Mobil silver yang mengangkut keluarga kecil Lev melaju di jalur Pantura (Pantai Utara Jawa) menuju Tuban. Pemandangan di sepanjang jalan berubah menjadi khas pesisir: panas, kering, namun ramai dengan aktivitas perdagangan dan industri. Tujuan mereka kali ini adalah makam Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim, putra dari Sunan Ampel yang sebelumnya sudah mereka ziarahi di Surabaya.
"Mas, Sunan Bonang ini kan anaknya Sunan Ampel, ya? Beliau ini metode dakwahnya gimana?" tanya Anindya, sambil menyeka keringat di dahi Aisyah. Udara di Tuban memang terasa lebih panas dibanding Lamongan.
"Betul, Nindya. Sunan Bonang ini terkenal karena pendekatan seninya yang luar biasa. Beliau menggunakan media wayang, suluk (puisi sufistik), dan alat musik bonang (sejenis gong kecil) untuk menyebarkan Islam. Beliau juga mendirikan pesantren di pesisir Tuban ini," jelas Lev.
Mereka tiba di area kompleks makam Sunan Bonang yang terletak di belakang Masjid Agung Tuban, tak jauh dari alun-alun kota. Suasana di sini sangat ramai. Ratusan peziarah dari berbagai daerah tumpah ruah, menciptakan keramaian yang nyaris mirip dengan suasana di Ar-Raudhah Martapura.
Lev harus ekstra sabar mencari tempat parkir. Setelah memarkir mobil, mereka berjalan kaki menuju kompleks makam yang dijaga ketat oleh petugas.
"Ramai sekali, Mas. Aisyah jangan sampai lepas tangannya, ya," pesan Anindya cemas.
Memasuki area makam, suasananya kembali berubah menjadi khusyuk. Meskipun ramai, lantunan tahlil dan doa dari ribuan mulut bersahutan, menciptakan gelombang spiritual yang kuat. Di tengah kerumunan itu, Aisyah yang digendong Lev, mulai rewel.
"Abi, panas! Abi, mau turun!" rengek Aisyah.
Lev mencoba menenangkan. "Sebentar, Nak. Kita berdoa dulu ya. Kita doakan Kakek Sunan Bonang."
Anindya dan Lev mencoba fokus berdoa di tengah keramaian. Lev merenungkan kebijaksanaan Sunan Bonang dalam berdakwah yang penuh seni dan kelembutan, mampu merangkul masyarakat Jawa saat itu yang masih kental dengan budaya Hindu-Buddha.
"Beliau mengajarkan kita bahwa Islam itu indah, Nindya. Lewat seni, lewat kelembutan, bukan paksaan atau kekerasan. Pesan ini penting banget, apalagi di zaman sekarang," ujar Lev setelah selesai berdoa.
Setelah ziarah, mereka keluar dari area makam dan berjalan menuju area alun-alun kota Tuban yang luas. Di sini, suasana lebih santai. Anindya melihat banyak pedagang kaki lima menjual makanan ringan dan oleh-oleh khas Tuban.
Aisyah yang sudah turun dari gendongan langsung berlari ke area pantai kecil di dekat alun-alun.
"Abi, Umi, ada pantai!" serunya gembira.
Mereka membiarkan Aisyah bermain pasir sebentar sambil mereka menikmati Es Dawet Siwalan, minuman khas Tuban yang segar dan viral di media sosial.
"Mas, kelihatannya kita bisa santai di sini sore ini. Tuban lumayan nyaman kotanya," usul Anindya.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa hari di Tuban, menikmati suasana pesisir, dan merasakan kehidupan bermasyarakat di kota tua ini. Mereka makan malam di pinggir pantai, menikmati ikan bakar segar.
Di malam hari, suasana alun-alun Tuban semakin hidup.
Banyak keluarga yang datang bersantai. Lev dan Anindya melihat interaksi sosial yang hangat antar warga, pedagang, dan peziarah.
Kunjungan ke Tuban memberikan perspektif baru tentang dakwah yang adaptif dan inklusif. Nazar mereka di Tuban tuntas, dan mereka siap melanjutkan perjalanan ke Jawa Tengah esok hari, ke kota Demak yang bersejarah.
