Bab 12: Nilai Kesabaran dalam Iwak Pakasam

Bab 12: Nilai Kesabaran dalam Iwak Pakasam

Lev
0

Zaki berangsur pulih. Kehidupan keluarga Rahmat kembali normal, meskipun sedikit lebih waspada terhadap kesehatan. Ibu Salma, dalam upaya menjaga tradisi lokal dan memperkenalkan nilai-nilai sabar kepada anak-anaknya, memutuskan untuk membuat Iwak Pakasam.

Iwak Pakasam adalah makanan fermentasi khas Banjar, terbuat dari ikan air tawar (biasanya ikan sepat atau papuyu) yang dilumuri garam, dicampur dengan beras yang sudah disangrai dan ditumbuk, lalu didiamkan selama beberapa hari hingga seminggu penuh. Prosesnya memakan waktu, dan hasilnya adalah lauk dengan aroma kuat yang khas, rasa asam, dan gurih, yang biasanya digoreng atau ditumis saat disajikan.

"Hari ini kita akan belajar sabar," umum Ibu Salma di dapur, mengeluarkan baskom dan ikan sepat segar.

"Belajar sabar kok sama ikan busuk, Bu?" celetuk Aisyah, yang sedikit ngeri dengan aroma ikan mentah yang akan difermentasi.

Ibu Salma tertawa. "Ini bukan busuk, Aisyah. Ini proses fermentasi alami. Ikan Pakasam ini salah satu makanan yang paling banyak mengandung filosofi hidup."

Sarah dan Zaki mendekat, penasaran. Ayah Rahmat yang sedang membaca koran di ruang tengah, ikut berjalan ke dapur.

Ibu Salma mulai membersihkan ikan, melumurinya dengan garam, dan mencampurkan sosohan (beras sangrai tumbuk). Dia menjelaskan setiap langkahnya dengan sabar.

"Proses ini mengajarkan kita bahwa sesuatu yang baik itu butuh waktu. Enggak bisa instan kayak mi Bangladesh atau Dubai Chocolate," kata Ibu Salma, melirik Ayah Rahmat yang langsung salah tingkah.

Ayah Rahmat nyengir. "Betul, betul. Ayah sudah insaf soal ide instan."

Mereka memasukkan campuran ikan ke dalam wadah tertutup rapat, lalu menyimpannya di tempat yang sejuk dan gelap. Proses penantian pun dimulai. Setiap hari, Zaki selalu mengecek wadah itu, membuat semua orang geli dengan kepolosannya.

"Sudah jadi belum, Bu? Kok baunya mulai kecium ya?" Zaki bertanya setiap sore.

"Sabar, Nak, sabar. Semuanya ada waktunya," jawab Ibu Salma sambil tersenyum.

Selama masa penantian itu, keluarga Rahmat disibukkan dengan kegiatan lain. Sarah dan Aisyah mengurus pesanan Dubai Chocolate mereka, Ayah Rahmat kembali fokus dengan pekerjaannya, dan rutinitas berjalan seperti biasa. Setiap kali mereka merasa tidak sabar menunggu sesuatu, entah itu pesanan datang atau pengiriman paket, Ibu Salma selalu mengingatkan tentang Iwak Pakasam yang sedang berproses.

"Sama kayak Pakasam kita, Nak. Semakin sabar kita nunggu, semakin nikmat hasilnya nanti," ujarnya.

Akhirnya, setelah seminggu berlalu, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Ibu Salma mengeluarkan wadah Pakasam. Aromanya memang kuat, khas fermentasi. Aisyah langsung menutup hidung, sementara yang lain penasaran.

Ibu Salma menggoreng Iwak Pakasam itu. Saat digoreng, aromanya berubah menjadi harum yang menggugah selera bagi pecinta kuliner Banjar. Disajikan dengan nasi putih panas, sambal terasi, dan irisan mentimun segar, Iwak Pakasam itu terlihat sangat menggiurkan.

Saat makan siang, semua mencicipinya. Mata Ayah Rahmat langsung berbinar.

"Wah, ini baru nikmat dunia! Asamnya pas, gurihnya dapet, teksturnya kenyal-kenyal empuk!" seru Ayah Rahmat.
Aisyah yang tadinya ngeri, mencoba sedikit. "Hmm, ternyata enak juga ya. Baunya doang yang serem."

Sarah mengangguk setuju. "Iya, Bu, rasanya otentik banget."

Melalui proses pembuatan Iwak Pakasam, keluarga Rahmat belajar bahwa kesabaran adalah kunci untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Sesuatu yang terlihat biasa di awal proses, bisa menjadi luar biasa nikmat jika dikerjakan dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Nilai ini semakin menguatkan pondasi keluarga mereka dalam menghadapi segala tantangan hidup.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default