Anindya dan Adam hidup dalam kebahagiaan. Mereka saling melengkapi, saling mengingatkan, dan saling menguatkan. Setiap hari adalah pembelajaran baru, setiap momen adalah kesempatan untuk semakin mendekatkan diri pada Allah. Mereka tahu, cinta mereka bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang pengabdian kepada Sang Pencipta.
Suatu siang, saat Anindya sedang mengajar di majelis taklim, ponselnya bergetar. Sebuah email masuk, namun bukan dari keluarga. Itu dari Jessica. Anindya merasa ragu untuk membukanya, mengingat perpisahan mereka yang tidak menyenangkan. Namun, ia merasa ada dorongan untuk membukanya.
Dengan tangan gemetar, ia membuka email itu. Isinya membuat air mata Anindya menetes, bukan karena sedih, melainkan karena haru.
Anin,
Aku tidak tahu apakah kamu masih ingat aku. Ini Jessica. Aku... aku minta maaf. Minta maaf atas semua kata-kata kasar yang dulu aku ucapkan. Aku minta maaf karena aku tidak bisa mengerti kamu.
Setelah kamu pergi, aku merasa ada yang hilang. Bukan hanya teman, tapi juga ketenangan. Aku melihat kamu di media sosial, di foto-foto yang kamu unggah bersama Adam. Kamu terlihat bahagia. Kamu terlihat tenang. Dan aku... aku merasa iri.
Aku mulai bertanya-tanya. Apa yang membuat kamu berubah? Apa yang membuat kamu bahagia? Lalu, aku bertemu dengan beberapa mahasiswa Muslim di kampus. Aku melihat mereka shalat, dan aku teringat kamu. Aku teringat bagaimana kamu terlihat damai saat salat.
Aku mulai mencari tahu. Aku membaca buku-buku tentang Islam. Aku merasa tertarik. Dan aku... aku sudah bersyahadat, Anin. Aku sekarang menjadi seorang Muslimah. Aku tahu ini mengejutkan, tapi ini semua karena kamu.
Terima kasih, Anin. Kamu adalah inspirasiku. Kamu adalah kado terindah yang Allah berikan untukku.
Anindya menangis terharu. Ia tidak pernah menyangka, perjalanannya akan menginspirasi orang lain. Ia tahu, kebaikan yang ia lakukan tidak sia-sia. Kebaikan itu berbuah, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain.
Malam harinya, ia menceritakan semuanya kepada Adam. Adam ikut merasa haru. "Lihat, Anin? Allah tidak pernah tidur. Allah melihat semua kebaikan yang kita lakukan, dan Allah membalasnya dengan cara yang tak terduga."
Anindya mengangguk, masih tidak percaya. "Aku tidak menyangka, Adam. Jessica... dia orang yang paling menentangku.
"Justru itu, Anin. Hidayah itu milik Allah. Dan Allah bisa memberikannya kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang paling tidak kita duga," kata Adam.
Kabar dari Jessica menjadi kado terindah bagi Anindya dan Adam. Itu adalah bukti nyata bahwa kebaikan yang mereka tebar tidak sia-sia. Itu adalah pengingat bahwa perjalanan mereka adalah perjalanan yang benar, yang membawa keberkahan bagi banyak orang. Kado itu adalah pengingat bahwa, di balik setiap ujian, ada hikmah yang menanti.
