Minggu pagi di Barabai disambut dengan langit biru bersih tanpa awan, sebuah kemewahan bagi warga Murakata untuk melepas penat. Sesuai janji Hifni di malam reuni, hari ini adalah hari "libur nasional" bagi hafalan Khalisah. Rencananya sederhana: berenang di Waterboom lokal bersama keluarga Nurul Inayah.
Namun, persiapan di rumah Hifni tidak pernah sesederhana itu.
"Abah! Mana swimming goggles Khalisah?" teriak Khalisah sambil membongkar isi lemari. "Dan please, jangan lupa pelampung Mochi!"
Hifni yang sedang memasukkan bekal nasi kebuli buatan Rina ke dalam mobil, menoleh dengan kening berkerut. "Khalisah, kucing itu takut air. Mochi nggak perlu pelampung karena dia nggak bakal berenang. Dia cukup jadi penjaga tas di gazebo."
Mochi, yang seolah mengerti pembicaraan tentang air, langsung melesat sembunyi di bawah kolong tempat tidur. Bagi Mochi, mandi adalah siksaan, apalagi berenang massal.
"Tapi Mochi kan part of the team, Bah!" protes Khalisah dalam aksen Inggrisnya yang keluar secara otomatis kalau lagi panik. "It's not fair!"
Rina muncul sambil membawa topi pantai. "Sudah, sudah. Mochi tetap ikut tapi di dalam tas astronotnya saja. Ayo berangkat, Nurul dan Husna sudah mengirim pesan kalau mereka hampir sampai di lokasi."
Sesampainya di Waterboom, suasana sangat ramai. Banyak keluarga PNS lain yang juga memanfaatkan waktu libur. Hifni sempat beberapa kali menyapa rekan kerjanya dari kantor dinas.
"Wah, Pak Hifni! Bawa pasukan lengkap ya?" tegur seorang rekan sambil tertawa.
"Iya, Pak. Libur dinas, tapi tugas jadi 'asisten anak' tetap jalan," jawab Hifni sambil terkekeh.
Tak lama, Nurul Inayah dan Husna muncul. Pertemuan dua bocah itu langsung mencairkan suasana. Khalisah yang enerjik dan Husna yang kalem adalah kombinasi unik. Lucunya, meski sedang di kolam renang, Khalisah tetap membawa kebiasaannya.
Saat mereka sedang berada di kolam arus, Khalisah tiba-tiba berseru, "Look, Husna! The water is like the river in Paradise! Kata Mama, di surga ada sungai susu dan madu!"
Husna tersenyum, air memercik di wajahnya. "Iya, Khalisah. Tapi di surga airnya nggak bau kaporit kayak gini."
Nurul dan Rina yang mengawasi dari pinggir kolam hanya bisa geleng-geleng kepala. "Anak-anak zaman sekarang ya, Rin. Liburan pun bahasanya tetap 'bahasa langit'. Kamu benar-benar berhasil menyatukan didikan bahasa Inggris dan agamanya," puji Nurul.
Rina menghela napas syukur. "Semua berkat dukungan Hifni, Rul. Dia yang konsisten kasih reward. Tapi aku kadang khawatir, apa nanti dia cuma menghafal karena hadiah?"
"Awalnya mungkin iya," sahut Nurul bijak. "Kita dulu waktu SMA tahun 2013 juga belajar giat karena mau lulus dan dapat kerja, kan? Tapi seiring waktu, niat itu akan tumbuh karena cinta. Lihat saja Khalisah, dia mulai menghubungkan semua hal yang dia lihat dengan ayat-ayat yang dia hafal."
Kehebohan terjadi saat jam makan siang. Mochi yang ditinggal di dalam tas astronot di gazebo mulai merasa bosan. Dengan kecerdasan kucing oren yang di luar nalar, ia berhasil mendorong ritsleting tas hingga terbuka sedikit.
Saat keluarga itu sedang asyik menikmati bekal, Mochi keluar dan berjalan dengan angkuh menuju kedai sosis bakar di dekat kolam.
"Mochi! Come back here!" teriak Khalisah yang baru selesai membilas diri.
Seluruh pengunjung Waterboom tertawa melihat seorang bocah perempuan mengejar kucing oren gemuk yang memakai kalung lonceng emas. Mochi malah melompat ke atas meja instruktur renang, membuat si instruktur kaget dan hampir jatuh ke kolam.
"Mochi! Stop it! Bad cat!" Khalisah mencoba menggunakan otoritas bahasa Inggrisnya.
Ajaibnya, Mochi berhenti. Ia menatap Khalisah, lalu mengeong keras satu kali, seolah memprotes karena ditinggal sendirian.
Hifni segera menangkap Mochi. "Aduh, Chi... kamu ini bikin malu orang tua saja. Besok-besok kamu Abah kasih les privat biar tahu tata krama di tempat umum."
Setelah drama kucing selesai, mereka duduk melingkar. Hifni mengambil kesempatan ini untuk tes hafalan ringan. "Ayo, sebelum makan, siapa yang bisa baca doa makan dan Surah Al-Quraisy? Kan tadi kita bahas soal perjalanan dan makanan."
Husna dan Khalisah membacanya bersama-sama. Suara mereka bersahutan dengan riuh rendah suara air terjun buatan di belakang mereka. Di momen itu, Hifni menyadari bahwa kebahagiaan sejati seorang PNS bukan terletak pada kenaikan golongan atau tunjangan yang cair tepat waktu, melainkan pada tawa anaknya yang tumbuh sehat, cerdas secara intelektual, dan kaya secara Spiritual.
"Bah," bisik Rina sambil menyandarkan kepala di bahu Hifni. "Terima kasih ya. Meskipun kita sibuk, kita tetap bisa kasih waktu begini buat Khalisah."
Hifni mengangguk, tangannya mengelus kepala Khalisah yang sedang asyik menyuapi Husna sepotong apam Barabai. "Ini investasi kita, Rin. Lebih berharga dari deposito mana pun."
Mochi? Ia sudah kembali ke dalam tasnya, mendengkur puas setelah berhasil mencuri satu gigitan sosis tanpa ketahuan. Hari itu di Barabai, satu lagi kenangan manis terukir, menambah satu ayat lagi dalam buku kehidupan mereka yang penuh warna.
