Bab 9: Khalisa Sakit dan Panik Ayah Ibunya (Ujian Kecil di Malam Hari)

Bab 9: Khalisa Sakit dan Panik Ayah Ibunya (Ujian Kecil di Malam Hari)

Lev
0

Udara di Tanjung Murung Pudak terasa dingin, pertanda musim hujan mulai intensif. Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 WITA. Keheningan malam di kompleks perumahan dinas pecah oleh suara tangisan lirih seorang anak kecil.
Suara itu berasal dari kamar Khalisa. Hifni dan Rina yang sedang tidur pulas langsung terbangun.

"Khalisa nangis, Mas!" Rina langsung meloncat dari tempat tidur. Hifni menyusul dengan panik, jantungnya berdebar kencang.

Mereka masuk ke kamar Khalisa. Putri kecil mereka meringkuk di tempat tidur, wajahnya memerah, dan tubuhnya menggigil.

"Sayang, kenapa?" Rina menyentuh dahi Khalisa.

 "Astaghfirullah, Mas! Panas sekali badannya!"

Hifni segera menyalakan lampu kamar. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kekhawatiran luar biasa. Khalisa, si ceriwis periang, kini hanya bisa merengek lemah.
"Kita harus bawa ke dokter, Rin! Sekarang!" kata Hifni panik, tangannya sudah sibuk mencari kunci mobil dan jaket.

"Tenang, Mas, tenang. Jangan panik. Kita cek dulu suhunya," Rina mencoba bersikap lebih tenang, insting keibuannya mengambil alih. Ia mengambil termometer digital dari kotak P3K.

Beberapa detik kemudian, termometer berbunyi nyaring: 39.5 derajat Celsius. Demam tinggi.

"Kita ke IGD RSUD H. Badaruddin sekarang," putus Rina, kini suaranya juga mulai tegang.

Dalam waktu kurang dari 10 menit, keluarga kecil itu sudah ready to go. Hifni menggendong Khalisa yang lemas, Rina membawa tas berisi perlengkapan anak dan dompet. Mereka melesat ke rumah sakit terbesar di Tabalong tersebut.

Perjalanan malam itu terasa sangat menegangkan. Hifni mengemudi dengan kecepatan sedang, tapi perasaannya ingin terbang secepat mungkin. Pikirannya dipenuhi ketakutan akan hal-hal buruk yang mungkin menimpa putri semata wayangnya. Rina di kursi penumpang terus membacakan doa-doa pendek dan surah Al-Fatihah, mencoba menenangkan Khalisa dan juga dirinya sendiri.

"Ya Allah, lindungi anak kami, sehatkan kembali Khalisa," bisik Rina, matanya berkaca-kaca.

Setibanya di IGD, suasananya cukup ramai. Petugas medis sigap menyambut mereka. Khalisa langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Hifni dan Rina menunggu di luar dengan gelisah. Hifni mondar-mandir seperti setrikaan, sementara Rina terus berzikir di tempat duduknya.

Ini adalah ujian kecil bagi mereka, mengingatkan bahwa di balik kesibukan karir PNS dan drama kantor, ada anugerah terbesar yang harus mereka jaga: kesehatan dan keselamatan keluarga. Kekhawatiran akan mutasi atau laporan kantor yang salah format terasa sangat tidak penting saat itu.
Seorang dokter muda keluar dari ruang pemeriksaan. Wajahnya ramah.

"Dengan orang tua dari ananda Khalisa?" tanyanya.
Hifni dan Rina langsung berdiri tegak. "Iya, Dok. Kami orang tuanya. Gimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Hifni, suaranya terdengar sangat khawatir.

"Alhamdulillah, tidak ada yang serius, Bapak Ibu. Khalisa hanya demam tinggi biasa karena kecapekan dan mungkin mau tumbuh gigi lagi," jelas dokter. "Kami sudah berikan obat penurun panas lewat anus tadi, dan akan kami berikan resep obat minum. Nanti diobservasi di rumah. Kalau panasnya nggak turun dalam dua hari, silakan kembali ke sini."

Napas Hifni dan Rina terasa lega. Rasanya beban berat ribuan ton terangkat dari pundak mereka. Rasa panik dan takut berganti rasa syukur yang luar biasa.

"Alhamdulillah... Alhamdulillah," ucap Rina berulang kali, mengusap air matanya yang tumpah karena lega.

Mereka menjemput Khalisa yang sudah terlihat lebih tenang dan mengantuk. Wajahnya tidak semerah tadi. Hifni menggendong anaknya dengan sangat hati-hati, seolah Khalisa adalah benda paling rapuh di dunia.

"Makasih ya, Dok," kata Hifni tulus.

Mereka pulang di subuh hari yang masih gelap. Kali ini suasana di mobil berbeda. Tidak ada lagi kepanikan, hanya rasa syukur dan kelegaan. Hifni mengemudi dengan lebih tenang, sementara Rina di belakang asyik menciumi pipi Khalisa yang sudah tertidur pulas.

"Mas, tadi kamu panik banget ya?" tanya Rina, kini sudah bisa tersenyum.

Hifni mengangguk malu-malu. "Ya iyalah, Rina. Anak kita satu-satunya. Ayah takut banget tadi."

"Aku tahu. Tapi kita harus tetap tenang. Panik nggak akan menyelesaikan masalah," nasihat Rina, mengingatkan kembali jurus 'patience' yang pernah ia ajarkan.

"Iya, Bu Guru. Ayah belajar dari pengalaman," balas Hifni.
Sesampainya di rumah, azan Subuh mulai berkumandang dari Masjid Agung Annur. Hifni dan Rina membersihkan diri sejenak, lalu salat Subuh berjamaah di rumah. Kali ini, doa mereka lebih panjang, lebih khusyuk, penuh rasa syukur atas kesehatan Khalisa dan nikmat keluarga yang utuh.

Malam itu mengajarkan mereka bahwa prioritas utama dalam hidup adalah keluarga dan kesehatan. Karir PNS, jabatan, dan urusan duniawi lainnya hanyalah titipan yang bisa hilang kapan saja. Kebahagiaan sejati ada di rumah kecil mereka di Tanjung Murung Pudak, bersama Khalisa Salsabilla.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default