Kehidupan di Islandia mulai memiliki ritme yang menenangkan, tetapi bagi Eva dan Andriy, itu adalah ritme yang rapuh. Setiap tawa dengan Hekla, setiap percakapan dengan pelanggan, terasa seperti lapisan tipis yang menutupi rahasia mereka. Mereka tahu, suatu saat nanti, rahasia itu akan pecah.
Suatu malam, saat toko sudah tutup, mereka duduk di belakang meja kerja, ditemani oleh aroma kopi yang sudah mendingin. Andriy sedang mengukir, dan Eva sedang menjahit. Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka, sebuah keheningan yang dibangun di atas pemahaman yang dalam.
"Aku pernah memiliki keluarga," kata Andriy tiba-tiba, suaranya pelan.
Eva berhenti menjahit. "Aku tahu."
"Di Rusia," lanjut Andriy. "Aku jatuh cinta dengan seorang manusia. Kami punya anak. Dua anak."
Mata Andriy terlihat berkaca-kaca. "Mereka tumbuh dewasa, dan aku tidak. Aku melihat mereka menua, melihat cucu-cucuku lahir. Dan kemudian, mereka semua pergi. Istriku, anak-anakku, cucu-cucuku. Mereka semua pergi."
Air mata mengalir di pipi Andriy. Eva tidak mengatakan apa-apa, ia hanya meletakkan tangannya di bahu Andriy, memberikan kekuatan yang ia tahu Andriy butuhkan. Andriy memeluk ukiran kayu yang sedang ia buat, sebuah patung kecil berbentuk keluarga.
"Aku mengukir mereka," katanya. "Agar aku tidak melupakan mereka. Setiap kali aku merasa kesepian, aku akan mengukir mereka. Rasanya seperti mereka masih ada di sini."
Eva mengangguk. Ia mengerti. Ia juga memiliki kenangan yang sama. "Aku punya seorang teman," kata Eva, suaranya bergetar. "Dia seorang manusia. Dia seorang pemburu. Dia mengajariku tentang hutan, tentang binatang, tentang bagaimana bertahan hidup di Alaska. Kami seperti saudara. Tapi dia juga pergi."
Mereka berbagi kisah-kisah sedih mereka, kisah-kisah tentang cinta yang hilang, tentang persahabatan yang berakhir dengan perpisahan. Mereka berbagi beban keabadian, beban yang terasa begitu berat ketika mereka sendirian, tetapi terasa sedikit lebih ringan ketika mereka membaginya.
"Aku berhenti mencoba," kata Eva. "Aku pikir tidak ada gunanya. Jika pada akhirnya, mereka semua akan pergi, apa gunanya?"
"Aku juga," jawab Andriy. "Tapi sekarang, ada kamu."
Eva menatap Andriy, matanya dipenuhi air mata. Andriy mengulurkan tangannya dan menyeka air mata dari pipi Eva. "Kita tidak akan pernah sendirian lagi, Eva."
Malam itu, di dalam toko mereka, di antara ukiran kayu dan kerajinan tangan, dua elf terakhir akhirnya melepaskan beban yang telah mereka pikul selama berabad-abad. Mereka menyadari bahwa keabadian tidak lagi terasa seperti kutukan, tetapi seperti anugerah. Sebuah anugerah untuk memiliki satu sama lain. Sebuah anugerah untuk membangun kehidupan baru, untuk menemukan kebahagiaan, untuk menjadi bagian dari dunia, meskipun mereka berbeda. Di bawah langit Islandia yang dipenuhi bintang, dua jiwa yang lelah menemukan kedamaian.
