Bab 5: Dompet Tipis, Hati Optimis, dan Teror Pensiunan Polisi

Bab 5: Dompet Tipis, Hati Optimis, dan Teror Pensiunan Polisi

Lev
0

Baca novel Islami 'Luka di Simpang Empat'. Kisah Lev â„›yley yang mengorbankan wanita tulus demi cinta sepihak, namun berakhir ngenes di Banjarbaru. Cerita slice of life sedih, komedi, dan penuh hikmah di Kalimantan Selatan. Baca 25 Bab Lengkap di sini!


Lev â„›yley menatap layar laptopnya dengan mata mengantuk. Di hadapannya, desain spanduk bakti sosial untuk Masjid Agung Al-Munawwarah hampir selesai. Namun, fokusnya teralihkan oleh perutnya yang berbunyi nyaring. Sebagai freelance designer yang baru saja "pensiun" jadi pemuja mantan, saldo rekeningnya lebih menyedihkan daripada kisah cintanya.

"Lev! Kamu sudah selesai belum desainnya? Aku sudah di depan rumahmu!" Sebuah pesan WhatsApp dari Dina masuk.

Lev bergegas merapikan rambutnya yang berantakan. Ia teringat kembali bagaimana ia dulu menolak Dina dengan alasan ingin 'menjaga hati'. Sekarang, ia justru harus meminta bantuan Dina agar bisa makan siang gratis—karena Dina menjanjikan seporsi Nasi Kuning Cempaka yang legendaris sebagai imbalan desainnya.

Saat Lev keluar rumah, ia tidak melihat Dina sendirian. Di dalam mobil, duduk seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan tatapan mata setajam silet.

"Itu... siapa, Din?" bisik Lev saat mendekati jendela mobil.

"Oh, itu Abah. Kebetulan beliau mau ikut sekalian ke percetakan di Jalan Ahmad Yani," jawab Dina santai. "Abah, ini Lev yang Dina ceritakan."

Pak Subarjo, ayah Dina, adalah pensiunan polisi yang punya hobi menginterogasi tamu. Ia melirik Lev dari atas sampai bawah.

"Jadi kamu yang dulu nolak anak saya dengan alasan mau fokus ibadah itu?" tanya Pak Subarjo dengan suara berat yang membuat nyali Lev menciut sampai ke mata kaki.

"Eh... itu, Pak... saya... maksud saya..." Lev mendadak gagap. "Saya dulu sedang memperbaiki diri, Pak."

"Perbaiki diri atau perbaiki nasib?" potong Pak Subarjo telak. "Ayo masuk. Kita ke percetakan. Jangan lama-lama, saya ada jadwal latihan memanah di Gedung Bina Satria."

Di dalam mobil, suasana terasa sangat "angker". Lev duduk di kursi belakang tepat di belakang Pak Subarjo. Dina mencoba mencairkan suasana dengan membahas soal konsep bakti sosial, tapi Pak Subarjo justru terus-menerus melemparkan pertanyaan "maut" kepada Lev.

"Lev, kamu tahu apa bedanya orang yang tulus sama orang yang modus?" tanya Pak Subarjo sambil melirik lewat spion tengah.

"Tentu... eh, tidak tahu, Pak," jawab Lev jujur.

"Orang modus itu bicara soal janji, tapi orang tulus itu bicara soal mahar dan akad. Kamu tipe yang mana?"

Lev menelan ludah. Ia merasa sedang menjalani sidang tilang di tengah jalan tol. Dina yang duduk di samping ayahnya hanya bisa menahan tawa melihat wajah Lev yang memucat.

Namun, di balik ketegangan itu, Lev menyadari sesuatu. Dina tetap bersikap baik dan perhatian padanya meski dulu pernah ia sakiti perasaannya. Ketulusan Dina terasa sangat nyata, kontras dengan bayangan Alya yang selama ini ia puja secara berlebihan.

Tiba-tiba, perut Lev berbunyi keruyuk dengan sangat keras di tengah keheningan mobil.

Pak Subarjo terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak hingga perutnya berguncang. "Polisi saja kalau lapar nggak bisa tugas, apalagi desainer galau kayak kamu! Din, belikan dia Nasi Kuning yang porsinya paling besar. Biar otaknya lurus lagi!"

Lev tersenyum tipis. Ternyata, membuka diri setelah patah hati tidak semenakutkan yang ia bayangkan. Meski ia harus menghadapi ayah yang galak, setidaknya ia tidak lagi merasa sendirian di tengah keramaian Banjarbaru.

Lanjut ke Bab 6? Lev akan terjebak dalam acara keluarga besar di mana pertanyaan "Kapan Nikah?" menjadi teror yang lebih menyeramkan daripada Pak Subarjo.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default