BAB 13: Aisha Sang Influencer Kampus ULM

BAB 13: Aisha Sang Influencer Kampus ULM

Lev
0

Kisah Aisha Kim yang inspiratif segera menyebar. Tidak hanya di majelis taklim ibu-ibu, tetapi juga di kalangan akademisi dan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM), tempat Aisyah Humaira berkuliah. Aisyah, si organisatoris ulung, melihat ini sebagai peluang besar untuk acara kampusnya.

"Tante Aisha, maukah Tante jadi pembicara tamu di acara talk show organisasi Aisyah di kampus?" pinta Aisyah saat makan siang. "Temanya 'Dari Seoul Menuju Halal Life Style: Tantangan dan Peluang Muslim Muda di Era Global'."

Aisha terkejut. Meskipun ia sering berbicara di depan publik sebagai chef profesional, berbicara tentang pengalaman spiritualnya di depan ratusan mahasiswa adalah hal yang berbeda. Ia merasa belum pantas.

"Aduh, Aisyah, Tante bukan ustadzah. Tante cuma chef biasa," tolak Aisha halus.

"Bukan soal ustadzah atau bukan, Tante. Justru karena Tante chef dan mualaf, kisah Tante itu otentik dan relate banget sama anak muda sekarang. Mereka butuh inspirasi nyata," bujuk Aisyah lagi, menunjukkan bakat organisatorisnya dalam meyakinkan orang.

Anindya ikut mendukung. "Betul itu, Aisha. Sharing pengalamanmu bisa membuka mata banyak orang."

Akhirnya, Aisha setuju. Hari H acara talk show pun tiba. Auditorium ULM dipenuhi oleh ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas. Mereka penasaran dengan sosok Aisha Kim, chef dari Korea Selatan yang memilih Islam.

Anindya, Lev, dan anak-anak ikut hadir untuk memberikan dukungan moral. Lev Ryley, si tech-dad, sibuk menyiapkan slide presentasi untuk Aisha, memastikan semua berjalan lancar dari sisi teknis.

Aisha naik ke panggung dengan sedikit gugup. Namun, saat ia mulai bercerita—dibantu Aisyah sebagai moderator dan penerjemah—rasa gugupnya menghilang. Ia berbicara tentang bagaimana industri kuliner yang keras di Seoul membuatnya mencari ketenangan jiwa, bagaimana arsitektur tradisional Korea memberinya petunjuk, dan bagaimana pencariannya berujung pada hidayah Islam.

Ia juga berbagi tips praktis tentang halal lifestyle di negara non-muslim, tentang pentingnya membaca label bahan makanan, dan pentingnya komunitas.

"Menjadi seorang Muslim di Korea itu seperti menjadi permata langka. Kita harus menjaga diri kita agar tetap bersinar, meskipun di tempat yang gelap," kata Aisha, membuat hening seisi ruangan.

Momen pencerahan terjadi saat sesi tanya jawab. Seorang mahasiswi bertanya, "Tante Aisha, sebagai chef terkenal, apa menu Korea halal yang paling Tante rekomendasikan untuk kami buat di kosan?"

Aisha tersenyum. "Bibimbap! Seperti yang saya buat di rumah Anindya. Mudah, sehat, dan bisa dimodifikasi dengan sayuran lokal sini. Dan jangan lupa, kimchi halal buatan sendiri!" jawabnya penuh semangat.

Seketika, suasana yang tadinya khusyuk berubah menjadi riuh. Para mahasiswa mencatat resep itu. Aisha, yang tadinya hanya seorang tamu, mendadak menjadi influencer kuliner halal di kalangan mahasiswa ULM. Akun media sosialnya langsung dibanjiri permintaan pertemanan dan pertanyaan tentang resep.

Anindya, yang menonton dari kursi penonton, tersenyum bangga. Ia mengambil ponselnya dan membuat IG Story: "Aisha Kim, Sang Chef Inspiratif dari Seoul. Mengajarkan Islam dan Bibimbap di Kampus ULM! #NovelIslami #AishaKim #ULMBanjarmasin #ChefHalal."

Di sebelahnya, Lev Ryley berbisik, "Umi, kayaknya Aisha bakal lebih terkenal dari kamu deh di Banjarmasin."

Anindya mencubit lengan Lev pelan. "Biarin, biar persahabatan kita makin viral!"

Acara talk show itu sukses besar. Aisha dikerumuni mahasiswa yang ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Ia tidak menyangka kunjungannya ke Banjarmasin akan membawanya kembali ke panggung publik, kali ini bukan sebagai chef bintang lima yang arogan, tetapi sebagai seorang muslimah yang berbagi inspirasi dan resep kebahagiaan. Aisha Kim, sang mualaf dari Seoul, telah menemukan panggung barunya di Serambi Mekkah-nya Kalimantan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default