Bulan Zulhijah di Kota Kandangan selalu membawa atmosfer yang penuh syahdu namun juga sibuk. Di Gang Taqwa, aroma kayu manis dan cengkeh mulai tercium dari dapur-dapur warga yang bersiap menyambut Hari Raya Idul Adha. Namun, bagi dua keluarga yang bertetangga ini, hari raya kali ini menjadi ujian kesabaran yang lebih besar daripada ujian sertifikasi guru maupun laporan akhir tahun Pemda.
Kejadian bermula ketika Pak Ahmad Subarjo, dengan semangat "Pelayanan Publik" yang membara, menawarkan diri agar rumahnya menjadi tempat penampungan sementara bagi tiga ekor kambing kurban milik jamaah Masjid Taqwa sebelum dibawa ke jagal esok hari. Pak Ahmad ingin menunjukkan bahwa meskipun ia pejabat Pemda, ia tetap merakyat dan siap "berkeringat" demi umat.
"Pak Rahman! Lihat, ini kambing-kambing pilihan! Sehat, gemuk, dan suaranya merdu, persis seperti paduan suara di kantor bupati!" seru Pak Ahmad sambil mengikat ketiga kambing itu di sebuah tiang di halaman depan rumahnya, yang—sayangnya—hanya berjarak dua meter dari barisan mawar impor kesayangannya.
Pak Rahman, yang sedang sibuk membersihkan daun anggrek Coelogyne pandurata (Anggrek Hitam Kalimantan) dengan kain sutra halus, hanya bisa memandang cemas. "Pak Ahmad, apa tidak terlalu dekat dengan mawar-mawar Bapak? Dan... tolong pastikan ikatannya kuat. Kambing itu kalau sudah mencium aroma hijau-hijauan, logikanya hilang, Pak."
Pak Ahmad tertawa meremehkan. "Tenang, Pak Guru! Ini ikatan dinas, kuat dan prosedural! Mereka tidak akan bisa menjangkau mawar saya, apalagi anggrek Bapak yang digantung tinggi-tinggi itu."
Tragedi di Siang Bolong
Bencana terjadi saat azan zuhur berkumandang. Ketika kedua bapak itu sedang khusyuk berjamaah di masjid, seekor kambing yang paling besar—seekor kambing etawa berwarna putih-cokelat yang tampak sangat lapar—berhasil melonggarkan ikatan talinya. Mungkin karena terpesona oleh warna merah merona dari mawar Double Delight milik Pak Ahmad, atau mungkin karena merasa tertantang oleh aroma harum yang keluar dari kebun Pak Rahman.
Kambing itu melakukan "invasi". Pertama, ia melahap habis kuncup mawar Pak Ahmad yang baru saja akan mekar untuk perlombaan kabupaten. Tidak puas dengan mawar, sang kambing melihat ke arah pagar ulin. Dengan sekali lompatan "atletis" yang tidak terduga, ia menyeberang ke wilayah Pak Rahman.
Targetnya? Anggrek Dendrobium yang digantung rendah karena sedang dalam masa perawatan khusus.
Saat Pak Rahman dan Pak Ahmad pulang dari masjid, mereka disambut oleh pemandangan yang mengerikan. Pak Ahmad melihat kebun mawarnya compang-camping, sementara Pak Rahman melihat kambing itu sedang dengan santainya mengunyah salah satu daun anggrek langkanya.
"ASTAGFIRULLAH! KAMBING SIAPA INI?!" teriak Pak Ahmad dengan nada suara yang mencapai tiga oktav, melampaui suara sirine mobil dinas.
Pak Rahman terpaku. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat. "Pak Ahmad... itu... itu anggrek pesanan khusus untuk pameran sains... sedang dimakan dengan lahap oleh kambing kurban Bapak."
Komedi Penangkapan dan Solidaritas
Situasi menjadi komedi yang kacau saat Pak Ahmad mencoba menangkap kambing itu dengan menggunakan jas kantornya yang tertinggal di teras sebagai jaring. Ia berlari memutar-mutar di antara pot bunga, membuat mawar-mawar yang tersisa semakin terinjak-injak.
"Jangan lari kamu! Dasar kambing birokrat! Berhenti!" teriak Pak Ahmad.
Pak Rahman, yang sadar bahwa kemarahan tidak akan mengembalikan daun anggreknya, segera mengambil tindakan strategis. "Pak Ahmad! Berhenti mengejarnya! Pakai umpan! Ummi, ambilkan kulit pisang dan sisa sayuran dari dapur!"
Dengan teknik "persuasi edukatif", Pak Rahman berhasil memancing kambing itu kembali ke area netral. Setelah kambing berhasil diikat kembali dengan ikatan yang jauh lebih kuat (kali ini menggunakan simpul pramuka hasil didikan Pak Rahman selama jadi guru pembina), kedua pria itu duduk lemas di teras rumah Pak Rahman.
Hikmah di Balik Kelopak yang Hilang
Pak Ahmad menunduk lesu, menatap sepatunya yang penuh tanah. "Pak Guru... saya minta maaf. Saya terlalu sombong dengan ikatan saya tadi pagi. Sekarang mawar saya hancur, dan yang lebih parah, anggrek Bapak yang berharga itu ikut jadi korban."
Pak Rahman menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis sembari menepuk bahu tetangganya. "Sudahlah, Pak Ahmad. Ini namanya ujian kurban. Kita dilatih untuk ikhlas. Mawar itu bisa tumbuh lagi, anggrek saya pun masih punya akar yang kuat. Mungkin ini cara Allah mengingatkan kita agar jangan terlalu mencintai perhiasan dunia secara berlebihan."
Pak Ahmad terenyuh. "Bapak benar. Besok, setelah kurban selesai, saya carikan pupuk terbaik di seluruh Kalimantan Selatan untuk mengobati anggrek Bapak. Dan sebagai gantinya, silakan ambil bagian daging kurban saya lebih banyak nanti."
"Ah, tidak perlu sebanyak itu, Pak Ahmad. Yang penting, jangan bawa kambing lagi ke dekat taman kita," canda Pak Rahman yang disambut tawa pahit oleh Pak Ahmad.
Kejadian "Kambing vs Taman" ini menjadi buah bibir di seluruh Gang Taqwa. Warga belajar bahwa bahkan seorang guru yang sabar dan pejabat yang tegas pun bisa dibuat kocar-kakir oleh seekor kambing. Namun, di balik rusaknya kelopak bunga, hubungan mereka justru semakin erat. Mereka belajar bahwa solidaritas dalam menghadapi musibah—sekecil apa pun itu—adalah bunga yang paling indah yang bisa tumbuh di lingkungan bertetangga.
Sore itu, mereka berdua bersama-sama membersihkan sisa-sisa "peperangan", mempersiapkan hati untuk Idul Adha esok hari dengan jiwa yang lebih bersih dan taman yang—walau sedikit gundul—tetap penuh dengan cerita.
Informasi Edukasi:
Dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 2025, penting bagi masyarakat untuk memperhatikan tata cara penempatan hewan kurban agar tetap menjaga kebersihan dan estetika lingkungan. Kisah ini mengingatkan kita pada Adab Kurban yang salah satunya adalah tidak menyakiti atau merugikan orang lain melalui hewan ternak kita. Bagi pecinta tanaman, menghadapi tanaman yang rusak dimakan hewan dapat dilakukan dengan pemberian nutrisi tambahan seperti pupuk NPK untuk merangsang pertumbuhan tunas baru. Jangan lupa, silaturahmi antar tetangga adalah kunci kebahagiaan di hari raya!
