Pagi itu, udara Banjarbaru terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Lev â„›yley yang mendadak menggigil. Dengan kemeja koko yang disetrika rapi—satu-satunya upaya untuk tidak terlihat seperti pria yang baru saja hancur lebur—Lev memacu motornya menuju rumah Alya.
Sepanjang jalan, ia berpapasan dengan rombongan santri yang hendak menuju Pondok Pesantren di Martapura. Ia teringat Sarah. Harusnya aku mendengarkan nasehat Fikri, batinnya menyesal.
Sesampainya di depan pagar rumah Alya, nyali Lev menciut. Di sana terparkir sebuah mobil SUV hitam dengan stiker kesatuan TNI yang sangat mencolok. Itu pasti milik Bayu, pria yang memenangkan "tender" hati Alya tanpa perlu bersusah payah melakukan pengorbanan dramatis seperti yang Lev lakukan.
"Assalamu’alaikum..." suara Lev nyaris tak terdengar, kalah oleh suara burung perkutut milik tetangga Alya.
"Wa’alaikumussalam! Eh, Nak Lev. Masuk, Nak," sambut Ibu Alya dengan senyum yang tulus namun terasa seperti sembilu bagi Lev.
Di ruang tamu, Lev duduk kaku. Tak lama kemudian, Alya keluar. Ia tampak berbeda; ada binar kebahagiaan di matanya yang tak pernah Lev lihat sebelumnya, bahkan saat Lev menghadiahi desain vektor wajahnya yang dikerjakan tiga malam suntuk.
"Lev, terima kasih sudah datang," ujar Alya pelan. Di sampingnya, Bayu berdiri tegap, memberikan jabatan tangan yang begitu kuat hingga Lev merasa tulang jemarinya hampir bergeser.
"Ini titipan dari aku," Alya menyodorkan sebuah kotak kecil terbungkus kertas kado cokelat. "Aku tahu kamu sudah banyak berkorban buat aku. Tapi Lev, cinta itu bukan tentang siapa yang paling banyak memberi, tapi tentang siapa yang dipilihkan-Nya untuk menetap."
Lev menerima kotak itu dengan tangan bergetar. "Aku... aku mengerti, Al. Selamat, ya. Semoga Sakinah Mawaddah Warahmah."
Kalimat itu adalah kalimat tersulit yang pernah diucapkan Lev sepanjang 25 tahun hidupnya. Ia ingin sekali bertanya: "Mengapa bukan aku? Padahal aku menolak Sarah, Dina, dan Maya hanya untuk menunggumu!" Namun, ia sadar itu hanya akan membuatnya terlihat seperti badut di hadapan pria berseragam itu.
Saat hendak pulang, Bayu menepuk bahu Lev. "Terima kasih sudah menjaga Alya selama ini lewat doa-doamu, Bro. Sekarang, biarkan saya yang menjaganya lewat ijab kabul."
Lev hanya bisa tersenyum miring—senyum yang lebih mirip orang sakit gigi. Ia segera pamit dan menghidupkan motornya secepat kilat.
Sesampainya di rumah, Lev membuka kotak itu di kamarnya yang berantakan. Isinya bukan surat cinta. Bukan pula foto kenangan.
Isinya adalah sebuah buku saku tentang Adab Menuntut Ilmu dan Menghargai Waktu serta sebuah catatan kecil:
"Lev, berhenti mengorbankan orang-orang baik hanya untuk mengejar bayangan. Belajarlah untuk mencintai karena Allah, bukan karena obsesi. Semoga kamu menemukan bahagiamu sendiri."
Lev tertegun. Ia tertawa kecil, tawa yang kemudian berubah menjadi isak tangis yang pecah. Ia merasa sangat bodoh. Selama ini ia merasa sedang berjihad untuk cinta, padahal ia hanya sedang memuja egonya sendiri.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Dina—wanita kedua yang ia tolak—muncul di layar.
"Lev, kamu di mana? Aku butuh bantuan desain buat spanduk acara bakti sosial di Masjid Agung Al-Munawwarah. Bisa bantu? Gratis ya, soalnya buat amal!"
Lev menghapus air matanya. Mungkin ini saatnya berhenti menjadi pujangga galau dan mulai menjadi manusia yang berguna.
Lanjut ke Bab 5? Lev akan memulai debutnya kembali sebagai "pria normal" dengan membantu Dina, namun ia malah harus berurusan dengan ayah Dina yang sangat galak dan merupakan pensiunan polisi.
