Bab 14: Pascaperang dan Konsekuensi Media

Bab 14: Pascaperang dan Konsekuensi Media

Lev
0
Setelah pertempuran usai, Tahura Sultan Adam bagaikan zona perang. Pohon-pohon tumbang, area piknik hancur, dan yang paling mencolok, ada bekas hangus besar di punggung patung dinosaurus di area bermain anak-anak (yang entah kenapa diserang Rimba saat chaos tadi). Pengunjung yang panik sudah dievakuasi oleh petugas taman.

Profesor Rahmat dengan cepat mengambil alih situasi. "Kalian sembunyikan semua kartu summon dan artefak kalian. Serahkan sisanya padaku."

Mereka mengangguk patuh. Lev memasukkan kartu Rank S Stegosaurus barunya ke dalam dompetnya dengan tangan gemetar.

Profesor Rahmat mulai berbicara dengan petugas keamanan dan media lokal yang sudah berdatangan. "Ini adalah insiden alam liar yang tragis," jelas Profesor dengan tenang. "Sekelompok hewan liar, kemungkinan besar babi hutan dan biawak besar yang sedang berebut wilayah, membuat kekacauan. Kami dari pihak kampus sedang melakukan penelitian ekosistem dan berusaha membantu menenangkan situasi."

Para wartawan dan kameramen tampak ragu, tapi aura Profesor Rahmat yang berwibawa dan ketiadaan bukti fisik summoner atau dinosaurus purba di lokasi (kecuali bekas kerusakan) membuat mereka percaya. Mereka mulai mengambil gambar kerusakan dan mewawancarai pengunjung yang masih trauma.

Lev, Vania, dan Anatasya menyelinap pergi di tengah keramaian media. Mereka naik mobil sewaan mereka dan kembali ke Banjarmasin. Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa aneh.

"Kita... kita baru aja ngelawan dinosaurus purba," gumam Vania, menatap tangannya yang masih memerah bekas pukulan ke Agen Beta.

"Dan kita menang," tambah Anatasya, liontinnya terasa hangat di dadanya. "Prof. Rahmat memang luar biasa."

Lev hanya diam, memegang dompetnya. Di dalamnya ada Rank S. Perasaan campur aduk: bangga, takut, dan bingung.

Setibanya di Banjarmasin, mereka mampir ke warung makan di pinggir jalan untuk menenangkan diri dengan semangkuk soto Banjar hangat. Saat sedang makan, berita di TV warung sedang menayangkan liputan tentang insiden Tahura Sultan Adam.

"Insiden Misterius Guncang Tahura Sultan Adam: Diduga Serangan Hewan Liar Skala Besar"

Wartawan di TV melaporkan kerusakan dan kepanikan warga, tapi tidak ada satu pun yang menyebut soal dinosaurus atau summoner. Mereka hanya fokus pada teori serangan babi hutan yang mengamuk.

Vania tertawa kecil. "Pemerintah tutup mulut, atau emang nggak ada yang percaya sama dinosaurus?"

"Profesor pasti sudah mengurusnya," kata Anatasya. "Dunia summoner ini rahasia, Van. Orang biasa nggak boleh tahu."

"Jadi kita harus hidup kayak gini terus?" tanya Lev, "Punya kekuatan super, tapi nggak boleh ada yang tahu?"

"Itulah slice of life kita sekarang, Lev," Vania menyeringai. "Penuh rahasia, komedi, dan pertarungan dadakan."

Tiba-tiba, ponsel Vania berdering nyaring. Nama "Ibu Negara" muncul di layar.

"Mampus," bisik Vania. Ibunya pasti sudah melihat berita TV.
Vania mengangkat teleponnya dengan ragu. "Halo, Bu?"

“Vania Larasati! Kamu di mana?! Ibu lihat di TV ada kerusuhan di Mandiangin! Kamu kan di sana sama Lev dan Tasya!” suara Ibu Vania menggelegar dari telepon, membuat pengunjung warung menoleh.

"Santai, Bu! Vania baik-baik aja!" Vania mencoba menenangkan.

“Baik-baik aja gimana?! Mukamu kayak habis kena tinju! Kamu berantem sama babi hutan beneran?!”

"Nggak, Bu, tadi cuma... latihan bela diri yang intens aja!" Vania melirik Lev dan Anatasya, lalu mendelik ke arah mereka. "Iya, Bu. Aman terkendali. Ini lagi makan soto Banjar. Dah ya, Bu, sinyalnya jelek!"

Vania menutup teleponnya dengan cepat, napasnya terengah-engah.

Lev dan Anatasya menahan tawa. "Latihan bela diri yang intens sama babi hutan?" ejek Lev.

"Diam lo!" Vania melotot.

Mereka menyelesaikan makan mereka dengan tawa kecil. Meskipun ada ancaman Organisasi Genesis dan tanggung jawab besar di pundak mereka, momen-momen slice of life seperti ini membuat segalanya terasa lebih ringan.

Mereka menyadari bahwa hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Mereka adalah summoner, pelindung keseimbangan alam Kalimantan, dan anggota tim yang tidak bisa dipisahkan, siap menghadapi petualangan selanjutnya—baik itu melawan agen jahat, dinosaurus purba, atau omelan orang tua mereka sendiri. Babak baru kehidupan mereka di Banjarmasin telah dimulai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default