Malam tiba di Hutan Evergreen, membawa serta ketegangan yang memuncak. Dengan kemampuan baru dan intelijen penuh berkat Zara, trio monster—ditambah Zara yang bersembunyi di kejauhan dengan tabletnya—memulai serangan terakhir mereka ke Markas Besar Fase 2. Misi mereka kali ini bukan lagi sabotase, melainkan penangkapan Arsitek, Elara Arsitek, dan penghancuran Bio-Transmutator.
"Zara, kamu awasi pergerakan dari bukit pengamatan," instruksi Spinner melalui saluran komunikasi darurat yang dibuat dari serat sutra dan teknologi Zara. "Beri kami peringatan jika ada bala bantuan datang."
"Siap, party Spinner!" jawab Zara bersemangat.
Spinner memimpin jalan, menggunakan Jaring Api barunya untuk membakar pagar kawat berduri dalam keheningan yang cepat. Gerbang terbuka. Leo, menggunakan Cakar Api Bayangannya, melesat masuk, melumpuhkan penjaga pos jaga dalam sekejap mata.
Markas itu sekarang menjadi dungeon yang hidup, penuh dengan tentara bayaran yang waspada. Trio itu bergerak melalui lorong-lorong yang terang benderang, menghindari kamera yang sudah diretas Zara, menuju jantung markas: ruang kendali utama di mana Arsitek berada, dan ruang bawah tanah tempat Bio-Transmutator bekerja.
"Bumble, Leo, kita bagi tugas," putus Spinner. "Bumble dan aku ke ruang kontrol utama. Leo, kau ke ruang bawah tanah, hancurkan mesin itu. Kita bertemu di ruang kontrol setelah misi selesai."
"Dimengerti," jawab Leo.
"Siap menyengat!" dengung Bumble.
Leo menghilang ke dalam bayangan dan bergerak ke bawah, menuju ruang mesin. Ruangan itu penuh dengan pipa-pipa raksasa dan mesin aneh Bio-Transmutator yang bergemuruh, menyedot energi magis hutan dan mengubahnya menjadi cairan industri yang beracun. Dengan auman marah, Leo menyerang mesin itu dengan Cakar Api Bayangannya. Cakaran api merobek logam dan menyebabkan kerusakan parah, memicu alarm sekunder yang memekakkan telinga.
Di lantai atas, Spinner dan Bumble mencapai ruang kontrol utama. Pintu baja terkunci rapat.
"Ini dia pertarungan bosnya," kata Spinner.
Bumble menggunakan Sengatan Berantainya pada panel kunci digital, menyebabkan seluruh sistem listrik di ruang kontrol kacau balau, membuat pintu terbuka paksa.
Di dalam, Elara Arsitek sedang menatap monitornya, ekspresinya dingin. Dia mengenakan pakaian bisnis yang elegan, tidak terganggu oleh kekacauan di luar. Ketika Spinner dan Bumble masuk, dia bahkan tidak terkejut.
"Jadi, ini 'monster' yang membuat keributan di properti saya," katanya dengan suara datar dan menghina. "Laba-laba jelek dan lebah yang terlihat stres. Saya Arsitek, pemilik tunggal Primaterra Mining Corp. Kalian mengganggu investasi saya."
"Kau menghancurkan rumah kami, wanita jahat!" dengus Bumble. "Dan kau terlihat sangat membosankan dengan pakaian kantormu di tengah hutan!"
"Rumah?" Arsitek tertawa. "Ini hanya lahan tak terpakai yang penuh dengan pohon tua. Saya memanfaatkannya. Saya menciptakan peradaban, efisiensi. Kalian hanyalah hama yang menghalangi kemajuan."
"Kami adalah penjaga alam," kata Spinner dengan tenang, merentangkan kaki-kakinya. "Dan kami datang untuk menghentikanmu."
Pertarungan dimulai. Arsitek bukanlah wanita kantoran biasa. Dia mengeluarkan sebuah tongkat metalik dari balik mejanya, yang memanjang menjadi semacam tongkat listrik. Dia memiliki refleks cepat dan kemampuan bertarung jarak dekat yang mengejutkan.
Arsitek mengayunkan tongkatnya, menciptakan gelombang kejut listrik ke arah Spinner dan Bumble. Spinner menghindar dengan lincah, menggunakan Jaring Api untuk mencoba memerangkap Arsitek, tetapi wanita itu memblokir jaring dengan tongkatnya, membakar sutra itu seketika.
Bumble terbang cepat, mencoba menggunakan Sengatan Berantai, tetapi Arsitek menggunakan tongkatnya seperti penangkis petir, mengalihkan sengatan listrik Bumble kembali ke dinding.
"Kalian kuat, untuk ukuran hama," kata Arsitek, ekspresinya masih tanpa emosi.
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar terdengar dari bawah tanah. Lampu di ruang kontrol mulai berkedip-kedip. Bio-Transmutator telah hancur.
"Leo berhasil!" seru Bumble penuh kemenangan.
Ekspresi dingin Arsitek akhirnya retak, berubah menjadi amarah murni. "Makhluk sialan! Kalian menghancurkan proyek bernilai miliaran Dolar!"
Dia menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang lebih besar. Pertarungan menjadi lebih intens. Arsitek sangat kuat, tetapi dia sendirian menghadapi dua monster yang bekerja sama secara mulus.
Di luar, Zara melihat bala bantuan tentara bayaran tiba di gerbang, dipimpin oleh Pak Budi.
"Spinner, bala bantuan datang! Cepat selesaikan pertarungan!" teriak Zara melalui komunikasi.
Spinner dan Bumble menatap Arsitek, yang terengah-engah tapi masih siap bertarung. Mereka harus mengalahkannya sekarang. Mereka menyatukan serangan mereka. Bumble terbang tinggi, mengalihkan perhatian Arsitek, sementara Spinner merayap di balik panel kontrol.
"Dia kuat, tapi dia sombong," bisik Spinner pada Bumble. "Dia hanya menggunakan tongkatnya secara ofensif. Dia tidak bertahan di kakinya."
Bumble mengangguk. Dia berpura-pura menyerang lagi, tapi kali ini, sengatannya mengeluarkan semacam feromon khusus—racun tidur yang ia simpan untuk keadaan darurat. Arsitek, fokus pada serangan listrik, tidak menyadari feromon itu.
Arsitek menghirup udara, dan wajahnya langsung memucat. Matanya mulai terkulai. "Apa... apa ini?"
"Alergi serbuk sari akut," kata Bumble dengan seringai lebah. Racun tidur bekerja cepat. Elara Arsitek terhuyung, tongkatnya jatuh ke lantai, dan dia pingsan, jatuh ke tumpukan kabel yang putus.
Pintu ruang kontrol terbuka lagi. Leo, dengan cakar masih berasap dari perusakan mesin, berdiri di sana.
"Dia kalah?" tanyanya.
"Ya," kata Spinner. "Pertarungan bos selesai."
Mereka telah mengalahkan dalang kejahatan. Tapi pertempuran di luar belum berakhir. Mereka harus menghadapi bala bantuan tentara bayaran dan memastikan kemenangan mereka permanen.
