Kepungan di Dermaga Tikus
Lolongan anjing pemburu bertenaga Aether semakin mendekat, mencakar-cakar pintu kayu gudang rempah-rempah yang rapuh. Suara derap langkah kaki ratusan prajurit berzirah dari Ordo Mawar Besi menggetarkan debu-debu di langit-langit bangunan. Kabut Sungai Thames yang semula tenang kini bergejolak, terdistorsi oleh pancaran energi pengepung yang sangat masif.
"Kita terkepung dari segala arah," bisik Anatasya. Tangan kanannya menggenggam erat gagang rapier perak miliknya, sementara ujung sepatunya mulai memancarkan embun beku yang merambat pelan di lantai kayu. "Jumlah mereka setidaknya dua peleton penuh."
Lev Ryley mendengus, mata abu-abunya berkilat menantang. "Baguslah. Aku belum selesai melakukan pemanasan dengan tikus-tikus Menara London itu." Percikan petir hitam kembali mencuat dari permukaan kulit tangannya, mengeluarkan suara berisik yang memekakkan telinga.
"Jangan bodoh, Lev!" Dokter Cindy memotong dengan nada tajam khas seorang mentor. "Pusat komando mereka membawa Aether-Caster tingkat tinggi malam ini. Jika kau melepaskan kekuatan Iron Fenrir di tempat sempit seperti ini, seluruh dermaga akan runtuh dan membunuh kita semua."
Vania Larasati melangkah ke depan, berdiri di antara Lev dan Anatasya. Wajahnya tetap tenang, memancarkan aura ketenangan seorang master strategi dari tanah Nusantara. Di sela-sela jarinya, tiga lembar kertas mantra juda-fuda berwarna kuning keemasan sudah terselip.
"Biarkan aku yang membuka jalan keluar," ujar Vania tenang. "Seni segelku bisa memanipulasi persepsi indra mereka selama beberapa menit."
Brakkk!
Pintu gudang hancur berkeping-keping. Lima ekor anjing pemburu raksasa dengan mata menyala merah—makhluk tiruan yang diciptakan dari Aether bumi—melompat masuk dengan taring-taring besi yang terhunus. Di belakang mereka, belasan prajurit panah otomatis telah membidikkan senjata mereka.
"Sekarang, Vania!" seru Dokter Cindy.
Vania melemparkan ketiga kertas mantranya ke udara, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya membentuk segel penutup berbentuk kuncup bunga teratai.
"Seni Segel Nusantara: Kabut Semu Roro Jonggrang!"
Wushhh!
Kertas-kertas itu meledak tanpa suara, mengeluarkan kepulan asap putih tebal yang berbau harum bunga kenanga. Anehnya, asap ini tidak memedihkan mata Lev atau Anatasya, melainkan langsung menyelimuti pandangan para prajurit Ordo Mawar Besi. Bagi para pengepung, gudang itu mendadak terlihat kosong melompong, sementara suara langkah kaki Lev dan yang lainnya terdengar menjauh ke arah barat—sebuah teknik ilusi (Genjutsu) tingkat tinggi.
"Mereka lari ke arah jembatan! Kejar!" teriak komandan ksatria yang tertipu oleh ilusi suara Vania.
Rahasia dari Kota Industri Utara
Memanfaatkan momen kekacauan tersebut, Dokter Cindy memimpin rombongan keluar melalui pintu rahasia di bagian belakang gudang, langsung menuju ke sebuah kapal barang kecil yang telah bersandar di ceruk tersembunyi Sungai Thames.
"Naik, cepat!" perintah Dokter Cindy.
Kapal itu bergerak membelah sunyinya sungai, menjauh dari pusat kota London yang mulai bising oleh alarm pengepungan. Di dalam kabin kapal yang sempit dan remang-remang, ketegangan perlahan mereda, digantikan oleh rasa ingin tahu yang besar di antara ketiga remaja tersebut.
Lev duduk bersandar di dinding kapal, membersihkan noda darah di wajahnya. Matanya tertuju pada rapier perak milik Anatasya yang diletakkan di atas meja kayu. Bilah pedang itu tidak seperti pedang Eropa pada umumnya; permukaannya dihiasi ukiran huruf-huruf kuno Slavia yang terus-menerus memancarkan suhu dingin, seolah-olah bilah itu ditempa dari es abadi.
"Jadi, Anatasya... kau bilang kau melarikan diri dari Manchester?" Lev memulai pembicaraan, nadanya ketus namun tersirat rasa penasaran. "Kupikir kota di utara itu hanya dipenuhi oleh pandai besi dan mesin uap alkimia. Mengapa pengguna Aether es sepertimu bisa dikejar-kejar sampai ke London?"
Anatasya menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di bilah pedang. "Manchester memang kota pandai besi, Lev. Tapi saat ini, kota itu telah berubah menjadi laboratorium rahasia bagi Ordo Mawar Besi. Mereka memaksakan penggabungan antara teknologi mesin uap alkimia dengan energi spiritual manusia."
Gadis berambut perak itu menjeda kalimatnya, matanya menyipit penuh kepedihan. "Keluargaku adalah garis keturunan bangsawan pelarian dari Eropa Timur yang menjaga Misteri Pedang Es—senjata kuno yang mampu mengendalikan fluktuasi energi inti bumi. Ordo merebut paksa bengkel pandai besi kami di Manchester untuk membuat prototipe senjata pemusnah massal. Aku berhasil lolos dengan membawa pedang ini, namun mereka tidak akan berhenti memburuku."
Vania Larasati yang sedang merapikan kertas-kertas mantranya mengangguk paham. "Itu menjelaskan segalanya. Distorsi energi yang kurasakan dari Nusantara bersumber dari belahan utara benua ini. Jika Ordo berhasil menyatukan teknologi mesin Manchester dengan Aether hitam di dalam tubuhmu, Lev... mereka bisa mengendalikan seluruh Eropa."
Jejak Sang Rival dari Andalusia
"Lalu, ke mana kita akan pergi sekarang, Dok?" tanya Lev sambil menatap Dokter Cindy yang sedang mengemudikan kapal di buritan.
"Kita tidak bisa bersembunyi di London lagi," jawab Dokter Cindy tanpa menoleh. "Tujuan kita adalah kembali ke Manchester. Kita harus merebut kembali bengkel keluarga Anatasya sebelum Ordo menyelesaikan aktivasi mesin inti mereka. Tapi sebelum itu, kita butuh bantuan tambahan."
Dokter Cindy membalikkan badannya, menatap ketiga remaja itu dengan serius. "Menurut informasi dari jaringan bawah tanahku, ada seorang petarung asing yang baru saja tiba di pelabuhan rahasia bagian utara. Dia berasal dari wilayah Andalusia, Spanyol Islam. Kudengar dia memiliki kemampuan manipulasi elemen yang sangat langka dan mematikan."
"Andalusia?" Vania mengernyitkan dahi. "Kekhalifahan Cordoba? Kudengar para ilmuwan di sana menguasai seni alkimia tingkat tinggi yang berbeda dengan sihir Eropa."
"Benar," kata Dokter Cindy. "Namanya Hifni. Dia melacak adanya pengiriman material pasir besi ilegal dari Cordoba menuju Manchester. Jalur tujuannya sama dengan kita. Jika kita bisa meyakinkannya untuk bekerja sama, kita punya peluang untuk menembus pertahanan Manchester."
Mendengar nama petarung baru, Lev Ryley menyeringai lebar. Rasa kompetitifnya sebagai seorang petarung ala anime seketika berkobar. Petir hitam di tangannya memercik kecil, merespons gairah bertarungnya yang meningkat.
"Hifni, ya? Kita lihat saja nanti apakah pasir besinya bisa menahan kecepatan petir hitamku," tantang Lev sombong.
Anatasya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Lev. "Jangan sombong, Lev. Di utara, medan pertempuran kita bukan lagi sekadar lorong sempit, melainkan pabrik-pabrik besi raksasa yang membara."
Kapal kecil itu terus melaju menembus kegelapan malam, meninggalkan kabut London menuju jalanan utara yang dingin dan penuh jelaga. Di tempat lain, di sebuah perbukitan berbatu menuju Manchester, seorang pemuda berpakaian jubah khas gurun pasir berdiri di bawah guyuran hujan gerimis. Di sekelilingnya, butiran-butiran pasir berwarna hitam legam melayang-layang dengan patuh, membentuk pusaran pelindung yang tak kasatmata. Hifni dari Andalusia telah tiba, dan takdir mereka berempat akan segera berbenturan di kota industri Manchester.
(Bersambung ke Bab 4...)
