BAB 6: Diplomasi Rotan dan Serbuan Konten di Pasar Bauntung

BAB 6: Diplomasi Rotan dan Serbuan Konten di Pasar Bauntung

Lev
0
Ikuti petualangan seru nan haru keluarga Lev Ryley (Banjarmasin) & Muhammad Hifni (Tabalong) dari Mekah hingga ke Murung Pudak. Novel Slice of Life Islami tentang ukhuwah, komedi kucing, dan keindahan wisata Jaro.

Pagi di Tanjung disambut dengan aroma nasi kuning bungkus daun pisang yang dibawa Pak Hifni. Namun, energi di rumah itu sudah setara dengan tegangan tinggi. Anindya Putri dan drg. Dina Yulianti tampak sudah "siap tempur" dengan setelan gamis kasual dan tas belanja lipat yang praktis.

"Yah, Ayah jaga Rayyan sama duo Salsabilla di taman depan pasar saja ya? Bunda mau fokus riset pasar sebentar," ujar Anindya sambil membetulkan letak strap ponselnya.

Lev â„›yley melirik Pak Hifni. "Riset pasar itu kode keras buat 'borong', kan Pak?"

Pak Hifni terkekeh sambil menggendong Khalisah. "Sudah hukum alam, Pak Lev. Kalau dua ibu-ibu alumni Umroh sudah bergabung, pedagang di Pasar Bauntung Tanjung pasti langsung pasang kuda-kuda."

Rombongan pun meluncur ke pusat kota. Pasar Bauntung pagi itu sangat ramai. Aroma terasi, ikan asin haruan, hingga wangi anyaman rotan segar bercampur menjadi satu simfoni khas pasar tradisional Kalimantan.

Begitu sampai di deretan pengrajin Anyaman Rotan Khas Tabalong, mata Anindya langsung berbinar. "Masya Allah, Bu Dokter! Lihat motif Dayak Deah ini! Di Banjarmasin harganya bisa dua kali lipat!"

Ghina Qalbi segera mengeluarkan mikrofon mungilnya. "Guys! Review jujur dari pusatnya langsung. Tas ini handmade, baunya otentik hutan Kalimantan, dan yang paling penting... aesthetic parah buat OOTD!"

Seorang pedagang tua bernama Nek Ijah tersenyum melihat Ghina yang sibuk berputar-putar di depan kamera. "Lincah banar kakanak ni (lincah sekali anak ini)," ujar beliau dalam bahasa Banjar yang kental.

Di sinilah "Diplomasi Rotan" dimulai. drg. Dina, dengan ketenangan seorang dokter, mulai menawar. "Nek, kalau ambil lima biji buat oleh-oleh kawan di klinik, berapa harganya? Kami ini tetangganya Pak Hifni, lho."

Nek Ijah tertawa, "Aduh, Bu Dokter bisa saja. Ya sudah, buat kawannya Pak Hifni, Nenek kasih harga 'kekeluargaan' saja."

Sementara itu, di luar pasar, Lev â„›yley terduduk lesu di bangku taman sambil memegang lima plastik berisi pentol dan es dawet. Di depannya, Aisyah Humaira sedang kewalahan menjaga Rayyan yang mencoba mengejar ayam liar di belakang pasar, sementara duo Salsabilla sibuk berdebat apakah tas rotan yang dibeli ibu mereka bisa dipakai untuk mengangkut kucing.

"Kak Aisyah, kalau kucing masuk tas rotan, dia bisa napas nggak?" tanya Naura (Bella) serius.

"Bisa, kan rotan ada lubang-lubangnya," jawab Khalisah (Salsa) sok tahu.

Aisyah, si calon guru PGSD ULM, langsung mengambil momen itu untuk mengajar. "Nah, itu namanya ventilasi, Adik-adik. Sama kayak kita butuh udara, kucing juga. Tapi lebih baik tasnya buat bawa buku saja, ya? Biar kalian jadi anak pintar."

Momen lucu terjadi saat Rayyan tiba-tiba kembali dengan membawa sepotong kayu kecil. "Ayah! Lihat, aku nemu tulang unta!"

Lev hanya bisa menepuk dahi. "Itu kayu bekas peti telur, Rayyan. Ya Allah, Nak... efek jetlag Umroh kamu kok nggak hilang-hilang, ya?"

Tak lama kemudian, Anindya dan drg. Dina muncul dengan wajah kemenangan. Di tangan mereka ada setumpuk tas rotan, tikar purun, hingga topi caping bermotif. Lev menghitung jumlah tentengannya dan langsung melakukan kalkulasi cepat di kepalanya.

"Pak Hifni, sepertinya saya harus pasang roof rack tambahan di atas mobil buat pulang nanti," bisik Lev pasrah.

"Tenang Pak Lev, anggap saja ini investasi kebahagiaan istri," jawab Pak Hifni kalem, meski di tangannya sendiri sudah ada dua bungkus besar kerupuk ikan titipan Ibu Rina.

Hari itu, Pasar Tanjung menjadi saksi bahwa ukhuwah bukan hanya soal doa bersama, tapi juga soal saling mendukung ekonomi lokal sambil tertawa lepas di antara tumpukan anyaman rotan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default