Bab 10: 'Gombalan' Setelah 7 Tahun Menikah (Merawat Bara Asmara)

Bab 10: 'Gombalan' Setelah 7 Tahun Menikah (Merawat Bara Asmara)

Lev
0

Usia pernikahan Hifni dan Rina sudah menginjak tujuh tahun. Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Fase kasmaran menggebu-gebu sudah lama berlalu, berganti dengan fase saling memahami, menerima kekurangan, dan tentu saja, disibukkan oleh rutinitas sebagai PNS serta mengurus Khalisa.

Banyak yang bilang, tujuh tahun adalah masa kritis dalam pernikahan. Tapi bagi Hifni dan Rina, tujuh tahun adalah masa pendewasaan. Meskipun begitu, menjaga romantisme tetap penting agar bara asmara tidak padam digerus tumpukan laporan kantor dan cucian piring.

Suatu sore, setelah Khalisa tidur siang dan pekerjaan rumah beres, Hifni menemukan Rina sedang asyik memotong pola kain untuk dijahit menjadi baju baru. Rina memang punya hobi menjahit di waktu luang.

Hifni mendekat, duduk di sebelah Rina, mengamati istrinya dengan saksama.

"Kenapa, Mas? Ada yang salah sama mukaku? Kamu ngelihatinnya aneh banget," tanya Rina, sedikit salah tingkah.
Hifni tersenyum, senyum tulus yang jarang ia tunjukkan saat di kantor. "Nggak ada yang salah. Kamu cantik, Rin."

Rina tersipu. Pipi merahnya terlihat jelas. Sudah lama Hifni tidak melontarkan pujian sefrontal itu. "Halah, gombal! Pasti ada maunya nih."

"Serius. Masya Allah, istriku ini multitalenta ya. Guru bahasa Inggris bisa, ngurus rumah jago, jahit baju pun bisa," puji Hifni lagi, kali ini dengan nada serius.

Rina menghentikan aktivitas memotong kainnya. Ia menatap Hifni, mencoba membaca ekspresi suaminya. "Tumben banget, Mas. Kesambet apa kamu?"

Hifni tertawa. "Nggak kesambet apa-apa. Cuma lagi sadar aja, kalau selama ini aku kurang bersyukur punya istri sebaik kamu. Aku terlalu sering ngeluh soal kantor, padahal kamu di rumah juga kerja keras ngurusin semuanya."

Mendengar pengakuan tulus Hifni, hati Rina menghangat. Jurus jitu Hifni kali ini bukan gombalan receh, tapi apresiasi tulus yang menyentuh hati.

"Mas, kita kan sama-sama berjuang. Kamu di kantor cari nafkah yang halal, aku di rumah ngurus keluarga dan juga ngajar. Semuanya kan demi Khalisa dan kebahagiaan kita," balas Rina, suaranya melembut.

Hifni mengangguk. Ia meraih tangan Rina dan menggenggamnya erat. "Makasih ya, Rina. Makasih sudah jadi istri yang sabar, yang selalu mengingatkan aku pas aku khilaf, yang selalu ada saat aku panik gara-gara Khalisa sakit."

Rina balas menggenggam tangan Hifni. Di ruang tamu sederhana mereka, di bawah atap rumah dinas di pelosok Kalimantan Selatan, momen romantis itu tercipta secara alami, tanpa perlu makan malam mewah di restoran mahal atau hadiah bunga yang mahal.

"Oh iya, Mas. Aku punya ide nih buat besok malam," kata Rina, kini matanya berbinar penuh ide jahil.

"Ide apa?" Hifni mulai waspada.

"Gimana kalau besok malam kita candle light dinner di teras belakang? Aku masakin ayam bakar kesukaan kamu, kita ngobrol berdua aja, tanpa gadget, tanpa mikirin kantor," usul Rina.

Hifni terdiam sejenak. Ide itu terdengar menarik di tengah rutinitas mereka yang padat. "Boleh juga tuh idenya. Tapi nanti Khalisa gimana?"

"Khalisa bisa tidur sama Bu Lurah sebentar, kan cuma dari jam 8 sampai jam 9 malam," kata Rina, sudah punya rencana matang.

Keesokan malamnya, rencana candle light dinner ala PNS lokal pun terlaksana. Teras belakang rumah mereka disulap menjadi tempat yang romantis dengan cahaya lilin (yang sebenarnya lampu minyak darurat karena takut mati lampu) dan aroma ayam bakar yang menggugah selera. Khalisa sudah dititipkan sementara ke Bu Lurah.

Hifni dan Rina duduk berhadapan, menikmati makan malam mereka. Obrolan mereka jauh dari urusan kantor. Mereka mengenang masa-masa pacaran dulu, masa-masa awal menikah yang penuh perjuangan, hingga momen lucu saat Hifni pertama kali belajar memandikan Khalisa.

"Masih ingat nggak, waktu kamu ngajak aku kencan pertama kali, kamu malah nyasar ke kebun sawit?" Rina tertawa mengenang momen itu.

Hifni tersipu malu. "Sssstt! Itu kan karena maps di HP Ayah error. Jangan dibuka lagi aib masa lalu."

Tawa mereka berdua pecah. Malam itu, mereka kembali merasakan denyut asmara yang mungkin sedikit meredup karena rutinitas. Mereka sadar, cinta itu seperti tanaman, harus terus disiram dengan perhatian, apresiasi, dan momen-momen intim seperti malam itu.

Di tengah keheningan malam Murung Pudak, Hifni menatap Rina, kali ini bukan karena ada maunya, tapi karena rasa syukur yang melimpah. Tujuh tahun pernikahan, satu anak yang lucu, pekerjaan yang mapan sebagai PNS, dan yang terpenting, pasangan hidup yang luar biasa. Apalagi yang bisa diminta?

"Rina, aku sayang kamu," ucap Hifni tulus, tangannya kembali menggenggam tangan Rina.

Rina membalas genggaman Hifni. "Aku juga sayang kamu, Mas."

Malam itu, di bawah taburan bintang-bintang Tabalong, Hifni dan Rina merevitalisasi kembali janji pernikahan mereka. Mereka mungkin hanya sepasang PNS biasa di daerah, tapi kebahagiaan mereka luar biasa. Mereka telah menemukan cara untuk merawat bara asmara di tengah dinginnya birokrasi dan tantangan kehidupan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default