Bab 7: Tilawah di Sepertiga Malam – Syahdu Doa di Atas Tanah Rawa

Bab 7: Tilawah di Sepertiga Malam – Syahdu Doa di Atas Tanah Rawa

Lev
0
Ketika jam dinding di ruang tamu Zaskia yang bergaya minimalis menunjukkan pukul 03.30 WITA, suasana di wilayah Gambut benar-benar senyap. Hanya terdengar suara jangkrik yang bersahutan dari arah persawahan dan suara air parit yang mengalir pelan di bawah rumah-rumah panggung warga. Udara Desember 2025 yang dingin dan lembap merayap masuk melalui celah ventilasi, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Di jam-jam seperti inilah, perbedaan warna dinding dan selera busana antara keluarga Zaskia dan Anita benar-benar melebur, menyisakan satu warna yang sama di hadapan Sang Khalik: warna ketaatan.

Zaskia terbangun dengan perlahan, tanpa suara alarm yang mengejutkan. Baginya, sepertiga malam adalah waktu di mana ia menemukan estetika spiritual yang paling murni. Ia bangkit, mengenakan mukena berbahan katun mikro berwarna dusty lavender—warna yang begitu lembut hingga hampir menyatu dengan bayang-bayang kamar. Setelah berwudhu dengan air yang terasa sedingin es, ia menghamparkan sajadah beludru berwarna cokelat tua di pojok kamarnya yang sunyi.

Di saat yang hampir bersamaan, di seberang jalan, Anita juga terjaga. Meskipun di siang hari ia adalah ratu keramaian, di sepertiga malam seperti ini, Anita bertransformasi menjadi hamba yang penuh kesungguhan. Ia mengenakan mukena bermotif bunga-bunga besar dengan warna-warna cerah—ciri khasnya yang tak pernah luntur—namun raut wajahnya tampak sangat tenang. Tidak ada tawa melengking, tidak ada candaan. Yang ada hanyalah mata yang berkaca-kaca saat ia mulai berdiri menghadap kiblat.

Beberapa menit kemudian, di tengah kesunyian Gang Sejahtera, mulailah terdengar sayup-sayup suara tilawah. Dari rumah Zaskia, terdengar suara yang sangat lembut, berirama datar namun penuh penjiwaan, seperti aliran air yang tenang di sungai Barito. Zaskia sedang membacakan Surah Ar-Rahman, ayat demi ayat diresapi dengan napas yang teratur.

Sementara itu, dari balik jendela rumah kuning kunyit milik Anita, terdengar suara tilawah yang lebih bertenaga. Suara Anita sedikit serak namun merdu, dengan cengkok khas tilawah masyarakat Banjar yang mendayu-dayu. Ia membacakan Surah Al-Mulk, seolah sedang memproklamasikan keagungan Allah ke seluruh penjuru langit Gambut yang gelap.

Lucunya, kedua suara ini bertemu di tengah jalan yang kosong. Jika ada orang yang lewat saat itu, mereka akan mendengar sebuah simfoni spiritual yang luar biasa. Suara Zaskia yang "kalem" menjadi bass yang menenangkan, sementara suara Anita yang "terang" menjadi treble yang menghidupkan suasana.

Setelah menyelesaikan shalat tahajud, Zaskia duduk bersila, menatap ke arah jendela. Ia melihat secercah cahaya lampu dari rumah Anita yang menembus kabut tipis. Ia tersenyum kecil. Ia tahu, di seberang sana, sahabatnya sedang melakukan hal yang sama. Kehangatan itu lebih nyata daripada sekadar tegur sapa di siang hari.

"Ya Allah," bisik Zaskia dalam doanya, "Berikanlah keberkahan untuk tetanggaku, Anita. Terangkanlah hatinya sebagaimana ia selalu berusaha menerangi lingkungan kami dengan keceriaannya. Jaga pula keluarganya dalam ketaatan."

Di saat yang sama, Anita yang sedang bersujud terakhir, membisikkan doa serupa. "Ya Rabb, berikanlah ketenangan abadi untuk Jeng Zaskia. Jagalah kelembutan hatinya, karena dialah yang selalu mengingatkanku untuk lebih tenang dalam menghadapi hidup. Jadikanlah kami tetangga hingga ke surga-Mu nanti."

Komedi kecil terjadi sesaat setelah fajar mulai menyingsing namun matahari belum sepenuhnya muncul. Anita, yang merasa sangat segar setelah tahajud, tidak bisa menahan diri untuk tidak membuka jendela dapur dan berteriak pelan ke arah rumah Zaskia.

"Jeng Zaskia! Sudah bangun ya? Suara tilawah Jeng tadi bikin saya hampir tertidur lagi karena terlalu adem!" canda Anita sambil terkekeh pelan.

Zaskia yang sedang menyiapkan kopi untuk suaminya, membuka jendela dapurnya yang berwarna putih bersih. "Masya Allah, Jeng Anita. Justru suara Jeng tadi yang membangunkan semangat saya. Kuat sekali suaranya, sampai-sampai jangkrik di rawa belakang saya saja berhenti bunyi karena merasa kalah saing."

Keduanya tertawa kecil di balik jendela masing-masing, sementara adzan Subuh mulai berkumandang dari Masjid Al-Mu'minin yang tak jauh dari sana. Momen sepertiga malam itu membuktikan bahwa meski selera duniawi mereka berbeda—yang satu menyukai sunyi dan yang lain menyukai keriuhan—namun di level ruhani, mereka memiliki frekuensi yang sama.

Kehidupan di Gambut memang bukan tentang siapa yang paling benar seleranya, melainkan tentang bagaimana setiap individu menggunakan keunikannya untuk memuji Allah. Zaskia dengan ketenangannya, dan Anita dengan energinya, adalah dua sisi dari satu mata uang yang bernama ukhuwah.

Sambil melangkah menuju masjid untuk shalat Subuh berjamaah, keduanya bertemu di tengah jalan. Zaskia dengan mukena putih bersihnya, dan Anita dengan mukena warna-warninya yang seolah menantang kegelapan subuh. Mereka berjalan berdampingan, dua warna yang berbeda, namun menuju satu kiblat yang sama.

Pesan Edukasi & Inspirasi:

Shalat Tahajud adalah ibadah yang sangat dianjurkan (Sunnah Muakkadah) yang membawa ketenangan jiwa dan kemuliaan di mata Allah. Di Kalimantan Selatan, tradisi religius di waktu Subuh sangat kental, mencerminkan identitas masyarakat Banjar yang agamis. Untuk memperdalam pemahaman tentang tata cara tahajud dan keutamaannya, Anda dapat merujuk pada artikel di Bimasislam Kemenag.

Tetaplah bersama kami untuk Bab 8: Saat Zaskia Mencoba Warna Terang, di mana sebuah tantangan dari Anita memaksa Zaskia keluar dari zona nyaman earth tone-nya yang elegan!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default