Musim panas tiba, dan bagi keluarga Al-Fassi, itu berarti hanya satu hal: melarikan diri dari panasnya Casablanca menuju ibu kota mode dan kemewahan Eropa. Destinasi mereka, seperti biasa, adalah Paris, Prancis.
Perjalanan mereka dimulai bukan dari Terminal Internasional biasa di Bandara Mohammed V, tetapi dari terminal pribadi eksklusif. Dassault Falcon 8X, jet pribadi milik keluarga Al-Fassi, sudah menunggu di landasan. Pesawat itu ramping, elegan, dan di dalamnya, kru kabin siap melayani setiap keinginan mereka.
Laila duduk di salah satu kursi kulit putih yang nyaman, menyesap sampanye non-alkohol dari gelas kristal. Dia mengenakan kemeja sutra Celine dan celana panjang Max Mara, dengan syal sutra Hermès di lehernya. "Aku tidak sabar untuk udara Paris," ujarnya kepada Zayn, yang sedang membaca laporan keuangan di laptopnya.
"Aku tidak sabar untuk pergi ke butik Hermès Faubourg Saint-Honoré," koreksi Zayn sambil tertawa. "Kamu sudah merencanakan ini sejak tiga bulan lalu."
Amira dan Sofia duduk bersama, mendiskusikan restoran mana yang akan mereka kunjungi lebih dulu. Amira sudah menyusun daftar butik vintage couture yang wajib dikunjungi. Tariq duduk di seberang mereka, memasang headphone Bose noise-cancelling dan asyik dengan game di konsol Nintendo Switch-nya. Ransel RIMOWA aluminiumnya tergeletak di samping kursinya.
Perjalanan ke Paris terasa singkat dan nyaman. Saat mendarat di Bandara Le Bourget, bandara khusus jet pribadi, sebuah Mercedes-Benz S-Class hitam sudah menunggu mereka di apron, siap mengantar mereka ke hotel langganan mereka: Ritz Paris di Place Vendôme.
Suite keluarga di Ritz luar biasa mewah, dengan pemandangan taman pribadi dan service pelayan pribadi 24 jam. Koper-koper Louis Vuitton Horizon dan Globe-Trotter mereka segera dibawa ke kamar.
Setelah check-in, mereka tidak membuang waktu. Laila, Amira, dan Sofia langsung bersiap untuk misi pertama mereka: berbelanja di Golden Triangle Paris (segitiga emas butik mewah yang terdiri dari Avenue Montaigne, Rue François 1er, dan Rue George V).
Zayn memiliki rencana sendiri. Dia dan Tariq akan pergi ke Place Vendôme untuk urusan jam tangan dan perhiasan, dan kemudian Tariq akan berburu sneakers di area Marais.
"Umi, aku butuh tas baru. Yang Chanel 2.55 hitamku yang klasik rasanya sudah terlalu sering kulihat," kata Amira kepada Laila saat mereka berjalan kaki menyusuri Rue Cambon.
"Kita lihat dulu koleksi barunya. Mungkin ada warna lain yang menarik. Atau mungkin kita coba lihat koleksi Dior terbaru di Avenue Montaigne," saran Laila, matanya berbinar penuh antisipasi.
Paris menyambut mereka dengan cuaca musim panas yang sempurna. Jalanan dipenuhi orang-orang stylish, dan butik-butik mewah memanggil-manggil dengan jendela display yang memukau.
Bagi keluarga Al-Fassi, Paris bukan sekadar kota liburan. Paris adalah kiblat mode, tempat di mana keinginan mereka akan barang-barang mewah bisa terpenuhi di sumbernya. Mereka siap untuk memanjakan diri dalam beberapa hari ke depan, tenggelam dalam dunia haute couture dan barang-barang eksklusif. Perburuan kemewahan di ibu kota mode baru saja dimulai.
