Udara di dermaga Kota Tua London malam itu benar-benar membeku. Puluhan jarum es raksasa yang diciptakan oleh Anatasya melayang di udara, siap menghujam dua Ksatria Bayangan yang masih bertahan. Sinar bulan yang menerobos celah kabut memantulkan cahaya perak pada ujung-ujung es yang tajam.
"Sial! Gadis ini penyihir es dari utara!" teriak ksatria kedua, langkah kakinya gemetar di atas tanah yang kini licin terlapisi es.
"Jangan mundur! Ordo tidak pernah kalah dari anak-anak haram!" Pemimpin ksatria mencoba membangkitkan kembali Aether anginnya. Namun, hawa dingin yang dipancarkan oleh Anatasya terlalu pekat, memperlambat sirkulasi energi di dalam tubuh para ksatria tersebut.
Anatasya tidak membuang waktu. Dengan satu jentikan jari, puluhan jarum es itu melesat maju seperti badai anak panah.
Wusss! Jleb! Jleb! Jleb!
Bukan untuk membunuh, jarum-jarum es itu sengaja diarahkan ke tanah di sekeliling kaki para ksatria, lalu seketika mencair dan membeku kembali dengan cepat, mengunci baju zirah dan kaki mereka ke dalam balok es setinggi lutut. Mereka terperangkap, tidak bisa bergerak sedikit pun.
"Lev, berdiri. Kita harus pergi sekarang," kata Anatasya dingin tanpa menoleh. Dia menurunkan rapier peraknya, membiarkan sisa-sisa uap es menguap dari bilah pedangnya.
Lev memegangi dadanya yang masih terasa perih akibat sayatan angin. Dia memaksakan diri untuk bangkit, bertumpu pada belati besinya. "Hei, nona perak... aku tidak meminta bantuanmu," gerutu Lev dengan napas yang masih memburu. Karakter keras kepalanya sangat mirip dengan ninja pemberontak yang enggan berutang budi.
"Jika aku tidak bergerak, kepalamu sudah menggelinding di lumpur Thames," balas Anatasya ketus.
Sebelum perdebatan mereka memanas, Dokter Cindy melangkah maju dari bayang-bayang. Wajahnya yang semula santai kini tampak serius. "Cukup omong kosongnya. Energi spiritual kalian berdua baru saja meledak di tengah malam. Pasukan pusat Menara London akan tiba dalam hitungan menit jika kita tidak segera mengaburkan jejak."
Dokter Cindy merogoh tas medis kulitnya, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna ungu pekat—sebuah ramuan alkimia penghapus aroma energi. Dia melemparkannya ke tanah, menciptakan kepulan asap tebal yang menyembunyikan keberadaan mereka dari endusan anjing-anjing pelacak bertenaga Aether.
"Ikut aku. Kita menuju pelabuhan tikus," perintah Dokter Cindy.
Misteri Gadis dari Tanah Seberang
Mereka bergerak cepat menembus labirin lorong gelap London, menghindari jalan-jalan utama yang dijaga oleh patroli berzirah. Anatasya berjalan di belakang Lev, sesekali matanya melirik ke arah punggung pemuda itu. Dia bisa merasakan sisa-sisa energi hitam yang mengerikan di dalam tubuh Lev—sebuah densitas Aether yang belum pernah dia temui, bahkan di kota industri Manchester yang dipenuhi mesin-mesin uap alkimia.
"Kau... apa yang ada di dalam tubuhmu?" tanya Anatasya memecah keheningan. "Saat kau bertarung tadi, aliran energimu terasa kotor dan merusak."
Lev mendengus, memasukkan kembali belatinya ke balik jubah. "Bukan urusanmu, Nona Manchester. Urus saja urusan esmu sendiri."
"Namaku Anatasya," potong gadis itu tegas. "Dan aku berada di London karena kota asalku sudah tidak aman lagi bagi pengguna Aether bebas."
"Sudah sampai," sela Dokter Cindy, menghentikan langkah mereka di depan sebuah gudang penyimpanan rempah-rempah yang tampak terbengkalai di tepi dermaga Sungai Thames. Bau cengkih dan lada kering yang samar tercium di udara, menyamarkan bau lumpur sungai.
Namun, begitu Dokter Cindy mendorong pintu kayu besar gudang tersebut, atmosfer di dalam ruangan terasa tidak biasa. Ada kehangatan magis yang aneh, berbeda dengan dinginnya malam London atau dinginnya es Anatasya.
Di tengah gudang yang remang-remang, diterangi oleh sebatang lilin kecil, duduk seorang gadis remaja dengan pakaian yang sangat asing bagi orang-orang Eropa abad ke-10. Dia mengenakan kain tenun bermotif rumit berwarna emas dan cokelat (jarik) yang dimodifikasi menjadi pakaian petualang ringkas, lengkap dengan pelindung lengan dari kulit. Rambut hitamnya yang panjang dikepang rapi.
Di depannya, melayang belasan lembar kertas kekuningan dengan tulisan aksara kuno yang ditulis menggunakan tinta darah ayam jantan. Kertas-kertas itu berputar pelan, membentuk formasi perlindungan (kekkai).
"Siapa di sana?" Gadis itu berdiri dengan sigap. Tangannya bergerak cepat, mengambil dua lembar kertas mantra di antara jarinya, siap dilemparkan.
"Tenang, Vania. Ini aku, Cindy," ucap sang dokter dengan suara lembut, mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa mereka bukan ancaman.
Gadis itu menurunkan tangannya. Seketika itu juga, belasan kertas yang melayang langsung jatuh dengan rapi ke dalam genggamannya seperti tumpukan kartu. Dia adalah Vania Larasati, seorang utusan rahasia dan ahli supranatural dari Kerajaan Sriwijaya di Nusantara, yang berlayar ke Eropa demi menyelidiki penyimpangan Aether global yang mengancam keseimbangan dunia Timur dan Barat.
Aliansi Tiga Elemen
"Dokter Cindy... syukurlah. Aku mengira orang-orang dari Menara London yang datang," kata Vania Larasati dengan aksen yang unik namun terdengar fasih. Matanya kemudian tertuju pada Lev dan Anatasya. "Siapa mereka?"
"Mereka adalah alasan mengapa malam ini akan menjadi sangat panjang," jawab Dokter Cindy sambil menyalakan obor dinding. "Vania, ini Lev Ryley, wadah dari kutukan kuno London. Dan ini Anatasya, pelarian dari Manchester yang menguasai seni es utara. Anak-anak, ini Vania. Dia adalah ahli segel dari tanah seberang lautan."
Lev menatap kertas-kertas mantra di tangan Vania dengan heran. "Kertas? Kau bertarung menggunakan mainan kertas seperti itu?"
Vania tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan kepercayaan diri tinggi ala petarung taktis. Tanpa peringatan, dia menjentikkan satu kertas mantra ke arah dinding batu di samping Lev.
"Juda-fuda: Peledak Api Teratai!"
Boom!
Kertas itu menempel di dinding dan meledak, menciptakan kobaran api kecil berbentuk bunga teratai yang langsung melahap kelembapan udara di sekitar mereka, namun anehnya tidak merusak struktur kayu bangunan karena kontrol energinya yang sangat presisi.
Lev terbelalak. Teknik itu tidak menggunakan Aether alam Eropa, melainkan manipulasi energi spiritual murni berbasis spiritualitas timur yang sangat efisien dan cepat, mirip dengan Explosive Tag di dunia ninja.
"Jangan meremehkan seni segel Nusantara, Anak Serigala," kata Vania tenang. "Aku datang ke benua ini karena merasakan adanya distorsi besar pada inti bumi Eropa. Dan sepertinya... distorsi itu berhubungan erat dengan apa yang tersembunyi di dalam dadamu."
Tiba-tiba, dari arah luar gudang, terdengar lolongan anjing pemburu yang melengking tinggi, diikuti suara gemerincing zirah ratusan prajurit. Ordo Mawar Besi telah mengepung pelabuhan.
"Mereka menemukan kita," Anatasya menghunuskan kembali rapier-nya, matanya berkilat siap bertarung.
Lev mengepalkan tangannya, membiarkan petir hitam kembali menyelimuti lengannya. Di dalam kepalanya, suara tawa berat yang menyeramkan milik Iron Fenrir mulai menggema, menuntut untuk dilepaskan. Pelarian mereka baru saja dimulai, dan takdir telah mengunci ketiga remaja ini dalam satu lingkaran takdir yang sama.
(Bersambung ke Bab 3...)
