Pagi itu, cuaca di Interlaken cerah, pertanda baik untuk petualangan terbesar mereka: mendaki Jungfraujoch, yang dijuluki "Puncak Eropa" atau Top of Europe. Destinasi ini adalah stasiun kereta tertinggi di Eropa, dengan pemandangan gletser dan salju abadi.
Semua anggota keluarga sudah mengenakan pakaian musim dingin tertebal mereka, kecuali satu orang: Ghina Qalbi, si lincah berusia 9 tahun.
"Ghina, jaket waterproof kamu mana, Nak?" tanya Anindya panik saat mereka bersiap keluar chalet.
Ghina menunjuk ke tempat tidur dengan wajah polos. "Di sana, Bu. Ghina nggak suka warna hijaunya, jelek!"
"Ghina! Kita mau ke tempat yang suhunya minus derajat Celsius! Bukan ke mal! Nanti kamu beku!" Anindya mulai panik.
Lev menghela napas. "Sudah, pakai jaket Ayah yang paling kecil dulu. Nanti di atas kita sewa atau beli." Ghina akhirnya memakai jaket Lev yang kedodoran dengan wajah cemberut. Drama jaket pertama pun terjadi.
Mereka naik kereta gunung yang ikonik dari Interlaken Ost, melewati Grindelwald dan Kleine Scheidegg, sebelum akhirnya menembus terowongan gunung menuju puncak Jungfraujoch. Perjalanan kereta ini sendiri adalah sebuah pengalaman magis. Pemandangan di luar jendela berubah drastis dari padang rumput hijau menjadi pemandangan batu-batu curam, lalu salju tebal yang menutupi segalanya.
"Masya Allah! Salju beneran, Yah!" seru Rayyan, matanya berbinar melihat dunia putih di luar jendela.
Tiba di stasiun Jungfraujoch yang berada 3.454 meter di atas permukaan laut, suhu udara langsung terasa sangat dingin. Mereka segera melesat ke area Sphinx Observatory dan teras pandang luar ruangan.
Pemandangan dari puncak luar biasa indah. Lautan salju, gletser Aletsch (gletser terpanjang di Alpen), dan puncak-puncak gunung Alpen lainnya terlihat megah di bawah langit biru yang cerah.
"Allahu Akbar! Indah sekali ciptaan-Mu, Ya Rabb!" Anindya berbisik lirih, terpesona oleh keagungan alam. Air matanya menetes haru. Semua drama logistik dan belanja online terasa tidak berarti dibanding pemandangan di depan matanya.
Anak-anak, yang tadinya diam, langsung histeris. Rayyan dan Ghina, meski kedinginan (jaket Lev yang kedodoran tidak cukup membantu Ghina), langsung berlarian ke area salju, mencoba menyentuh salju abadi. Mereka bermain lempar salju, membuat malaikat salju, dan tertawa riang.
Maryam sibuk membuat sketsa pemandangan gletser, mencoba menangkap skala alam yang luar biasa itu. Aisyah membantu Anindya mengambil foto dan video. Anindya tak lupa live Instagram-nya dari puncak Eropa, menunjukkan salju dan pemandangan luar biasa kepada followers di Banjarmasin.
"Halo followers! Nih, di Puncak Eropa! Dingin banget, tapi keren maksimal! Jangan lupa like ya! #Jungfraujoch #TopOfEurope #Swiss #KeluargaRyleyDiSwiss," serunya penuh semangat.
Setelah puas bermain salju, mereka masuk ke dalam area istana es (Ice Palace), sebuah gua es yang dipenuhi pahatan patung-patung es yang indah. Di sini, drama komedi kembali terjadi.
Anindya yang membawa bekal coklat batangan Swiss (yang dibeli di toko bawah sebelum naik) ingin membagikannya. Saat ia membuka bungkusnya, coklat yang sudah membeku karena suhu dingin terlepas dari tangannya dan jatuh tepat ke jaket putih Lev yang dipinjam Ghina.
"Astaghfirullah, coklatnya!" pekik Anindya. Coklatnya hancur dan mengotori jaket.
Lev, Ghina, dan Anindya panik mencoba membersihkan, sementara Aisyah, Maryam, dan Rayyan tertawa terbahak-bahak. Momen tumpahan coklat di istana es menjadi salah satu kenangan terlucu mereka.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di puncak, mereka turun kembali ke Interlaken dengan hati yang penuh dan memori indah. Jaket Ghina sedikit bernoda coklat, tapi wajah mereka semua berseri-seri.
Di kereta turun, mereka makan sisa coklat (yang bersih) dan roti lapis. Keindahan Jungfraujoch mengajarkan mereka tentang kebesaran Sang Pencipta, dan drama coklat mengingatkan mereka bahwa hidup ini penuh dengan kejutan tak terduga, yang kadang membuat kita tertawa. Puncak Eropa bukan hanya destinasi wisata, tapi juga tempat pelajaran hidup bagi keluarga Ryley.
