Bus tingkat berwarna merah yang ditumpangi Zaydan berhenti di Wilmslow Road, atau yang lebih dikenal sebagai Curry Mile. Kawasan ini adalah jantung kehidupan Asia di Manchester—pusat aroma kapulaga, asap kebab, dan pendar lampu neon berwarna-warni yang biasanya membangkitkan gairah hidup. Namun bagi Zaydan, tempat ini kini terasa seperti museum kenangan yang menyakitkan.
Di trotoar yang basah, Zaydan berjalan gontai. Pakaian kerjanya masih lembap akibat hujan di Albert Square. Ia melewati restoran shisha dan deretan toko perhiasan emas yang berkilau, namun matanya hanya tertuju pada satu sudut: sebuah bangku kayu di depan kedai kopi kecil tempat ia dan Sarah dulu sering menghabiskan malam minggu dengan segelas Chai.
"Satu Karak Chai, tanpa gula," ucap Zaydan di depan konter.
Sang penjual, seorang pria paruh baya asal Pakistan yang sudah mengenal Zaydan bertahun-tahun, mengernyit melihat penampilan Zaydan yang berantakan. "Kau pucat sekali, Brother Zaydan. Ada masalah di kantor?"
Zaydan hanya tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Hanya ingin istirahat, Bashir. Istirahat yang panjang."
Ia membawa gelas kertas panas itu ke bangku kayu. Di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang tertawa dan berbelanja, Zaydan merasa seperti berada di dalam gelembung kedap suara. Dunianya sunyi. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet kulit yang tebal, lalu menatap isinya: tumpukan uang kertas Poundsterling dan beberapa kartu kredit premium.
Tiba-tiba, seorang pria tunawisma lokal duduk tak jauh darinya, menggigil kedinginan di bawah rintik gerimis yang kembali turun. Tanpa berpikir panjang, Zaydan melepas jas mahalnya—yang harganya setara dengan sebulan sewa apartemen—dan menyampirkannya ke bahu pria itu.
"Ini untukmu. Di kantongnya ada sisa uang tunai. Ambil semua," ucap Zaydan datar.
Pria tunawisma itu terbelalak. "Sir? Ini terlalu mahal. Anda... Anda baik-baik saja?"
Zaydan berdiri, meninggalkan gelas kopinya yang masih penuh. "Aku tidak membutuhkannya lagi. Aku akan segera pergi ke tempat di mana pakaian tidak lagi menentukan siapa kita."
Ia terus berjalan menyusuri Curry Mile, namun langkahnya kian berat. Pandangannya mulai kabur. Aroma rempah yang biasanya nikmat kini terasa mencekik, mengingatkannya pada kefanaan segala kenikmatan indrawi. Setiap langkahnya adalah zikir pelepasan. Ia mulai mengirimkan pesan singkat ke pengacaranya melalui ponsel: “Siapkan dokumen hibah untuk seluruh asetku atas nama Manchester Central Mosque. Aku ingin semuanya selesai minggu ini.”
Zaydan merasa jiwanya mulai terlepas dari ikatan-ikatan duniawi yang selama ini membelenggunya. Baginya, Manchester dengan segala gemerlapnya hanyalah sebuah halte yang sangat berisik, dan ia sedang menunggu bus terakhir yang akan membawanya pulang ke haribaan Sang Pencipta.
Tiba-tiba, dadanya berdenyut hebat. Rasa sakit yang tajam menusuk jantungnya, membuatnya harus berpegangan pada tiang lampu jalan. Di bawah pendar lampu neon hijau dari sebuah toko kelontong, Zaydan berbisik lirih, "Apakah ini waktunya, Ya Allah? Jika iya, mudahkanlah..."
