Pagi itu di Madinah, matahari baru saja mengintip di balik perbukitan batu, namun di dalam kamar hotel keluarga Lev â„›yley, suasana sudah seperti ruang rapat darurat. Aisyah Humaira, mahasiswi PGSD Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang dikenal sebagai organisatoris ulung, kini duduk di depan meja kecil dengan sebuah buku catatan dan tablet di tangannya.
"Oke, perhatian semuanya," ujar Aisyah tegas namun lembut. "Berdasarkan evaluasi kemarin, jadwal kita terlalu banyak tersita untuk 'ekspedisi' konten dan belanja. Ma, hari ini kita ada jadwal ke Raudah jam 10 pagi. Tidak ada toleransi untuk mampir ke toko parfum sebelum itu."
Anindya Putri yang sedang mencoba lipstik baru hasil belanjaan kemarin di Bin Dawood, mengerucutkan bibirnya. "Tapi Aisyah, tadi Ibu lihat ada diskon abaya bordir di lorong sebelah. Cuma sebentar, janji!"
Aisyah menggeleng mantap. "Ma, ingat tujuan kita ke sini. Ibadah nomor satu, konten nomor dua, belanja nomor... sekian. Kalau kita telat ke Raudah, antreannya bisa berjam-jam dan kita bisa kehilangan waktu shalat Duhur di masjid."
Lev â„›yley yang sedang sibuk mengecas semua perangkat elektronik keluarganya—mulai dari kamera, powerbank, hingga HP—mengacungkan jempol ke arah putri sulungnya. "Papa setuju sama Kak Aisyah. Papa sudah lelah jadi porter koper. Hari ini Papa mau fokus recharge iman, bukan cuma recharge baterai HP Mama."
Di koridor hotel, mereka berpapasan dengan drg. Dina Yulianti yang tampak kewalahan membawa tas ransel berisi perlengkapan Naura Salsabilla. Rupanya, Naura dan Khalisah Salsabilla (anak Pak Hifni) baru saja "menyelundupkan" sekantong kecil kurma dari meja sarapan untuk diberikan kepada kucing-kucing di pelataran.
"Pak Hifni, Bu Rina, tolong! Anak-anak ini sudah buat rencana strategis untuk memberi makan seluruh populasi kucing di Madinah," seru Dina sambil tertawa pasrah.
Muhammad Hifni yang biasanya kaku sebagai PNS, kali ini tampak lebih santai dengan kaos oblong putih dan kain sarung. "Biarlah Dok, ini cara mereka belajar sedekah. Tadi saya dengar Khalisah bilang, kalau kucingnya kenyang, mereka bakal doakan kita masuk surga. Logika anak kecil yang murni, ya?"
Aisyah Humaira yang melihat keramaian itu langsung melihat peluang. Sebagai calon guru SD, ia tahu cara mengatur massa. "Bagaimana kalau kita bagi tugas? Pak Hifni dan Papa Lev menjaga anak-anak di pelataran setelah dari Raudah, sementara kami para wanita masuk ke area khusus wanita secara teratur. Saya sudah buat spreadsheet jadwalnya di HP."
Lev â„›yley melongo. "Sampai pakai spreadsheet, Aisyah? Kamu benar-benar anak IT Papa yang tersesat di jurusan keguruan."
Sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi, Aisyah bertindak sebagai pemimpin rombongan. Ia memastikan Maryam Safiya tetap berada di dekatnya agar tidak asyik memotret kaligrafi sendirian, dan mengawasi Ghina Qalbi agar tidak melakukan live streaming di area yang dilarang oleh Askar Masjid.
Keajaiban terjadi saat mereka tiba di depan pintu masuk Raudah. Karena koordinasi Aisyah yang sangat rapi dan datang lebih awal, mereka mendapatkan antrean yang sangat pendek. Anindya Putri yang tadinya ingin mengeluh karena tidak sempat belanja, mendadak terdiam seribu bahasa saat melihat karpet hijau Raudah yang suci.
Aisyah membisikkan sesuatu ke telinga ibunya, "Ma, di sini tempat mustajab untuk berdoa. Mintalah apa saja, lebih dari sekadar abaya baru."
Air mata Anindya jatuh. Di tempat itu, di samping makam Rasulullah SAW, segala keinginan duniawi tentang ribuan followers atau koleksi tas mewah mendadak terasa sangat kecil. Ia bersujud lama sekali, diikuti oleh Aisyah, Maryam, dan Ghina.
Sementara itu, di area laki-laki, Rayyan Zuhayr yang digandeng erat oleh Lev, tampak sangat khusyuk. Rayyan tidak meminta mainan baru. Ia hanya berbisik, "Ya Allah, jadikan Rayyan anak pintar supaya bisa bawa Abah dan Mama ke sini lagi."
Keluar dari Raudah, rombongan bertemu kembali di pelataran. Anindya tampak lebih tenang, wajahnya berseri dengan cara yang berbeda—bukan karena makeup, tapi karena kedamaian batin. Aisyah tersenyum puas melihat buku catatannya. "Jadwal Raudah: Sukses. Sekarang, kita punya waktu 30 menit untuk 'Operasi Kucing' sebelum azan Duhur."
"Horeee!" teriak kedua Salsabilla girang, sementara para orang tua hanya bisa saling lirik dan tertawa dalam kehangatan persaudaraan dari Kalimantan Selatan yang kini menyatu di tanah suci.
Wawasan Penting: Saat ini, jamaah wajib menggunakan aplikasi Nusuk untuk mendapatkan izin masuk ke Raudah. Pastikan kuota Anda aman sebelum berangkat.
Rekomendasi: Untuk manajemen jadwal rombongan keluarga besar, gunakan aplikasi shared calendar seperti Google Calendar agar semua orang tahu kapan waktu ibadah dan kapan waktu kumpul.
Akankah Anindya benar-benar berhenti belanja setelah dari Raudah? Dan rahasia apa yang akan terungkap saat Pak Hifni dan drg. Dina duduk santai menunggu waktu berbuka di bab berikutnya?
Lanjutkan ke Bab 9: Rahasia Nama Salsabilla!
