Suasana di Masjid Raya At-Taqwa Amuntai sore itu terasa begitu teduh. Sinar matahari yang mulai meredup memantul di kubah masjid, sementara semilir angin dari arah sungai membawa kesejukan bagi jamaah wanita yang baru saja menyelesaikan shalat Ashar berjamaah. Hari ini adalah jadwal pengajian rutin warga Jalan Melati, dan yang bertindak sebagai pengisi kultum (kuliah tujuh menit) adalah dr. Eva Nurhaliza.
Di barisan depan, dr. Dina duduk bersimpuh dengan mukena bermotif bunga-bunga yang cerah, kontras dengan mukena putih bersih milik Eva yang tampak sangat bersahaja. Dina tampak gelisah, ia tahu jika Eva yang memegang mikrofon, maka "target" utamanya biasanya adalah gaya hidup jamaah yang masih gemar mengonsumsi gorengan di pasar Sabtu.
"Ibu-ibu yang dirahmati Allah," buka dr. Eva dengan suara lembut namun berwibawa, gema suaranya memantul di langit-langit masjid yang tinggi. "Dalam Surah Al-Baqarah ayat 168, Allah berpesan kepada kita semua: 'Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik (thayyiban) yang terdapat di bumi...'. Seringkali kita hanya fokus pada kata 'Halal', tapi kita lupa pada kata 'Thayyib'. Thayyib berarti baik bagi tubuh, memberikan kekuatan untuk beribadah, bukan justru mengundang penyakit."
Eva kemudian mulai membedah fenomena kuliner di Amuntai dengan kacamata medis dan spiritual. Ia menjelaskan bahwa tubuh seorang Muslim adalah amanah. Jantung yang berdetak tanpa lelah, ginjal yang menyaring racun, hingga pembuluh darah yang mengalirkan nutrisi, semuanya adalah titipan Allah yang akan dimintai pertanggungjawabannya.
"Bayangkan Ibu-ibu, bagaimana kita bisa khusyuk bertahajud jika kaki kita bengkak karena asam urat? Bagaimana kita bisa lancar membaca Al-Qur'an jika mata kita kabur karena komplikasi gula darah?" lanjut Eva. Ia kemudian menoleh sedikit ke arah Dina yang sedang berusaha menyembunyikan sebungkus kecil kerupuk haruan di balik mukenanya.
"Kesehatan bukan tujuan akhir, tapi sarana agar kita bisa lebih lama mengabdi kepada-Nya."
Jamaah terdiam. Beberapa ibu tampak mengangguk-angguk kecil, sementara yang lain mulai melirik teman di sebelahnya sambil berbisik tentang nasib stok santan di dapur mereka. Dina, yang merasa tersindir namun tetap ingin membela diri, akhirnya mengangkat tangan saat sesi tanya jawab dibuka.
"Interupsi, Bu Dokter Eva yang shalihah," ujar Dina dengan nada bercanda yang langsung mencairkan suasana. "Tadi disebutkan soal makanan yang 'thayyib'. Nah, di Amuntai ini kan terkenal dengan Itik Panggang dan Cempedak Goreng yang rasanya sangat membahagiakan hati. Bukankah membahagiakan hati juga bagian dari ibadah? Kalau kita makan rebusan terus tapi hati kita merana, apakah itu tetap bisa disebut thayyib?"
Tawa pecah di dalam masjid. Pertanyaan Dina mewakili isi hati mayoritas jamaah. Eva tersenyum, ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul dari sahabatnya itu.
"Pertanyaan yang bagus sekali, dr. Dina," jawab Eva tenang. "Islam adalah agama wasathiyah, agama jalan tengah. Kita tidak dilarang makan enak, tapi kita dilarang berlebih-lebihan (israf). Masalahnya, standar 'bahagia' kita seringkali berlebihan pada lemak dan gula. Kita bisa tetap makan enak dengan cara memodifikasi resep, mengurangi porsi, dan tetap bergerak aktif. Intinya, jangan sampai makanan yang hanya lewat di lidah selama lima detik, memberikan beban pada jantung kita selama puluhan tahun."
Kultum sore itu ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Eva, memohon agar mereka diberikan kekuatan untuk menjaga kesehatan fisik sebagai modal kesehatan iman. Saat keluar dari masjid, suasana yang tadinya serius berubah menjadi komedi kembali. Ibu-ibu yang tadinya berencana mampir ke warung pentol depan masjid, tiba-tiba mengurungkan niatnya setelah melihat "tatapan edukatif" dari dr. Eva di gerbang.
"Aduh, dr. Eva, gara-gara ceramah tadi, saya jadi merasa berdosa kalau melihat gorengan," keluh Ibu RT sambil tertawa.
Dina merangkul Eva sambil berjalan menuju mobil. "Va, ceramahmu sukses besar. Tapi jujur ya, setelah dengar soal 'amanah tubuh' tadi, aku jadi kepikiran untuk mengurangi pesanan fast food-ku minggu ini. Tapi ingat ya, cuma dikurangi, bukan dihilangkan total!"
Eva tertawa renyah. "Itu kemajuan besar, Din. Mari kita mulai dengan jalan santai sepulang dari sini."
Sore itu di Amuntai, nilai-nilai Islami dan kesadaran kesehatan berpadu harmonis. Kehidupan bermasyarakat di Jalan Melati bukan hanya soal berkumpul, tapi juga soal saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang sejuk dan penuh humor.
Tips Sehat 2025:
Konsep Halalan Thayyiban di tahun 2025 menjadi tren gaya hidup global yang dikenal dengan Ethical and Healthy Eating. Menurut informasi dari LPPOM MUI, produk halal kini tidak hanya tentang aspek ritual, tapi juga standar keamanan dan kesehatan pangan. Bagi Anda yang ingin menerapkan kultum dr. Eva dalam kehidupan sehari-hari, mulailah dengan memantau asupan harian melalui pedoman Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk memastikan tubuh tetap prima menjalankan ibadah. Ingat, menjaga kesehatan adalah bentuk syukur nyata kepada Sang Pencipta.
