Lanskap yang menyambut Suku Aru adalah antitesis dari rumah gua mereka sebelumnya. Tidak ada lagi bukit kapur yang kokoh atau hutan daratan tinggi yang menjulang. Sebagai gantinya, yang ada hanyalah hamparan lahan basah yang tak berujung, di mana air keruh Barito bercampur dengan tanah organik yang busuk, menciptakan aroma khas yang tajam dan asing. Lingkungan ini, didominasi oleh pohon nipah, pandan, dan beberapa pohon raksasa seperti Gonystylus bancanus yang tumbuh langsung dari air, adalah dunia baru yang brutal bagi para pemburu darat.
Mereka telah mendirikan kemah darurat di sebidang tanah yang sedikit lebih tinggi, yang sebenarnya hanya tumpukan material organik yang belum terurai sempurna—ciri khas dari rawa gambut tropis. Tanah di bawah kaki mereka terasa kenyal dan tidak stabil, sebuah pijakan yang mengkhawatirkan.
Hari pertama di lingkungan baru ini adalah perjuangan murni. Suku Aru, yang terbiasa berburu babi hutan dan rusa di darat, kini harus belajar kembali cara mencari makan. Air di sekitar mereka tampak menjanjikan, tetapi penuh bahaya. Liku mengorganisir tim perintis. Bano, yang kini menunjukkan rasa hormat baru setelah insiden banjir, bergabung dengan sukarela.
"Kita butuh ikan," kata Liku, mengamati air yang keruh. "Dan kita butuh air minum yang bersih."
Air sungai yang keruh tidak bisa diminum secara langsung, dan parit-parit kecil berisi air gambut berwarna hitam pekat di sekitar mereka terlalu asam dan penuh dengan potensi penyakit. Mereka harus menemukan sumber air tawar yang mengalir masuk.
Perjalanan di rawa jauh lebih sulit daripada di darat. Setiap langkah di lumpur hisap sangat melelahkan. Liku dan timnya merangkak melalui vegetasi lebat, memotong jalan dengan kapak batu mereka yang diasah. Mereka menemukan bahwa rawa memiliki ritme pasang surutnya sendiri, dipengaruhi oleh siklus sungai besar dan jauh di sana di lautan. Mereka terjebak beberapa kali oleh air pasang yang tiba-tiba datang, memaksa mereka kembali ke rakit darurat mereka.
Kelaparan mulai menyerang. Persediaan makanan kering mereka, yang sudah sedikit, hampir seluruhnya hilang dalam banjir. Rara dan anak-anak lainnya menangis karena lapar di kemah. Desperate, Liku mencoba menggunakan tombak berburunya untuk menangkap ikan di air dangkal, tetapi ikan-ikan rawa yang lincah terlalu cepat untuk tombak daratnya.
"Kita tidak tahu cara hidup di sini," keluh salah satu pemburu, kelelahan dan putus asa.
Balan, sang tetua, mencoba menenangkan mereka. "Alam selalu menyediakan, kita hanya harus bertanya dengan cara yang benar." Dia menunjuk ke arah rumpun nipah dan sagu yang lebat. "Di dalam batang pohon-pohon itu ada makanan. Tapi kita butuh alat yang tepat."
Mereka mencoba membuat alat pancing sederhana dan mencoba memanen sagu, tetapi pengetahuan mereka kurang. Hari pertama berakhir tanpa hasil perburuan yang signifikan. Malam tiba dengan cepat, membawa serta gerombolan nyamuk yang brutal dan suara-suara aneh dari rawa yang membuat merinding.
Liku duduk di samping api unggun, menatap wajah-wajah sukunya yang kelelahan dan putus asa. Dia telah memimpin mereka menjauhi ancaman 'Mawas Raksasa', hanya untuk membawa mereka ke ancaman kematian yang lebih lambat: kelaparan dan penyakit di lahan basah yang asing ini. Transisi dari kehidupan Mesolitikum di gua ke kehidupan rawa ini sangat brutal.
Di era prasejarah Indonesia, adaptasi adalah satu-satunya mata uang yang berlaku. Mereka harus beradaptasi dengan cepat, atau menjadi catatan kaki dalam sejarah tak tertulis Borneo. Liku menyadari bahwa Suku Aru tidak dapat melakukannya sendirian. Mereka membutuhkan pengetahuan lokal, pengetahuan yang hanya bisa dimiliki oleh suku lain yang telah hidup di rawa ini selama beberapa generasi.
Pikiran tentang pertemuan dengan suku asing, yang mungkin bermusuhan, kini terasa tidak seberapa dibandingkan dengan ancaman kelaparan yang menganga. Perjalanan pahit menuju hilir baru saja dimulai, dan tantangan terbesar mereka bukanlah monster bayangan dari hulu, melainkan cara bertahan hidup di dunia baru di kaki Sungai Barito.
Untuk melanjutkan kisah Suku Aru, saya perlu memperkenalkan suku lokal yang telah menguasai kehidupan di rawa. Nantikan episode berikutnya?
