Bab 4: Ketegangan di Kantor Pemerintahan Hindia Belanda Tanjung

Bab 4: Ketegangan di Kantor Pemerintahan Hindia Belanda Tanjung

Lev
0


Awal tahun 1942, atmosfer di Distrik Tanjung, Tabalong, berubah drastis menjadi sangat mencekam. Kabar runtuhnya benteng-benteng pertahanan Hindia Belanda di berbagai wilayah Nusantara oleh serbuan kilat tentara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Dai Nippon) bukan lagi sekadar desas-desus. Kepanikan massal melanda kalangan pejabat kolonial. Di koridor-koridor Kantor Pemerintahan (Gouvernementskantoor) Tanjung, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan bantingan pintu terdengar sepanjang hari.

Muhammad Hifni berdiri di sudut ruangan arsip dengan tumpukan map tebal di pelukannya. Dari balik jendela kaca besar, ia bisa melihat halaman kantor yang biasanya rapi kini berantakan. Beberapa pegawai keturunan sedang sibuk membakar tumpukan dokumen rahasia di dalam tong besi. Asap hitam mengepul tinggi, membawa abu kertas terbang ke udara Tanjung yang gerah.

"Hifni! Segera bawa berkas sensus penduduk dan peta logistik wilayah Murung Pudak ke ruangan saya! Sekarang!" teriak Meneer Van De Berg dari balik pintu kerjanya. Suara kontrolir Belanda yang biasanya angkuh dan tertata itu kini terdengar bergetar, sarat akan ketakutan.

Hifni berdehem, merapikan letak pecinya, lalu melangkah masuk. Di dalam ruangan, suasana seperti kapal pecah. Laci-laci meja terbuka lebar. Meneer Van De Berg sedang sibuk memasukkan barang-barang berharganya—termasuk beberapa botol minuman keras, perhiasan emas istrinya, dan uang kertas Gulden—ke dalam sebuah koper kulit besar. Keringat dingin bercucuran di dahi pria Belanda itu hingga membasahi kerah kemeja putihnya.

"Ini berkas yang Anda minta, Meneer," ucap Hifni dengan nada suara yang sengaja dibuat cemas, menyelaraskan diri dengan kepanikan tuannya.

Van De Berg menyambar map tersebut tanpa melihat Hifni. "Bagus. Kita harus memusnahkan semua data aset ini. Jika tentara Jepang sampai tahu jumlah cadangan pangan dan peta sumur minyak kita di Tabalong, mereka akan menggunakannya untuk memperkuat pasukan mereka!"

Batin Hifni bergejolak. Peta logistik dan sensus itu berisi data lumbung padi milik rakyat Banjar di pedalaman. Jika dokumen itu dihancurkan atau dibawa lari oleh Belanda, rakyat Tabalong akan kelaparan karena tidak ada catatan distribusi yang jelas saat masa transisi kekuasaan nanti. Hifni harus memikirkan cara untuk menyelamatkan dokumen penting tersebut tanpa memicu kecurigaan Van De Berg yang sedang paranoid.

Dengan otak cerdiknya, Hifni langsung menyusun taktik instan yang dibumbui dengan komedi diplomatis khasnya.

"Maaf, Meneer," puji Hifni sambil memasang wajah super panik yang dibuat-buat. "Jika saya boleh menyarankan, membakar dokumen sepenting ini di halaman terbuka sangat berbahaya saat ini. Mata-mata Jepang atau agen pribumi radikal mungkin sedang mengintai dari luar pagar. Mereka bisa saja merebut sisa-sisa kertas yang belum habis terbakar."

Van De Berg menghentikan aktivitasnya, menatap Hifni dengan mata terbelalak. "Lalu, apa usulmu, Hifni? Kita tidak punya waktu lagi! Kapal evakuasi di Banjarmasin tidak akan menunggu kita!"

Hifni maju selangkah, berbisik dengan mimik wajah yang sangat meyakinkan. "Bagaimana kalau dokumen lumbung pangan dan peta wilayah ini saya bawa keluar lewat pintu belakang? Saya akan menyembunyikannya di dalam gerobak ikan asin milik paman saya yang biasa lewat di depan kantor. Tentara Jepang atau mata-mata tidak akan pernah sudi memeriksa gerobak yang baunya menyengat itu. Setelah situasi aman, saya akan membawanya langsung ke rumah dinas Tuan di Banjarmasin."

Mendengar kata 'gerobak ikan asin', Van De Berg sempat mengerutkan keningnya karena jijik. Namun, dalam kondisi terdesak di mana nyawanya menjadi taruhan, logika elite kolonialnya lumpuh oleh rasa takut. Bagi Van De Berg, ide Hifni terdengar sangat konyol, tetapi di sisi lain, masuk akal karena tidak ada intelijen militer yang akan mencari dokumen rahasia negara di antara tumpukan ikan kering yang berbau busuk.

"Baik, baik! Bawa dokumen itu pergi jauh-jauh dari kantor ini, Hifni! Tapi ingat, jangan sampai hilang. Jika situasi membaik, kamu harus menyerahkannya kembali kepadaku," perintah Van De Berg sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir Hifni seolah dokumen itu kini telah berubah menjadi bom waktu.

"Siap, Tuan Besar. Keamanan dokumen ini adalah prioritas saya," jawab Hifni sambil membungkuk hormat, menahan sekuat tenaga agar tawanya tidak meledak di depan wajah pucat sang kontrolir.

Hifni segera keluar dari ruangan dengan membawa map berharga tersebut. Di koridor, ia berpapasan dengan Utuh, si Oppasser berkumis melintang yang dulu pernah membentak Rina di kelas rahasia. Kini, keangkuhan Utuh hilang tanpa bekas. Ia sedang sibuk mencopot lambang-lambang kerajaan Belanda dari dinding kantor dengan tangan gemetar.

"Eh, Pak Diang Hifni," bisik Utuh dengan suara parau. "Apakah kita semua akan ditembak oleh tentara Jepang?"

Hifni menghentikan langkahnya sejenak, menatap centeng yang kini tampak menyedihkan itu. Dengan gaya humor keringnya, Hifni menepuk pundak Utuh. "Tenang saja, Tuh. Selama kumismu yang galak itu dicukur habis, tentara Jepang mungkin akan mengira kamu hanyalah seorang penjual cendol biasa. Mereka tidak akan tertarik menembak penjual cendol."

Wajah Utuh langsung pucat, ia meraba kumis kebanggaannya dengan pandangan kosong, memikirkan apakah ia harus mencari pisau cukur sekarang juga.

Hifni segera bergegas menuju pintu belakang kantor. Di sana, ia benar-benar menemui seorang kurir keercayaan yang sudah disiapkannya sejak pagi. Dokumen-dokumen penting mengenai aset rakyat Tabalong itu dimasukkan ke dalam karung goni, lalu diselipkan di bawah tumpukan anyaman purun. Dokumen itu tidak akan dibawa ke rumah dinas Belanda di Banjarmasin, melainkan akan dikirim langsung ke rumah panggung Hifni di Murung Pudak untuk disimpan di bawah lantai ulin tersembunyi bersama dokumen pergerakan lainnya.

Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam dan menyisakan warna merah darah di langit Tanjung, sebuah mobil sedan hitam milik kantor pemerintahan melesat pergi meninggalkan kota menuju arah selatan. Di dalamnya, Meneer Van De Berg dan keluarganya melarikan diri, menandai berakhirnya sebuah era penindasan kolonial Belanda yang telah berlangsung ratusan tahun di bumi Tabalong.

Hifni berdiri di tepi jalan, melepas kepergian mobil itu sambil memegang erat tas dinasnya yang kini kosong. Di balik rasa lega karena berhasil menyelamatkan data rakyatnya, ada kabut kecemasan baru yang hinggap di pikirannya. Belanda telah pergi, namun penguasa baru yang konon menyebut diri mereka sebagai "Saudara Tua dari Timur" akan segera menginjakkan kaki di tanah Banjar. Perjuangan keluarga harmonis ini tidak menjadi lebih mudah; sebaliknya, mereka justru baru saja memasuki babak pertempuran yang jauh lebih kejam dan tak terduga.

Siasat cerdik Hifni berhasil mengecoh pejabat Belanda dan menyelamatkan aset masa depan rakyat Tabalong. Namun, bagaimana reaksi si kecil Khalisah dan Ibu Rina saat bala tentara Jepang pertama kali memasuki distrik mereka pada babak berikutnya?

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default