Bab 15: Konser Alam Liar, Versi Damai

Bab 15: Konser Alam Liar, Versi Damai

Lev
0
Beberapa hari berlalu sejak insiden di Tahura Sultan Adam. Berita viral tentang "serangan babi hutan raksasa" sudah mereda, digantikan oleh berita politik lokal dan harga karet. Hidup kembali normal, setidaknya di permukaan.

Lev, Vania, dan Anatasya menghabiskan hari-hari mereka di kampus, menjalani kehidupan mahasiswa biasa. Tapi setiap sore, mereka berkumpul di sebuah lapangan tersembunyi dekat rumah Lev untuk berlatih mengendalikan summon mereka.

Stegosaurus Rank S milik Lev, yang mereka panggil "Gogo" (singkatan dari Gogonya Banjarmasin), ternyata adalah herbivora yang sangat tenang dan ramah, meski ukurannya raksasa. Ia suka makan daun-daunan dan rumput di lapangan itu, diawasi oleh Bekas si Bekantan dan Oyen si kucing oren.
"Astaga, Gogo, kamu makan rumput kayak kambing aja," komentar Vania, mengelus lempengan tulang Gogo yang kini sudah sembuh total berkat perawatan Anatasya.

"Dia Rank S, Van, tapi hatinya Rank Cuddly," canda Lev, memotret Gogo yang sedang makan rumput dengan lahap.

Profesor Rahmat muncul sore itu, mengawasi latihan mereka. "Bagaimana tugas 'Konser Alam Liar' kalian? Saya butuh laporannya minggu depan."

Trio itu saling pandang. Dokumentasi mereka saat bertarung melawan Genesis tentu saja tidak bisa dijadikan laporan.

"Kami akan melakukannya hari ini, Pak," kata Anatasya mantap. "Versi damai."

"Ide bagus," Profesor tersenyum. "Gunakan apa yang sudah kalian pelajari tentang ikatan dan niat murni."

Maka dimulailah "Konser Alam Liar, Versi Damai" mereka di lapangan tersembunyi itu.

Anatasya bertugas menciptakan suasana harmonis. Dengan liontinnya, ia memfokuskan energi ketenangan alam ke area lapangan. Bunga-bunga kecil di sekitar mereka tampak sedikit lebih segar, dan angin sepoi-sepoi terasa lebih nyaman.

Vania bertugas sebagai koreografer. Ia mengarahkan Oyen dan Gogo untuk berinteraksi. "Oyen, coba kamu lari di punggung Gogo! Lev, siap motret!"

Oyen, si kucing oren Rank E, melompat ke punggung Gogo yang sebesar mobil. Stegosaurus raksasa itu tampak tenang saja, membiarkan Oyen berlarian di punggungnya seolah itu taman bermain pribadi. Pemandangan kucing kecil bermain di punggung dinosaurus purba itu adalah definisi sempurna dari absurditas komedi dan keajaiban alam.

Lev memotret tanpa henti. Kameranya menangkap momen-momen indah: Bekas si Bekantan berbagi daun dengan Gogo, Oyen yang tertidur di antara lempengan tulang Gogo yang hangat karena matahari sore, dan Anatasya yang sibuk mencatat interaksi ekologis yang unik itu.

"Ini baru kearifan lokal," gumam Lev sambil tersenyum. "Harmonisasi antara Rank E, D, dan S."

Profesor Rahmat mengawasi dari kejauhan, hatinya tenang. Anak didiknya sudah menemukan esensi sejati menjadi seorang summoner. Mereka tidak lagi mencari kekuatan mentah, tapi mencari keseimbangan dan ikatan.

Setelah sesi foto selesai, mereka duduk kelelahan di rumput. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit Banjarmasin dengan warna oranye keemasan.

"Tugas kita pasti dapat nilai A plus," kata Vania bangga, mengelus Oyen yang sudah pulas.

"Harusnya sih iya," Anatasya tersenyum. "Kita berhasil menunjukkan bahwa ikatan dan pemahaman ekologi jauh lebih kuat daripada paksaan."

Tiba-tiba, ponsel Anatasya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

"Kerja bagus dengan 'konser' kalian. Tapi permainan baru saja dimulai. Kami awasi kalian, anak-anak."

Wajah Anatasya langsung pucat. Ia menunjukkan pesan itu kepada Lev dan Vania. Senyum mereka langsung luntur.
Profesor Rahmat mendekati mereka. "Organisasi Genesis. Mereka punya mata di mana-mana."

"Mereka ngintai kita?!" Vania marah, gelangnya langsung menyala merah.

"Tenang, Vania," Profesor menenangkan. "Ini artinya mereka takut pada kalian. Mereka takut pada kekuatan ikatan sejati."

Profesor Rahmat menatap langit Banjarmasin yang mulai gelap. "Kalian sudah lulus dari tahap pemula. Sekarang saatnya menghadapi tantangan yang lebih besar. Genesis tidak akan tinggal diam setelah kekalahan mereka."

Lev menatap Gogo, Bekas, dan Oyen yang bermain dengan tenang. Tanggung jawab di pundaknya terasa semakin berat. Tapi melihat teman-temannya di sampingnya, ia tahu mereka tidak sendirian.

"Siapapun kalian, Genesis," bisik Lev pada dirinya sendiri, "kami nggak akan takut."

Babak kehidupan slice of life mereka mungkin sudah berakhir. Babak petualangan dan pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai di Kota Seribu Sungai ini. Mereka siap. 

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default