Kabut tebal nan pekat menyelimuti Sungai Thames pada musim dingin tahun 1000 M. Di lorong-lorong sempit Kota Tua London yang berlumpur, riuh suara tapak kuda bangsawan bercampur dengan aroma amis besi tua dari pelabuhan perdagangan. London di era ini adalah labirin batu yang dingin, tempat takhta besi bergesekan dengan kemiskinan yang ekstrem. Namun, di balik dinding-dinding kastil batu yang kokoh, ada rahasia yang lebih besar dari sekadar politik kerajaan. Dunia ini digerakkan oleh Aether—energi spiritual murni yang mengalir di dalam pembuluh darah bumi Eropa, sangat mirip dengan energi kehidupan atau chakra yang dikuasai oleh para ninja di negeri timur jauh.
Siapa pun yang bisa memanipulasi Aether akan menjelma menjadi ksatria bayangan atau penyihir perang yang ditakuti. Mereka mengalirkan energi tersebut ke dalam pedang, merapalkan segel mantra, atau mengubahnya menjadi elemen alam yang mematikan.
Di atas atap kayu sebuah kedai minuman tua yang reyot, seorang pemuda berusia enam belas tahun berdiri tegak. Jubah hitamnya yang compang-camping berkibar hebat ditiup angin utara yang menusuk tulang. Namanya Lev Ryley. Pemuda itu memiliki rambut hitam acak-acakan yang menutupi sebagian dahinya, dengan sepasang mata tajam berwarna abu-abu baja. Wajahnya tenang, namun rahangnya mengeras saat mendengar langkah kaki yang beritme cepat di bawah sana.
"Mereka mengepungmu lagi, Lev. Kau benar-benar magnet masalah di kota tua ini," sebuah suara feminin yang tegas namun tenang terdengar dari bayang-bayang lorong di bawah atap.
Seorang wanita dengan mantel tebal khas tabib bergaya Eropa Klasik berjalan keluar. Rambut pirangnya diikat rapi ke belakang, dan sebuah tas kulit berisi peralatan medis melingkar di bahunya. Dia adalah Dokter Cindy. Di tengah kota London yang kejam, di mana anak-anak yatim piatu dengan bakat Aether liar biasanya ditangkap dan dijadikan senjata hidup, Dokter Cindy adalah satu-satunya orang dewasa yang sudi menyembunyikan Lev. Lebih dari sekadar tabib, Dokter Cindy adalah seorang ahli anatomi magis yang menguasai teknik penyembuhan terlarang melalui manipulasi Aether medis pada titik-titik saraf tubuh—sebuah kemampuan yang membuatnya dihormati sekaligus ditakuti di dunia bawah tanah London.
"Biar saja, Dok. Mereka hanya tikus-tikus Menara London yang kekurangan pekerjaan malam ini," jawab Lev sambil menyeringai tipis.
Tangan kanannya bergerak ke balik jubah, mencabut sebilah belati besi tua yang tampak berkarat. Namun, begitu jemarinya menggenggam gagang senjata itu, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah berat. Dari sela-sela jari Lev, percikan listrik berwarna hitam pekat mulai berderik dan mengeluarkan suara bising seperti kepakan sayap ribuan burung gagak. Itu bukan sihir elemen petir biasa. Itu adalah manifestasi dari Aether hitam—sebuah energi pekat yang lahir dari kutukan kuno di dalam tubuhnya.
Serangan Ksatria Bayangan Menara London
Srak! Srak! Srak!
Tiga bayangan melompat dari balik tebalnya kabut London, mendarat dengan mulus di atas struktur atap yang berdekatan. Mereka mengenakan zirah rantai perak yang dilapisi jubah putih dengan lambang mawar besi—simbol dari Ksatria Bayangan Menara London, pasukan elit bentukan ordo penguasa.
"Lev Ryley! Pelarian bernomor sandi Nol!" teriak sang pemimpin ksatria, suaranya menggema di antara dinding-dinding gang yang sempit. "Kau telah melanggar hukum ordo dengan menggunakan Aether liar tanpa izin kerajaan. Serahkan dirimu sekarang, atau kami dieksekusi di tempat atas perintah Ordo Mawar Besi!"
Lev tidak berkedip. Ingatannya berputar pada malam sepuluh tahun lalu, saat sebuah ritual terlarang memaksa entitas monster kuno bernama Iron Fenrir—Serigala Besi pembawa bencana—disegel ke dalam jantungnya. Sejak hari itu, hidupnya adalah pelarian.
"Jika kalian ingin menyeretku kembali ke ruang bawah tanah sialan itu, kalian harus membawa mayatku!" seru Lev.
Tangan kiri Lev bergerak cepat, membentuk satu segel tangan horizontal—sebuah metode kuno untuk memfokuskan aliran energi spiritual di dalam tubuhnya.
"Aether Style: Langkah Petir Hitam!"
Blarrr!
Ledakan listrik hitam terjadi di atas atap. Tubuh Lev menghilang dalam sekejap mata, menyisakan kepulan asap tipis dan jejak kayu yang hangus terbakar. Kecepatan itu begitu luar biasa, mengaburkan pandangan mata manusia biasa.
"Sial, dia cepat sekali! Jaga formasi!" teriak salah satu ksatria bintara.
Namun, peringatan itu terlambat. Detik berikutnya, Lev sudah muncul tepat di belakang salah satu ksatria. Belati besinya yang diselimuti petir hitam bergesekan keras dengan zirah rantai musuh. Percikan api menyala terang di tengah kegelapan malam, diikuti raungan kesakitan saat energi listrik hitam itu menembus lapisan besi dan melumpuhkan sistem saraf sang ksatria dalam sekali tebas.
Bugh! Ksatria pertama tumbang ke jalanan berlumpur di bawah.
Melihat rekannya jatuh, sang pemimpin ksatria geram. Dia menghunuskan pedang panjangnya tinggi-tinggi. Bilah bajanya mendadak bersinar dengan warna hijau neon—Aether elemen angin. Dengan satu tebasan vertikal yang kuat, dia melepaskan gelombang tekanan udara tajam yang mampu membelah batu.
Wusss!
Lev yang masih berada di udara terkejut. Dia menyilangkan kedua lengannya untuk bertahan. Benturan energi angin itu begitu masif, menghempaskan tubuh remaja itu hingga terjatuh keras di atas tanah berlumpur, tepat beberapa meter di depan Dokter Cindy.
"Uhuk...!" Lev terbatuk, merasakan darah segar mengalir di sudut bibirnya. Energi angin musuh berhasil mengoyak jubahnya dan menyisakan luka sayatan di dadanya.
"Kekuatanmu belum matang, anak haram! Monster di dalam tubuhmu tidak akan bisa menyelamatkanmu malam ini!" Sang pemimpin ksatria melompat turun dari atap, mengarahkan ujung pedang hijaunya langsung ke dada Lev yang terdesak di tanah.
Badai Es dari Manchester
"Jangan sentuh dia dengan tangan kotor kalian!"
Sebuah teriakan dingin, jernih, dan penuh penekanan memotong kesunyian malam di pinggiran Sungai Thames.
Dari arah kegelapan lorong timur, sesosok bayangan melesat dengan keanggunan seorang penari namun membawa intensitas pembunuh. Sebilah pedang tipis berjenis rapier terhunus ke depan. Detik ketika gadis itu melangkah, uap dingin mendadak keluar dari setiap embusan napasnya. Lantai tanah London yang berlumpur dan basah seketika membeku menjadi lapisan es kristal yang berkilauan di bawah temaram cahaya obor jalanan.
Clanggg!
Ujung pedang panjang sang ksatria terhenti secara absolut. Bukan oleh pedang lain, melainkan oleh dinding es setebal satu jengkal yang mendadak mencuat dari dalam tanah, membentengi tubuh Lev.
Di atas dinding es yang kokoh itu, berdiri seorang gadis berusia seumuran Lev. Dia mengenakan gaun wol biru tua yang dilapisi pelindung dada dari perak ringan berpola ukiran bunga es khas kerajaan utara. Rambut peraknya yang panjang berkilau indah, kontras dengan kabut London yang kelabu. Sepasang mata birunya menatap tajam, sedingin badai musim dingin di dataran tinggi.
Dia adalah Anatasya. Gadis bangsawan pelarian dari wilayah Eropa Timur yang membawa rahasia besar, dan baru saja tiba di London setelah menempuh perjalanan rahasia dari kota industri Manchester.
"Siapa kau?! Berani sekali mencampuri urusan otoritas Menara London!" bentak pemimpin ksatria, melangkah mundur sambil menggosok tangannya yang gemetar hebat akibat hawa dingin ekstrem yang menjalar dari dinding es tersebut.
"Hanya seseorang yang muak melihat anjing-anjing kerajaan menindas orang lain," jawab Anatasya datar tanpa ekspresi.
Tangan kirinya yang bebas tidak tinggal diam. Jarinya membentuk segel silang yang rumit, memicu sirkulasi energi Aether es di sekitarnya. Udara malam yang dingin mendadak terasa semakin mencekik. Di sekeliling tubuh Anatasya, puluhan jarum es tajam berukuran besar mulai terbentuk dari kelembapan udara, melayang dan mengarah langsung pada dua ksatria yang tersisa.
Dokter Cindy yang sejak tadi memperhatikan dari sudut gelap hanya menghela napas panjang. Dia memasukkan kembali jarum-jarum medis bertenaga Aether yang sempat disiapkannya di sela-sela jari ke dalam sakunya. "Anak-anak zaman sekarang... selalu saja membuat keributan yang merepotkan," gumam sang dokter dengan senyuman misterius.
Pertempuran di sudut Kota Tua London malam itu bukanlah akhir, melainkan sumbu pertama dari bom waktu yang siap meledak. Konflik ini akan membawa mereka menjelajahi distrik pandai besi Manchester yang membara, menyeberangi sisa-sisa kemegahan Romawi, hingga ke ujung Eropa.
Dan di dalam dada Lev Ryley, detak jantungnya berpacu aneh. Segel rantai magis yang mengikat jiwa Iron Fenrir di dalam dirinya baru saja retak seancik. Sepasang mata serigala berwarna merah darah di alam bawah sadarnya perlahan mulai terbuka.
(Bersambung ke Bab 2...)
