Beberapa minggu setelah salju pertama turun, Lev merasa Stockholm tidak lagi terasa asing. Kucing garong bernama Kalle masih rutin menemaninya di sore hari, dan Anatasya semakin menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-harinya, baik di perpustakaan maupun di luar jam kerja. Persahabatan mereka tumbuh dengan cara yang unik, penuh dengan candaan ringan tentang perbedaan budaya dan selipan makna yang lebih dalam.
Suatu malam, sekitar pukul sepuluh, Lev menyadari bahwa persediaan makanannya habis total. Lemari esnya kosong melompong. Ia tidak tahu mengapa ia bisa lupa, mungkin karena pikirannya masih terlalu sering melayang pada kenangan lama. Ia menghela napas, lalu menelepon Anatasya.
"Anatasya, maaf mengganggu selarut ini," kata Lev di seberang telepon.
"Ada apa, Lev? Apa terjadi sesuatu?" tanya Anatasya, suaranya terdengar khawatir.
"Tidak, tidak ada. Hanya saja... persediaan makananku habis. Aku lupa berbelanja," jawab Lev, merasa malu.
"Ya ampun, Lev! Tentu saja kamu lupa, kamu kan terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya agar tidak terlalu sering memikirkan Vania," Anatasya menggoda, namun dengan nada yang hangat. "Oke, tenang. Ada supermarket yang buka 24 jam di dekat sini. Aku akan menemanimu."
"Tapi, Anatasya... ini sudah larut malam," Lev ragu-ragu.
"Justru itu! Seru kan, belanja di tengah malam? Ayo, Lev, pakai mantelmu. Kita berangkat!"
Tiga puluh menit kemudian, Lev dan Anatasya sudah berada di dalam supermarket yang nyaris kosong. Anatasya mendorong troli, sedangkan Lev mengikutinya dengan canggung. Suasana supermarket yang sepi membuat suara troli yang mereka dorong menggema.
"Lev, kamu butuh apa?" tanya Anatasya, melihat Lev yang hanya terdiam.
"Aku butuh... nasi," jawab Lev.
"Nasi?" Anatasya mengerutkan kening. "Bukankah kamu sudah punya banyak nasi?"
"Habis," jawab Lev singkat.
Anatasya tertawa. "Kamu ini, Lev. Tinggal di Swedia, makan nasi. Kamu harus mencoba makanan lokal!"
"Aku butuh nasi, Anatasya," Lev bersikeras.
Mereka akhirnya menemukan rak beras. Lev melihat beberapa pilihan, tapi ia merasa bingung. Anatasya, yang melihat Lev kebingungan, langsung mengambil sebuah karung beras.
"Ambil yang ini saja, Lev. Ini yang paling enak," kata Anatasya.
"Tapi... apakah ini halal?" tanya Lev, ragu-ragu.
"Astaga, Lev! Ini nasi, bukan daging! Nasi itu halal!" Anatasya tertawa terbahak-bahak.
Lev merasa malu. Ia mengangguk, lalu mengambil karung beras itu. "Maaf, aku hanya..."
"Tidak apa-apa, Lev. Aku mengerti. Kamu masih menyesuaikan diri," Anatasya menenangkan.
Mereka melanjutkan perjalanan ke bagian lain supermarket. Lev mengambil beberapa sayuran, rempah-rempah, dan ikan. Anatasya juga mengambil beberapa makanan ringan dan minuman.
"Anatasya, kenapa kamu beli ini banyak sekali?" tanya Lev, melihat troli Anatasya yang penuh.
"Aku akan makan ini sambil menonton film malam ini," jawab Anatasya.
"Menonton film? Sendirian?"
"Ya, tentu saja. Memangnya kenapa?"
Lev merasa sedih. Ia teringat saat ia dan Vania sering menonton film bersama di malam hari, di bawah selimut tebal. Anatasya, yang peka dengan perubahan ekspresi Lev, langsung menyentuh pundaknya.
"Lev, aku tidak sendirian. Aku ditemani kucingku, dan... aku ditemani kamu, meskipun kita tidak di tempat yang sama," kata Anatasya.
Lev tersenyum. "Terima kasih, Anatasya."
Setelah membayar di kasir, mereka berjalan pulang. Di luar, udara dingin menyambut mereka, namun kali ini terasa lebih hangat. Lev merasa bahwa ia tidak sendirian. Ia punya Anatasya, sahabat barunya yang selalu ada untuknya. Ia merasa bahwa ia bisa bahagia lagi, tanpa melupakan Vania. Ia siap untuk melanjutkan hidup.
