Kota Kandangan tidak akan pernah bisa dipisahkan dari satu ikon kuliner yang telah melegenda hingga ke pelosok nusantara: Dodol Kandangan. Kudapan manis berbahan dasar beras ketan, santan, dan gula merah ini bukan sekadar makanan bagi warga Hulu Sungai Selatan, melainkan simbol ketekunan. Di Gang Taqwa, aroma wangi pengolahan dodol dari pasar tradisional seringkali sampai ke teras rumah, memicu diskusi panjang yang tak jarang berakhir dengan gelak tawa antara keluarga Pak Rahman dan Pak Ahmad.
Pagi itu, suasana di kediaman Pak Ahmad Subarjo tampak sangat sibuk. Sebagai pejabat Pemda yang sedang mengurusi persiapan "Hari Jadi Kabupaten" tahun 2025, Pak Ahmad mendapatkan mandat untuk mengurasi produk UMKM terbaik yang akan disuguhkan kepada tamu-tamu mancanegara. Ia ingin memberikan sentuhan modern pada tradisi lama.
"Pak Guru! Sini sebentar!" teriak Pak Ahmad dari balik pagar ulinnya yang legendaris. Di tangannya, ia memegang sebuah mawar merah yang sangat harum dan sepotong dodol yang baru saja ia beli.
Pak Rahman Hakim, yang sedang asyik memberikan "nutrisi rahasia" berupa air rendaman kulit bawang pada anggrek Cattleya-nya, menoleh perlahan. "Ada apa lagi, Pak Ahmad? Sepertinya wajah Bapak lebih cerah daripada mawar-mawar itu."
"Begini, Pak Rahman. Saya punya ide revolusioner untuk Pemda. Saya ingin membuat inovasi: Dodol Rasa Mawar! Bayangkan, manisnya dodol Kandangan berpadu dengan aroma bunga mawar yang elegan. Ini pasti akan meledak di pasar!" seru Pak Ahmad dengan mata berbinar-binar penuh ambisi birokrat.
Pak Rahman terdiam sejenak, membetulkan kacamatanya, lalu tersenyum simpul—jenis senyum yang biasa ia berikan kepada muridnya yang salah menghitung rumus namun tetap percaya diri. "Pak Ahmad, ide Bapak itu kreatif. Tapi, dodol itu identitas. Dodol Kandangan sudah punya aroma khas gula aren dan santan yang gurih. Kalau Bapak masukkan aroma mawar, bukannya nanti orang malah merasa sedang memakan sabun mandi?"
Pak Ahmad terhenyak. "Sabun mandi? Waduh, kasar sekali analogi Bapak ini! Mawar itu aromatik, Pak Guru!"
"Begini saja," lanjut Pak Rahman, "Daripada mengubah rasa dodol yang sudah sempurna, kenapa tidak kita buat sayembara aroma saja? Kita buktikan, mana yang lebih cocok menjadi pendamping aromatik di meja tamu nanti: mawar Bapak yang semerbak, atau Anggrek Aerides odorata (Anggrek Harum) milik saya yang aromanya seperti lemon bercampur madu?"
Persiapan Sayembara di Teras Rumah
Ide itu pun disepakati. Hari Sabtu depan, mereka akan mengadakan jamuan kecil di Gang Taqwa. Ibu Aminah dan Ibu Fatimah pun ikut sibuk. Ibu Aminah, sebagai istri Guru yang telaten, bertugas membuat dodol modifikasi dengan campuran aroma alami dari kebun anggrek (menggunakan ekstrak vanila asli yang sebenarnya juga merupakan keluarga anggrek). Sementara Ibu Fatimah membantu Pak Ahmad meracik air mawar murni.
Situasi komedi memuncak ketika Pak Ahmad, karena terlalu bersemangat agar mawarnya wangi maksimal, malah menyemprotkan terlalu banyak parfum bibit mawar ke arah tanamannya. Malangnya, angin kencang berhembus ke arah rumah Pak Rahman.
"Aduh, Pak Ahmad! Ini kebun anggrek saya jadi bau toko parfum di mal!" teriak Pak Rahman sambil terbatuk-batuk.
"Maaf, Pak Guru! Ini namanya 'serangan udara' estetika!" balas Pak Ahmad sambil berusaha menahan semprotannya.
Hari Penentuan: Diplomasi di Meja Makan
Saat hari Sabtu tiba, keluarga besar berkumpul di teras yang luas. Farih, putra Pak Rahman, dan Zaskia, putri Pak Ahmad, bertindak sebagai juri muda. Di atas meja kayu ulin yang mengkilap, tersedia dua jenis dodol dan dua vas bunga yang mewakili masing-masing keluarga.
Pak Ahmad memulai presentasinya dengan gaya seperti sedang memberikan sambutan di depan Bupati. "Hadirin sekalian, mawar melambangkan gairah. Dodol mawar ini adalah simbol kemajuan ekonomi kreatif Kandangan!"
Namun, saat Zaskia mencicipi dodol mawar buatan ayahnya, wajahnya berubah masam. "Yah... ini beneran seperti makan bunga kering. Aromanya terlalu menusuk, menutupi rasa gurih santannya."
Kini giliran Pak Rahman. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya menyajikan dodol original yang disuguhkan di samping pot anggrek haruannya yang sedang mekar sempurna. "Dalam matematika, 1 + 1 haruslah 2. Dodol yang manis ditambah aroma anggrek yang lembut dari udara, menghasilkan harmoni yang tidak saling bertabrakan."
Farih mencicipi dan mengangguk pelan. "Benar. Rahasianya bukan pada mencampur rasanya, tapi pada atmosfernya. Anggrek memberikan ketenangan saat kita menikmati manisnya dodol."
Pelajaran Berharga di Akhir Hari
Pak Ahmad akhirnya mengakui keunggulan strategi Pak Rahman. "Luar biasa Pak Guru. Bapak memang pakar keseimbangan. Saya terlalu ingin menonjolkan mawar sampai lupa kalau dodolnya sendiri adalah bintang utamanya."
Pak Rahman menepuk bahu Pak Ahmad. "Tidak apa-apa, Pak Ahmad. Itulah gunanya kita bertetangga. Bapak punya semangat untuk berinovasi, saya punya tugas untuk mengingatkan agar kita tidak kehilangan jati diri. Seperti mawar dan anggrek; mawar yang cantik menarik orang datang, tapi ketenangan anggrek yang membuat orang betah berlama-lama."
Sore itu di Kandangan ditutup dengan syukuran makan ketupat bersama lagi. Pak Ahmad membatalkan ide dodol mawarnya dan menggantinya dengan konsep "Dodol dalam Kemasan Estetik Bermotif Anggrek dan Mawar". Sebuah solusi birokrasi yang akhirnya memuaskan semua pihak.
Di Gang Taqwa, kebahagiaan itu ternyata bisa ditemukan dalam sekeping dodol dan seuntai bunga. Persahabatan mereka, meski kadang penuh dengan perdebatan konyol, tetap semanis dodol Kandangan yang dimasak dengan kesabaran.
Pesan Edukasi:
Dodol Kandangan merupakan warisan budaya takbenda yang harus dijaga keasliannya. Inovasi produk UMKM di tahun 2025 memang penting, namun tidak boleh menghilangkan karakteristik utama kuliner daerah. Dalam Islam, kejujuran dalam berdagang dan berinovasi sangat ditekankan. Bagi para ASN (PNS), kolaborasi lintas sektor seperti yang dilakukan Pak Rahman dan Pak Ahmad adalah kunci keberhasilan pembangunan daerah. Jangan lupa, jika Anda berkunjung ke Kalimantan Selatan, carilah Pusat Oleh-oleh Kandangan untuk mendapatkan dodol terbaik!
