Lautan manusia berwarna hijau, merah, dan putih mengepung area luar Stadion Azteca yang legendaris di Kota Meksiko. Suara tiupan terompet khas suporter Amerika Latin memekakkan telinga. Di tengah hiruk-pikuk raksasa itu, dua rombongan dari Kalimantan Selatan tanpa sengaja dipertemukan oleh skenario takdir yang jenaka.
"Uminya, pegang tangan Khalisah erat-erat! Jangan sampai lepas!" teriak Hifni setengah panik. Ia kewalahan membawa tas ransel besar sambil menerobos kerumunan suporter lokal yang sedang bernyanyi heboh.
Di sampingnya, drg. Dina juga tampak kepayahan menggandeng Naura Salsabilla. Udara panas Meksiko berpadu dengan debu membuat kacamata Hifni terus melorot. Rina Rufida yang berada di tengah mencoba membaca papan petunjuk pintu masuk (gate) berkali-kali menggunakan kemampuan bahasa Inggrisnya. Namun, semua petunjuk di area luar ini ternyata ditulis dalam bahasa Spanyol yang pekat.
"Abahnya, ini tulisannya 'Entrada' semua. Kita harus lewat mana? Nomor tiket kita tertulis pintu 12-B," ujar Rina dengan suara yang mulai serak akibat kehausan.
Di saat mereka berputar-putar di tempat yang sama untuk ketiga kalinya, sebuah lengkingan suara remaja yang sangat familier terdengar di antara gemuruh yel-yel suporter Meksiko.
"Ayo netizen! Lihat ini, suasana di depan Stadion Azteca asli seru banget! Tapi Papa ulun malah pusing mencari gerbang masuk!" seru Ghina Qalbi, yang berjalan mundur sambil mengarahkan tongkat narsis (tongsis) ke wajahnya sendiri, mengabaikan lautan manusia di belakangnya.
"Ghina! Hadap depan jalannya! Nanti kamu menabrak orang!" tegur Aisyah Humaira dengan nada komando yang melengking tinggi, memegang papan kertas rundown-nya yang kini sudah agak lecek. Di belakang Aisyah, Lev â„›yley berjalan dengan sabar sambil menggendong Rayyan yang mulai mengantuk karena kepanasan.
Bruk!
Karena berjalan mundur tanpa melihat jalan, tubuh Ghina menyenggol tas ransel besar yang dibawa oleh Hifni. Ponsel Ghina hampir saja melayang jika Hifni tidak dengan sigap menangkap lengan remaja tersebut.
"Astaghfirullah! Maaf, Pak, anak saya kalau sudah live suka lupa daratan," ujar Lev buru-buru maju untuk meminta maaf atas ketidaknyamanan tersebut.
Hifni menoleh, menatap Lev yang mengenakan kaus jersi dengan kain sasirangan melingkar di lehernya sebagai syal. Senyum Hifni langsung mengembang lebar. "Eh... Urang Banjar jua kah ini? Sampai ke Meksiko ketemunya!"
"Inggih, bujur! Ulun Lev dari Banjarmasin!" balas Lev dengan mata berbinar-binar, seolah menemukan mata air di tengah gurun pasir.
"Ulun Hifni dari Tabalong! Ini istri ulun Rina, dan ini tetangga kami Dokter Dina," sahut Hifni riang, langsung memperkenalkan rombongannya.
Pertemuan dua keluarga Banua di belahan bumi lain itu langsung mencairkan ketegangan. Namun, eskalasi situasi mendadak berubah ketika gelombang suporter Meksiko berbaju hijau merangsek maju secara massal karena pintu gerbang utama baru saja dibuka. Massa berdesakan hebat.
Dalam kepanikan kecil itu, tubuh drg. Dina terdorong oleh rombongan suporter bertubuh kekar. Ia hampir saja terjatuh ke lantai beton jika Hifni tidak secara refleks menjulurkan tangan dan menarik lengan jaket Dina untuk melindunginya dari desakan kerumunan. Hifni menstabilkan posisi berdiri mantan kekasih SMA-nya itu selama beberapa detik agar tidak terinjak.
"Hati-hati, Din. Pegangan yang kuat," ucap Hifni spontan dengan nada khawatir yang tulus.
Dina menatap Hifni dengan pandangan mata yang sarat akan rasa terima kasih sekaligus rasa canggung yang mendalam. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, namun tidak luput dari pandangan mata tajam Rina Rufida. Rina yang sedang mendekap Khalisah langsung terdiam. Ada riak kecil yang tiba-tiba berdesir di dalam hatinya—sebuah kombinasi antara naluri pelindung seorang istri dan kecemburuan wanita yang mendadak terusik di bawah terik matahari Meksiko.
