Bab 10: Piknik di Lereng Bukit

Bab 10: Piknik di Lereng Bukit

Lev
0
Novel fantasi slice-of-life tentang dua elf terakhir, Eva dan Andriy, yang bertemu tak terduga di Greenland. Kisah persahabatan, rahasia, dan kehidupan abadi di dunia modern.


Hari Minggu pertama mereka di Islandia, saat toko Runa tutup, Eva dan Andriy memutuskan untuk menghabiskan hari di luar. Hekla menyarankan sebuah lereng bukit di luar kota yang menawarkan pemandangan teluk yang indah. Mereka mengemas keranjang piknik berisi roti dan kue buatan Freyja, buah-buahan, dan kopi dari kafe Hekla. Ini terasa seperti hal yang sangat normal, sesuatu yang dilakukan oleh manusia, dan mereka berdua menikmatinya.

Mereka mendaki lereng bukit dengan langkah yang mudah, meskipun bagi manusia, itu akan menjadi perjalanan yang melelahkan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga liar dan rumput yang basah. Di puncak, mereka menemukan tempat yang sempurna: sebuah batu besar yang menghadap ke teluk, di mana ombak biru menghantam pantai berbatu. Matahari musim dingin bersinar hangat, tetapi angin tetap menusuk.

Mereka membentangkan selimut di atas batu dan duduk, mengamati pemandangan. Andriy mengeluarkan sepotong kayu kecil dari sakunya dan mulai memahatnya dengan pisau saku, sebuah kebiasaan yang tidak bisa ia lepaskan. Eva mengamati Andriy, memandangi tangannya yang terampil, dan ia menyadari betapa ia telah merindukan pemandangan seperti ini. Bukan pemandangan alam, melainkan pemandangan seorang teman yang bisa ia ajak berbagi keheningan.

"Apakah kamu merindukan hutan?" tanya Eva.

Andriy berhenti memahat, memandangi teluk. "Kadang-kadang. Terutama saat aku melihat kayu. Tapi, aku juga menyukai ini. Aku menyukai cara dunia berubah."

"Aku tidak," kata Eva jujur. "Aku selalu merasa seperti dunia meninggalkanku. Seolah-olah aku terdampar di masa lalu."

"Aku tahu," jawab Andriy. "Tapi sekarang, kita tidak harus terdampar sendirian."

Mereka makan kue dan minum kopi, dan untuk sesaat, mereka melupakan keabadian mereka. Mereka berbicara tentang hal-hal sepele, tentang rencana mereka untuk toko, tentang bagaimana mereka akan mendekorasi toko untuk musim liburan. Mereka tertawa, dan tawa mereka terasa seperti melodi kuno yang familiar di tengah lanskap modern.

Saat matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan warna oranye dan merah muda, Andriy mengeluarkan ukiran kayu yang ia pahat. Itu adalah ukiran kecil berbentuk dua burung yang terbang bersama, satu di samping yang lain.

"Ini untukmu," katanya, menyodorkan ukiran itu kepada Eva.
Eva menerimanya dengan tangan bergetar. Ia melihat detail ukiran itu, bagaimana Andriy berhasil menangkap gerakan dan kebersamaan burung-burung itu. "Ini indah," bisik Eva.

"Mereka adalah kita," kata Andriy. "Terbang bersama, ke mana pun kita pergi."

Eva menatap ukiran itu, matanya berkaca-kaca. Ia memeluk Andriy, sebuah pelukan yang penuh dengan rasa syukur dan kelegaan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa seperti ia memiliki rumah. Bukan rumah dalam arti sebuah bangunan, tetapi rumah dalam arti sebuah persahabatan, sebuah ikatan yang lebih kuat daripada waktu.

Mereka duduk di sana, di puncak bukit, mengamati matahari terbenam. Angin dingin meniup rambut mereka, tetapi di hati mereka, ada kehangatan yang tidak bisa dilenyapkan oleh dinginnya angin. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi mereka tahu mereka akan menghadapinya bersama. Di sebuah lereng bukit di Islandia, dua elf terakhir menemukan kedamaian, dan persahabatan mereka, yang abadi seperti mereka, baru saja dimulai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default