BAB 5: Pekerjaan Pertama dan Bayang-bayang di Museum Nasional

BAB 5: Pekerjaan Pertama dan Bayang-bayang di Museum Nasional

Lev
0
"Sebuah Novel Islami bertema Slice of Life yang menguras air mata. Mengisahkan Hamzah, mahasiswa di Teheran, Iran, yang terpaksa melepaskan tunangannya karena merasa belum mampu membahagiakan dirinya sendiri. Ikuti perjalanan sad & komedi Hamzah menemukan arti self-love sebelum menjemput kembali cintanya.



Teheran di hari Selasa terasa seperti mesin raksasa yang tidak pernah diminyaki; bising, panas karena polusi, tapi tetap berjalan. Hamzah akhirnya memutuskan bahwa meratapi nasib di atas kasur asrama yang berbau apek tidak akan membayar tagihan listrik atau mengisi perutnya yang kian hari kian bersahabat dengan maag.

Berkat bantuan koneksi "jalur langit" dan sedikit keberuntungan, Hamzah diterima sebagai pemandu wisata paruh waktu di Museum Nasional Iran. Tugasnya sederhana: menjelaskan sejarah peradaban Persia kepada turis-turis asing atau delegasi yang kebetulan berkunjung.

Komedi: Pemandu Wisata yang Terlalu Jujur

Hari pertama bekerja, Hamzah harus menghadapi sekelompok turis dari Eropa yang sangat kritis.
"Mr. Hamzah, mengapa banyak patung di sini yang bagian hidungnya rusak?" tanya seorang turis wanita dengan aksen kental.

Hamzah, yang pikirannya baru saja terlintas bayangan Zahra sedang makan fesenjan (rebusan delima) dengan pria dokter itu, menjawab tanpa filter, "Oh, itu karena waktu. Waktu bisa menghancurkan apa saja, Nyonya. Hidung patung, bangunan megah, hingga janji-janji manis di depan pelataran masjid. Tidak ada yang abadi."

Turis itu terdiam, saling berpandangan dengan rekannya. Ali, yang entah bagaimana ceritanya ada di sana untuk memberi dukungan moral (baca: mencari tumpangan makan gratis), langsung menyenggol lengan Hamzah.

"Heh! Jangan curhat di depan artefak kuno!" bisik Ali tajam. "Jelaskan tentang invasi Alexander Agung, bukan invasi kegalauanmu!"

Hamzah tersadar, berdehem canggung, dan segera kembali ke naskah sejarah yang membosankan.
Maaf, Aku Masih Belum "Selesai"

Saat jam istirahat, Hamzah duduk di taman museum yang asri. Ia memperhatikan sepasang kekasih yang sedang berfoto di depan relief kuno. Ia teringat kembali pada tema besar hidupnya belakangan ini: Melepaskan.

Ia menyadari bahwa alasannya melepaskan Zahra bukan hanya karena ia tidak punya uang. Itu alasan klise. Alasan terdalamnya adalah Self-Sabotage. Hamzah merasa jika ia sendiri tidak bisa menikmati keberhasilannya, jika ia selalu merasa kurang dan merasa gagal sebagai individu, keberadaan Zahra hanya akan menjadi "saksi" atas kegagalannya setiap hari.

Aku melupakan bahwa aku telah melepaskanmu karena diriku yang belum bisa membahagiakan kehidupanku sendiri, tulisnya dalam catatan kecil di ponsel.

Ia ingin bahagia bukan karena "memiliki" seseorang, tapi karena ia "menghargai" dirinya sendiri. Dan saat ini, Hamzah bahkan benci melihat pantulan wajahnya di kaca museum. Ia merasa seperti pecundang yang bersembunyi di balik sejarah orang lain.

Kejutan di Balik Rak Buku

Sore harinya, saat sedang merapikan brosur di toko buku museum, pintu berdenting. Seorang gadis dengan syal berwarna pink masuk. Jantung Hamzah berdegup kencang. Bukan Zahra. Tapi itu adalah teman baik Zahra, Fatemeh.

Fatemeh menatap Hamzah dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan dan marah.

"Hamzah? Kamu bekerja di sini?" tanya Fatemeh dalam bahasa Parsi yang lembut.

"Iya, Fatemeh. Mencoba menyambung hidup," jawab Hamzah getir.

Fatemeh mendekat, suaranya merendah. "Zahra menangis selama tiga hari setelah kamu meninggalkannya di kedai teh itu. Kamu tahu, pria dokter itu? Dia adalah sepupunya yang dipaksa ayahnya untuk menemaninya karena Zahra terus mengurung diri. Zahra tidak mencintainya, Hamzah. Dia hanya sedang mencoba mematuhi ayahnya karena kamu... kamu menyerah padanya."

Kata-kata Fatemeh seperti palu yang menghantam kaca. Pecah berkeping-keping.

"Aku tidak menyerah, Fatemeh. Aku hanya melepaskannya agar dia tidak ikut hancur bersamaku," bela Hamzah, meski suaranya bergetar.

"Kamu egois," potong Fatemeh. "Kamu memutuskan apa yang terbaik untuknya tanpa bertanya padanya. Kamu merasa belum bisa membahagiakan dirimu sendiri, lalu kamu pikir solusinya adalah membuat orang yang mencintaimu ikut tidak bahagia? Logika macam apa itu?"

Fatemeh pergi meninggalkan Hamzah yang mematung di antara rak buku sejarah.

Malam yang Panjang di Metro

Dalam perjalanan pulang, Hamzah berdiri di gerbong Metro yang bergoyang. Kata-kata Fatemeh terngiang-ngiang. Apakah keputusannya melepaskan Zahra adalah bentuk pengorbanan yang mulia, atau justru puncak dari keegoisannya yang merasa paling menderita?

Ia melihat pantulan dirinya di jendela kereta. Wajahnya tampak lelah, matanya redup.
Maaf, Zahra. Semoga kau bisa bahagia dengan orang baru...

Doa itu masih sama, tapi kali ini ada keraguan di dalamnya. Hamzah mulai bertanya-tanya: Apakah mungkin untuk membahagiakan diri sendiri sambil berjalan beriringan dengan orang lain? Ataukah ia memang harus benar-benar sendirian sampai ia menemukan "kunci" kebahagiaannya sendiri?

Sesampainya di asrama, ia mendapati Ali sedang mencoba memperbaiki keran air yang bocor dengan isolasi kertas.

"Li, apakah aku ini egois?" tanya Hamzah tiba-tiba.

Ali berhenti bekerja, menatap keran yang tetap bocor, lalu menatap Hamzah. "Kita semua egois, Hamzah. Bedanya, ada yang egois untuk bahagia bersama, ada yang egois untuk menderita sendirian. 

Kamu kategori yang kedua. Dan itu... sangat bodoh."

Malam itu, di bawah langit Teheran yang mendung, Hamzah belajar bahwa melepaskan seseorang ternyata jauh lebih mudah daripada melepaskan rasa bersalah pada diri sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default