Waktu berlalu dengan cepat di rumah keluarga Ryley. Tiba-tiba saja, suasana kota Banjarmasin mulai dihiasi dengan gema takbir. Hari Raya Idul Adha telah tiba. Momen ini menjadi pengalaman spiritual yang mendalam bagi Aisha Kim, yang merayakan Idul Adha pertamanya di negara mayoritas Muslim.
Di Korea Selatan, perayaan Idul Adha biasanya dilakukan secara sederhana di pusat komunitas Muslim Seoul, dengan jumlah hewan kurban yang terbatas. Di Banjarmasin, suasananya jauh lebih meriah dan terasa hingga ke pelosok komplek.
Pagi itu, seluruh keluarga Ryley sudah rapi dengan pakaian terbaik mereka. Aisha mengenakan gamis putih bersih, kontras dengan kulitnya yang putih. Ia terlihat anggun dan bersahaja. Mereka sekeluarga berangkat menuju Masjid Raya Sabilal Muhtadin, masjid terbesar dan termegah di Banjarmasin yang terletak di tepi Sungai Martapura.
Ribuan jamaah memadati area masjid hingga ke halaman dan jalan raya. Aisha terpesona melihat lautan manusia yang bersujud bersama, mengagungkan nama Allah SWT. Suasana khusyuk dan haru terasa kental.
"Masya Allah, ramai sekali, Anin. Suasananya luar biasa," bisik Aisha kepada Anindya, yang duduk di sebelahnya di shaf wanita.
Setelah salat Idul Adha selesai, Anindya dan Aisha berpelukan, saling mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum.
Usai salat, mereka tidak langsung pulang. Mereka menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurban di area belakang masjid. Puluhan sapi dan kambing telah disiapkan. Aisha, yang seorang chef dan sangat memahami proses penyediaan daging, mengamati proses penyembelihan yang dilakukan sesuai syariat Islam dengan penuh perhatian.
"Prosesnya sangat higienis dan cepat. Ini menunjukkan betapa seriusnya umat Islam di sini dalam menjalankan ibadah kurban," komentar Aisha, terkesan.
Lev Ryley, si ayah humoris, ternyata ikut menjadi panitia kurban dadakan di komplek mereka. Sore harinya, saat daging kurban sudah didistribusikan, keluarga Ryley sibuk di dapur. Anindya berencana membuat menu khas Idul Adha: Gulai Kambing dan Sate Sapi ala Banjar.
Aisha menawarkan bantuan, mengenakan apronnya lagi. "Aku bisa bantu potong-potong dagingnya, Anin. Biar cepat," ujarnya, menunjukkan keahlian chef-nya dalam mengolah daging.
Di dapur, Aisha berbagi cerita tentang makna Idul Adha dari sudut pandangnya sebagai mualaf. "Di Korea, konsep pengorbanan Nabi Ibrahim ini mengajarkan saya tentang keikhlasan yang luar biasa. Melepaskan sesuatu yang paling kita sayangi demi perintah Allah. Itu mengubah perspektif hidup saya," cerita Aisha, sambil memotong daging dengan cekatan.
Anindya mendengarkan dengan saksama. "Betul, Aisha. Dan hikmahnya juga tentang berbagi. Melihat daging kurban dibagikan ke masyarakat, tidak peduli status sosialnya, semua bisa makan enak di hari raya," tambah Anindya.
Malam harinya, keluarga Ryley mengadakan acara bakar sate di halaman belakang, di samping instalasi hidroponik baru mereka. Aroma sate yang dibakar di atas bara api, bercampur dengan bumbu kacang dan kecap manis, menguar ke seluruh komplek. Ghina dan Rayyan sibuk membantu Ayahnya mengipasi sate.
Lev Ryley, yang sudah mandi bersih setelah seharian jadi panitia, bercanda. "Ini sate kurban rasa Seoul nih, karena yang motong dagingnya chef dari Korea!"
Aisha tertawa. Mereka makan malam bersama di bawah langit malam Banjarmasin yang bertabur bintang. Maryam Safiya, si pendiam, menyumbangkan lagu Islami dengan suara lembutnya, membuat suasana semakin syahdu.
Malam Idul Adha itu menjadi momen refleksi bagi Aisha. Di tengah keluarga baru ini, jauh dari tanah kelahirannya, ia menemukan makna sejati dari pengorbanan, kebersamaan, dan indahnya persaudaraan Islam yang mampu melampaui batas geografis dan budaya. Ia merasa lengkap.
