"Ikuti perjalanan seru dan mengharukan Muhammad Hifni dan Rina Rufida dalam Novel Islami 'Bahtera Rindu'. Kisah perjalanan haji dari Martapura tahun 1795 melintasi samudera. Perpaduan sejarah, religi, dan komedi kehidupan keluarga yang menginspirasi."
Perairan Lepas Pantai Barat Sumatra, September 1795 Masehi
Matahari terbenam di ufuk barat dengan warna jingga yang luar biasa pekat, seolah-olah langit sendiri sedang memberikan penghormatan terakhir bagi para musafir yang meninggalkan Nusantara. Muhammad Hifni berdiri di buritan kapal, menatap garis pantai Aceh yang perlahan menghilang ditelan kabut laut.
"Selamat tinggal, Tanah Air," bisik Hifni pelan. Ia memegang erat pagar kayu kapal yang terasa dingin oleh embun malam. Ada rasa getir di dadanya; perasaan seorang perantau yang tidak tahu apakah ia akan kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya lagi.
Namun, suasana melankolis itu segera buyar ketika suara teriakan dan suara bersin yang sangat keras terdengar dari arah dek tengah.
"Hatchiii! Bless me! Hatchiii!" suara Rina Rufida terdengar bersahutan dengan suara bersin para kru kapal.
Hifni segera berlari menuju dapur kapal yang sempit. Di sana, asap putih tebal membubung keluar dari pintu kayu. Rina berdiri di depan kuali besar dengan wajah merah padam, matanya berair, dan tangannya memegang ulekan sakti yang kini berlumuran bumbu berwarna merah gelap.
"Rina! Apa yang terjadi? Apa kapal ini sedang diserang asap bajak laut?" tanya Hifni sambil menutup hidungnya dengan ujung sorban.
"Bukan, Abah! Hatchiii! Aku... aku mencoba menggabungkan bubuk kopi Gayo yang kita beli di Aceh dengan cabai kering Martapura untuk membumbui daging asin jemaah," ujar Rina sambil terbatuk-batuk. "I thought it would be... experimental delicious!"
Eksperimen Rina ternyata menciptakan "gas air mata" alami di dalam ruangan tertutup. Kapten Daeng Malaka masuk ke dapur dengan mata yang bengkak karena pedas.
"Madam Rina! Anda ingin memberi kami makan atau ingin mengusir jin laut?" teriak Kapten sambil tertawa di sela-sela bersinnya. "Seluruh dek sekarang berbau seperti kebakaran gudang rempah!"
Hifni segera mengambil alih situasi. Ia menggunakan serbet basah untuk menutupi kuali dan membuka jendela kecil kapal lebar-lebar. "Maafkan istri saya, Kapten. Sebagai PNS, saya tahu kalau administrasi bumbu ini memang agak kacau."
Setelah asap mereda, Rina tertunduk lesu di samping peti kayunya. Ia merasa gagal memberikan kontribusi bagi logistik kapal. Namun, kejutan terjadi saat Khalisa, yang sejak tadi diam di pojok dek, menghampiri ibunya sambil membawa secarik kertas.
"Ummi, jangan sedih. Tadi paman pelaut bilang, bau masakan Ummi membuat dia ingat rumahnya di Bugis. Dia bilang baunya berani, seperti Ummi," kata Khalisa polos.
Rina memeluk Khalisa erat. "Terima kasih, Sayang. Next time, Ummi tidak akan mencampur kopi dengan cabai lagi. Bad idea."
Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi jutaan bintang, Hifni duduk menyendiri di bawah lampu minyak yang temaram. Ia membuka catatan hariannya dan menulis sebuah pesan rahasia yang ia dedikasikan untuk Khalisa di masa depan:
“Untuk putriku, Khalisa Salsabilla. Jika suatu saat kau membaca ini, ketahuilah bahwa ibumu adalah wanita paling berani yang pernah kukenal. Ia tidak takut bereksperimen dengan rasa, sebagaimana ia tidak takut menyeberangi lautan. Jadilah berani seperti dia, namun pastikan kau lebih hati-hati saat mencampur cabai di dalam ruang sempit.”
Hifni tersenyum sendiri. Perjalanan ini memang berat, tapi setiap kekonyolan yang terjadi seolah menjadi bahan bakar bagi iman mereka untuk terus melaju menuju Baitullah.
September 2026
Zain menutup laptopnya di sebuah kedai kopi di Martapura. Ia baru saja menyelesaikan draf Bab 9 ini untuk dipublikasikan di Situs Sejarah Martapura Modern.
"Tragedi bersin masal karena cabai dan kopi," gumam Zain. Ia membayangkan betapa hebohnya suasana kapal itu tahun 1795.
Zain kemudian membuka sebuah kotak kecil berisi sisa-sisa bumbu kering yang ia temukan di dasar peti ulin kakek buyutnya. Baunya memang masih tajam, meski sudah lewat dua abad.
Zain menulis di media sosialnya:
“Update Bab 9: Ternyata Nenek Rina adalah pelopor 'Fusion Food' yang gagal di tengah Samudra Hindia. Pelajaran berharga: Semangat inovasi itu bagus, tapi ventilasi itu lebih penting! #SejarahLucu #PNSMartapura #Haji1795 #ZainTravelogue”
Para pembaca Zain mulai berdiskusi tentang masakan fusion yang aneh-aneh di kolom komentar. Mereka merasa terhubung dengan sosok Rina Rufida—seorang wanita yang meski berada di tengah tekanan perjalanan maut, tetap berusaha menciptakan kebahagiaan (meskipun dengan cara yang membuat semua orang bersin).
Intip Bab 10 (Oktober 2026):
Madrasah Samudra: Hifni mulai mengajar mengaji anak-anak jemaah di dek kapal dengan metode yang unik agar mereka tidak bosan.
Pertemuan dengan Kapal Asing: Kapal Bintang Samudera berpapasan dengan kapal perang Inggris, dan kemampuan bahasa Inggris Rina benar-benar diuji untuk menyelamatkan kapal dari penggeledahan.
Khalisa dan Ikan Terbang: Khalisa yakin bahwa ikan-ikan yang melompat di samping kapal adalah utusan dari Mekah.
Pertanyaan untuk Pembaca: "Pernahkah kalian mencoba memasak sesuatu yang baru tapi malah jadi bencana di dapur? Ceritakan kegagalan kalian!"
Sampai jumpa di Bab 10 pada bulan Oktober 2026!
