Hari libur sekolah yang dinanti-nantikan tiba. Sesuai rencana musyawarah keluarga di bawah Supertree Grove, hari ini adalah hari petualangan di Pulau Sentosa, surga rekreasi Singapura. Matahari bersinar cerah, menjanjikan hari yang sempurna di pantai dan wahana.
Keluarga Imran berangkat pagi-pagi, naik MRT menuju HarbourFront dan melanjutkan perjalanan dengan Sentosa Express monorel yang futuristik. Antusiasme Hawa meluap-luap.
"Kita duluan ke Universal Studios Singapore (USS) kan, Bi?" tanya Hawa, tidak sabar.
"Iya, Wa. Tapi ingat, kita harus salat Zuhur tepat waktu nanti di musala dalam area USS. Fun iya, kewajiban jangan lupa," pesan Imran lembut, mengingatkan prinsip keseimbangan dunia dan akhirat yang selalu mereka pegang.
Mereka memasuki gerbang USS yang megah. Suasana langsung berubah; seolah-olah mereka pindah dimensi ke dunia film Hollywood. Hawa dan Adam langsung tertarik dengan zona Sci-Fi City, tempat wahana Battlestar Galactica berada, roller coaster kembar yang terkenal ekstrem.
"Kak Adam, kita naik itu duluan!" seru Hawa, menunjuk lintasan baja biru dan merah yang meliuk-liuk di udara.
Adam, dengan sisa-sisa kegagahannya dari Bab 5, mencoba terlihat tenang. "Boleh saja, Wa. Piece of cake."
Zahra dan Bu Aisyah memilih untuk menikmati suasana di zona Hollywood dan New York, melihat-lihat toko suvenir dan pertunjukan jalanan, sementara Pak Imran mengawasi Adam dan Hawa mengantre wahana ekstrem tersebut.
Di sinilah komedi kehidupan keluarga Imran mencapai puncaknya. Setelah mengantre hampir satu jam, giliran Adam dan Hawa naik di lintasan biru ("Human"). Sebelum wahana berangkat, Adam masih sempat melambaikan tangan ke Abinya dengan senyum percaya diri.
Begitu wahana melesat dengan kecepatan tinggi, berputar 360 derajat di udara, senyum Adam lenyap seketika. Teriakan melengking yang terdengar seperti gabungan antara kucing terinjak dan rem blong memenuhi udara Sentosa. Itu adalah suara Adam, bukan Hawa. Hawa justru tertawa histeris penuh kegirangan di sampingnya.
Pak Imran, yang merekam momen itu dari bawah, tertawa terbahak-bahak.
Ketika wahana berhenti dan penumpang turun dengan kaki gemetar, Adam keluar dengan wajah yang benar-benar pucat pasi, rambutnya acak-acakan, dan pandangan kosong. Hawa, di sisi lain, turun dengan riang gembira.
"Wah, seru banget, Kak! Lagi, yuk!" ajak Hawa.
Adam bersandar di pagar pembatas, mencoba mengumpulkan nyawanya. "Kamu... kamu monster, Wa. Abi, Adam butuh recovery di kedai es krim!"
Momen itu menjadi bahan tertawaan keluarga sepanjang hari. Adam yang sok jagoan wahana ekstrem, ternyata kalah telak dari adiknya yang masih SD.
Setelah salat Zuhur dan makan siang di restoran halal di dalam USS, mereka melanjutkan petualangan. Mereka bertemu Zahra dan Bu Aisyah di zona Mesir Kuno dan menikmati wahana Revenge of the Mummy (kali ini Adam memilih menunggu di luar).
Menjelang sore, mereka pindah ke sisi lain Pulau Sentosa, menuju Siloso Beach. Suasana di sini lebih santai, dengan musik chill dari bar pantai (yang mereka lewati saja) dan volleyball pantai. Mereka menggelar tikar di bawah pohon kelapa, menikmati angin laut.
Pak Imran dan Bu Aisyah menikmati momen damai sambil mengawasi Adam dan Hawa bermain pasir di tepi pantai. Zahra sibuk memotret pemandangan Palawan Beach dengan jembatan gantung ikoniknya.
"Lihat mereka, Bang. Bahagia sekali ya," ujar Bu Aisyah, menyandarkan kepalanya di bahu Imran.
"Alhamdulillah, Mi. Kebahagiaan itu sederhana, ya? Cukup dengan kebersamaan keluarga di tempat seindah ini," balas Imran.
Hari di Sentosa Island ditutup dengan makan malam di area Resorts World Sentosa, dekat dengan S.E.A. Aquarium yang menakjubkan. Mereka makan makanan seafood halal lokal.
Saat perjalanan pulang dengan monorel, semua anggota keluarga terlihat lelah tapi puas. Adam masih manyun sedikit setiap kali Hawa menyinggung soal teriakan melengkingnya di roller coaster, yang memicu tawa seluruh keluarga lagi.
Kejutan di Sentosa Island hari itu mengajarkan mereka bahwa petualangan tidak selalu berjalan sesuai rencana (terutama bagi Adam), tetapi momen kebersamaan dan tawa keluarga adalah kejutan terbaik dari segalanya. Di tengah hingar bingar wahana dan keindahan pantai buatan, keluarga Imran menemukan kembali arti refreshing yang sesungguhnya.
