Bab 21: Percakapan Jantung di Balik Hujan

Bab 21: Percakapan Jantung di Balik Hujan

Lev
0
Pertanyaan Adam menggantung di udara, bercampur dengan aroma kopi dan suara rintik hujan. Jantung Maimunah berdebar kencang, suaranya seolah lebih keras dari hujan itu sendiri. Ia menatap Adam, mencoba mencari arti di balik tatapan mata Adam yang kini tidak lagi kelabu, melainkan penuh dengan binar harapan.

"Kenapa diam, Mun?" tanya Adam, tersenyum tipis. "Pertanyaanku sesulit itu?"

Maimunah menggeleng. Tenggorokannya tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia harus berbohong? Atau berkata jujur tentang perasaan yang mulai tumbuh di hatinya?

"Aku... aku nggak tahu," jawab Maimunah, suaranya bergetar.

Adam meraih tangan Maimunah, menggenggamnya dengan lembut. "Maimunah, aku tahu, ini mungkin terlalu cepat. Tapi aku nggak mau bohongi perasaanku. Setelah kecelakaan ini, aku sadar, hidup itu singkat. Aku nggak mau nyesel."

Maimunah menarik napas dalam-dalam. "Dam, aku... aku butuh waktu."

Adam mengangguk. "Tentu saja. Aku akan tunggu. Aku akan tunggu sampai kamu siap."

Maimunah merasa, ia adalah wanita yang paling beruntung di dunia. Setelah semua yang ia lalui, ia menemukan Adam. Seorang pria yang tulus, beriman, dan sabar.

"Tapi, Dam," kata Maimunah, "aku masih belum sempurna. Aku masih harus belajar banyak."

"Nggak ada manusia yang sempurna, Mun," jawab Adam. "Kita hijrah bareng-bareng. Kita saling mengingatkan."

Maimunah terharu. Ia merasa, Adam adalah jawaban dari doanya. Ia merasa, ia telah menemukan jalan pulang. Jalan pulang ke Allah.

Keesokan harinya, Maimunah menemui orang tua Adam. Ia menceritakan semuanya, tentang perasaannya pada Adam. Orang tua Adam tersenyum. Mereka merestui hubungan mereka.

"Kamu anak yang baik, Mun," kata ibu Adam, "kami senang, Adam punya kamu."

Maimunah tersipu.

Beberapa hari kemudian, Adam sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Maimunah, di sisi lain, memutuskan untuk tetap di Jakarta. Ia ingin ada di samping Adam.

Di apartemen Adam, mereka berdua duduk bersama. Adam sudah terlihat lebih baik. Wajahnya tidak lagi pucat, dan senyumnya sudah kembali.

"Mun," panggil Adam.

"Iya, Dam?"

"Aku... aku mau melamar kamu," kata Adam, suaranya bergetar.

Jantung Maimunah seakan berhenti berdetak. Ia menatap Adam, matanya melebar. Ia tidak bisa berkata-kata.

"Mun, kamu mau nikah sama aku?" tanya Adam.

Maimunah tersenyum. Air matanya tumpah. Bukan karena sedih, tetapi karena bahagia.

"Iya, Dam," jawab Maimunah, "aku mau."

Mereka berdua berpelukan. Maimunah merasa, ia telah menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak pernah ia sangka-sangka.

Maimunah, Adam, Zainab, dan Yumi kembali ke Rusia. Mereka kembali ke kehidupan mereka. Maimunah dan Adam, kini sudah bertunangan. Mereka berdua berjanji, akan menikah setelah Maimunah menyelesaikan kuliahnya.

Zainab dan Yumi merasa senang. Mereka merasa, mereka telah menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak pernah mereka sangka-sangka.

To be continued...

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default