Rina tersenyum. Di kepalanya, ia membayangkan Khalisah. Putrinya itu adalah perpaduan antara smart dan usaha menuju pious. Ia bersyukur memiliki suami seperti Hifni yang meski sibuk dengan urusan birokrasi, tetap teguh menjaga sisi spiritual keluarga mereka.

Malam tiba. Udara Barabai yang sejuk setelah hujan membuat suasana sangat pas untuk berkumpul. Keluarga Hifni tiba di rumah Nurul Inayah yang asri. Dan benar saja, Khalisah tidak datang sendirian. Di dalam tas gendong khusus kucing yang memiliki jendela transparan seperti astronot, Mochi duduk dengan angkuh. Kalung emas pemberian Hifni berkilau di lehernya, lengkap dengan lonceng yang berbunyi kring-kring setiap kali Mochi menguap.

"Assalamu'alaikum, Aunty Nurul! Look at my cat! Mochi sekarang punya jewelry!" seru Khalisah saat pintu dibuka.

Nurul tertawa lebar menyambut sahabat lamanya. "Wa'alaikumussalam. Ya Allah, Hifni, Rina, ini mau reuni atau mau pameran kucing?"

Di dalam rumah, Husna sudah menunggu. Berbeda dengan Khalisah yang enerjik, Husna tampak anggun dengan jilbab instan berwarna merah muda. Namun, begitu melihat Mochi, sisi kekanak-kanakan Husna muncul.

"Wah, kucingnya besar sekali!" Husna mendekat dengan ragu.

"Dia baik kok, Husna. Namanya Mochi. Dia asisten hafalanku," jelas Khalisah bangga.

Sambil menunggu hidangan makan malam—masakan khas Barabai seperti Gangan Asam dan Ikan Patin Bakar—Hifni, Rina, dan Nurul duduk di ruang tamu. Mereka mulai bernostalgia tentang masa SMA tahun 2013.

"Ingat nggak dulu pas pengumuman kelulusan?" tanya Nurul sambil menuangkan teh. "Kita semua nangis di lapangan sekolah, takut nggak bisa kerja. Sekarang, lihat kita. Hifni jadi abdi negara, kamu Rin jadi guru, dan aku di sini mendidik anak-anak."

"Waktu cepat sekali berlalu, ya," sahut Hifni. "Dulu kita cuma mikir gimana caranya lulus UN. Sekarang kita mikir gimana caranya anak-anak kita lulus 'ujian' dunia akhirat."

Tiba-tiba, dari arah ruang tengah terdengar suara riuh. Rupanya, Khalisah dan Husna sedang melakukan "Battle Hafalan".

"Husna, ayo kita tebak-tebakan ayat! Game on!" tantang Khalisah.

Husna mengangguk setuju. "Boleh. Husna duluan ya. Wali-ya-din... surah apa?"

"Al-Kafirun! Easy!" jawab Khalisah cepat. "Sekarang aku. Fasalli lirabbika wanhar..."

"Al-Kautsar!" jawab Husna tak mau kalah.

Pertarungan berlanjut hingga ke surah-surah yang lebih panjang di Juz 30. Yang membuat suasana menjadi komedi adalah Mochi. Setiap kali Khalisah berhasil menjawab benar, Mochi seolah-olah ikut merayakan dengan menggoyangkan kepalanya sehingga lonceng di lehernya berbunyi kring-kring-kring.

"Lihat! Mochi kasih skor buat aku!" teriak Khalisah kegirangan.

Namun, drama terjadi saat masuk ke Surah Al-Adiyat. Khalisah sedikit tersendat di ayat pertengahan. Ia mulai mencampuradukkan kata dalam bahasa Arab dengan gumaman bahasa Inggris. "Fal-mūriyāti qadhā... then... and then..."

Husna dengan sabar membisikkan, "Fal-mughīrāti sub-hā..."

Khalisah menepuk jidatnya. "Oh! I forgot! Maaf ya Husna, tadi otaknya lagi loading."

Melihat itu, Nurul memberikan nasihat lembut. "Khalisah, Husna... menghafal itu bukan soal siapa yang paling cepat. Tapi siapa yang paling sering mengulang. Seperti Mochi, kalau dia mau makan, dia pasti mengeong terus kan sampai dikasih? Hafalan juga gitu, harus sering 'dipanggil' supaya nggak hilang."

Hifni mendekat dan duduk di antara kedua bocah itu. "Nah, karena hari ini kalian berdua hebat, Abah punya kejutan lagi. Besok hari Minggu, kita semua pergi ke Waterboom di dekat sini. Kita main air sepuasnya!"

"Yeeeaaay!" kedua bocah itu melompat senang. Bahkan Mochi ikut melompat dari kursi, membuat loncengnya berbunyi gaduh.

Malam itu, di rumah Nurul, dua keluarga lulusan 2013 itu menyadari satu hal. Pendidikan terbaik bagi anak bukan hanya tentang sekolah yang mahal atau guru yang hebat, tapi tentang lingkungan yang mendukung dan sahabat yang saling menguatkan dalam kebaikan. Di bawah langit Barabai, mereka merajut mimpi—satu ayat, satu kata bahasa Inggris, dan satu bunyi lonceng kucing pada satu waktu.

Target Snippet: Bagaimana cara mengajar anak menghafal Al-Qur'an tanpa paksaan? Gunakan metode reward (hadiah) dan lingkungan sosial yang suportif seperti kisah Khalisah di Barabai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default