Bab 4: Mahasiswi ULM vs Jetlag Toronto

Bab 4: Mahasiswi ULM vs Jetlag Toronto

Lev
0
Udara dingin sedingin es langsung menyergap wajah keluarga besar dari Banjarmasin begitu mereka melangkah keluar dari garbarata di Bandara Internasional Pearson Toronto, Kanada. Perjalanan udara selama hampir satu hari penuh sukses membuat seluruh anggota rombongan lemas akibat jetlag, kecuali satu orang: Aisyah Humaira.

"Ayo, semuanya! Langkahnya dipercepat, jangan sampai terpisah! Kita harus segera mengurus bagasi dan mencari musala atau sudut yang tenang. Waktu salat Subuh di Toronto hampir habis!" seru Aisyah dengan suara serak namun tetap tegas, matanya waspada memandangi papan penunjuk jalan berbahasa Inggris dan Prancis.

Lev berjalan paling belakang, kedua tangannya mendorong dua troli besar yang sarat dengan koper berisi gamis sasirangan milik istrinya. Wajahnya pucat, matanya merah karena tidak bisa tidur di pesawat akibat Rayyan yang terus-menerus bertanya mengapa awan di luar jendela tidak berwarna kuning.

"Kak Aisyah... Ghina lelah sekali, pusing... Netizen di TikTok pasti kasihan melihat muka kusam ulun sekarang," keluh Ghina sambil berjalan sempoyongan, memegangi lengan jaket tebalnya. Ponselnya yang biasa menyala kini mati total karena kehabisan daya.

"Sabar, Ghina. Ini ujian musafir. Ingat pahalanya besar kalau kita tetap menjaga ibadah di negeri orang," sahut Anindya Putri, mencoba memberikan semangat kepada putrinya meskipun dirinya sendiri berjalan dengan langkah yang diseret.

Setelah perjuangan panjang melewati pos pemeriksaan imigrasi Kanada yang ketat—terutama saat petugas mencurigai tumpukan kain sasirangan di dalam koper sebagai barang dagangan ilegal—mereka akhirnya berhasil mengumpulkan semua bagasi.

Aisyah langsung membuka aplikasi kompas di ponselnya untuk mencari arah kiblat. Namun, masalah muncul. Sinyal bandara yang tidak stabil membuat jarum kompas digital di layarnya berputar-putar seperti gasing.

"Aduh, bagaimana ini? Kompasnya error. Kita tidak boleh asal menghadap dinding," gumam Aisyah mulai panik, membuat jiwa organisatorisnya sedikit goyah.

Di saat darurat itulah, Maryam Safiya, si anak pendiam, maju mendekati sebuah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah landasan pacu. Ia menatap posisi matahari yang mulai terbit perlahan di balik awan tebal Toronto. Dengan tenang, Maryam mengeluarkan buku sketsa dan pensilnya, mengamati bayangan tiang lampu bandara yang jatuh di atas lantai.

"Matahari terbit di sebelah sana, Kak. Berarti arah barat ada di sebelah belakang kita, agak serong ke kanan sedikit sekitar tiga puluh derajat," ucap Maryam lembut namun penuh keyakinan. Naluri artistik dan pemahaman spasialnya yang kuat tentang pencahayaan membuatnya mampu menentukan arah tanpa bantuan teknologi.

Lev tersenyum bangga melihat kemampuan anak keduanya. "Alhamdulillah. Ayo, kita gelar sajadah lipat di sudut dekat pilar besar itu. Abah yang jadi imam."

Di bawah tatapan heran namun penuh rasa hormat dari para calon penumpang dari berbagai belahan dunia yang berlalu-lalang, keluarga dari Banjarmasin itu bersujud dengan khusyuk di atas lantai bandara Toronto. Di tengah dingin dan asingnya benua baru, mereka menemukan kehangatan iman yang menjaga hati mereka tetap teguh. Sementara itu, Rayyan sudah tertidur pulas di atas salah satu koper besar, memeluk erat bola plastik kuning kesayangannya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default