Bab 8: Saat Zaskia Mencoba Warna Terang – Eksperimen "Neon" Sang Ratu Kalem

Bab 8: Saat Zaskia Mencoba Warna Terang – Eksperimen "Neon" Sang Ratu Kalem

Lev
0
Matahari pagi di Gambut pada pertengahan Desember 2025 ini terasa lebih menyengat dari biasanya, seolah-olah alam sedang mendukung semangat Anita yang tak pernah padam. Di teras rumah keluarga Zaskia, sebuah pemandangan yang tidak biasa sedang terjadi. Zaskia, yang biasanya tampak sangat serasi dengan warna dinding rumahnya yang berwarna sand beige, kini berdiri mematung di depan cermin besar di ruang tamu. Di tangannya, terdapat sebuah bungkusan kado berpita emas yang baru saja diberikan oleh Anita sebagai hadiah ulang tahun pernikahan Zaskia yang ke-12.

"Buka dong, Jeng! Jangan cuma dipandangi seperti lagi melihat artefak kuno," seru Anita yang duduk di kursi rotan Zaskia sambil menyeruput teh melati hangat.

Dengan ragu, Zaskia membuka kotak tersebut. Seketika, cahaya seolah terpantul dari dalam kotak itu. Di sana tergeletak sebuah gamis berbahan silk premium dengan warna yang oleh produsennya disebut sebagai "Tropical Lime", namun di mata Zaskia, itu adalah warna kuning stabilo yang bisa berfungsi sebagai lampu darurat saat mati lampu. Tidak hanya itu, kerudungnya berwarna shocking pink dengan payet-payet yang berkilauan.

"Jeng Anita... ini... Masya Allah, ini cerah sekali," bisik Zaskia, suaranya sedikit bergetar antara terkejut dan ngeri.

"Bukan cuma cerah, Jeng! Itu namanya 'Warna Kebahagiaan'. Saya bosan melihat Jeng pakai warna cokelat susu, cokelat moka, sampai cokelat tanah. Lama-lama Jeng Zaskia bisa menyamar jadi tembok kalau berdiri di depan rumah sendiri. Ayo, coba pakai! Saya ingin lihat Jeng Zaskia bertransformasi jadi wanita energik!" desak Anita dengan mata berbinar.

Demi menghargai perasaan tetangga sekaligus sahabat baiknya, Zaskia akhirnya masuk ke kamar. Lima menit kemudian, ia keluar dengan langkah yang sangat pelan, hampir terseret. Zaskia mengenakan gamis lime tersebut. Hasilnya? Zaskia tampak seperti sebuah jeruk nipis raksasa yang sangat anggun namun bingung.

Anita langsung berdiri dan bertepuk tangan heboh. "Luar biasa! Masya Allah, Jeng! Lihat, wajah Jeng jadi tidak pucat lagi. Jeng kelihatan sepuluh tahun lebih muda dan seribu watt lebih terang!"

Zaskia bercermin dan hampir tidak mengenali dirinya sendiri. "Jeng, saya merasa seperti lampu lalu lintas yang sedang rusak. Apa tidak terlalu mencolok kalau saya pakai ini ke pasar pagi nanti?"

"Justru itu tujuannya! Mari kita lakukan eksperimen sosial di Pasar Gambut," ajak Anita penuh semangat.

Maka, berangkatlah mereka berdua menuju pasar. Zaskia dengan busana "neon"-nya dan Anita yang tentu saja tidak mau kalah dengan setelan warna oranye menyala. Saat mereka berjalan menyusuri pinggiran jalan trans-Kalimantan, beberapa warga yang mengenal Zaskia tampak tertegun. Pak Haji Subli, penjual beras yang biasanya menyapa Zaskia dengan tenang, sampai menjatuhkan takaran berasnya.

"Lho, Bu Zaskia? Saya kira tadi ada pawai keliling, ternyata Bu Zaskia yang lewat. Masya Allah, silau sekali ya hari ini," sapa Pak Haji sambil mengucek mata.

Zaskia hanya bisa tersenyum kaku sambil menunduk, sementara Anita membalas dengan bangga, "Ini namanya tren 2026 lebih awal, Pak Haji! Biar hidup tidak monoton!"
Komedi memuncak saat mereka sampai di los ikan. Di sana, air genangan pasar yang cokelat memantulkan warna baju Zaskia. Seorang anak kecil menunjuk-nunjuk Zaskia sambil berteriak, "Ma! Lihat, ada Kakak peri warna stabilo!"

Zaskia merasa ingin sekali menghilang dan menyatu dengan tumpukan karung goni di sudut pasar. Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Sepanjang jalan, orang-orang yang biasanya hanya mengangguk pelan padanya, kini malah banyak yang tersenyum lebar dan menyapa dengan lebih akrab. Seolah-olah warna terang yang ia kenakan memberikan izin bagi orang lain untuk ikut merasa ceria.

Seorang ibu penjual sayur yang tampak kelelahan tiba-tiba tersenyum melihat Zaskia. "Aduh Bu, lihat bajunya saja saya sudah merasa segar. Seperti melihat es jeruk di tengah hari bolong."

Zaskia tertegun. Ia mulai menyadari sesuatu. Selama ini ia memuja warna kalem karena ingin memberikan ketenangan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Namun ternyata, sesekali memberikan "kejutan visual" yang cerah juga bisa menjadi bentuk sedekah kebahagiaan bagi orang-orang yang sedang lelah.

Saat pulang ke rumah, Zaskia duduk di teras bersama Anita. "Jeng, sejujurnya saya masih merasa aneh. Tapi tadi... saya melihat banyak orang tersenyum. Apa mungkin karena warna ini ya?"

Anita menepuk bahu Zaskia dengan lembut. "Jeng Zaskia, Islam itu indah karena ada banyak warna di dalamnya. Ada kalanya kita harus tenang seperti air rawa di malam hari, tapi ada kalanya kita harus terang seperti matahari yang menghidupkan padi di sawah. Warna ini tidak mengubah Jeng jadi orang lain, ini hanya mengeluarkan sisi 'ceria' Jeng yang selama ini dipendam di balik warna beige."

Zaskia melepas kerudung pink-nya setelah masuk ke dalam rumah, kembali ke zona nyamannya. Namun, ia tidak lagi memandang warna terang dengan rasa takut. Ia menyimpan gamis lime itu di bagian depan lemarinya, bukan di tumpukan paling bawah.

"Terima kasih, Jeng Anita," ujar Zaskia tulus. "Mungkin saya tidak akan pakai ini setiap hari, tapi sekarang saya tahu kapan dunia butuh warna kalem, dan kapan dunia butuh warna yang 'berteriak' penuh syukur."

Hari itu ditutup dengan tawa di Gang Sejahtera. Zaskia belajar untuk keluar dari zona nyaman, sementara Anita bangga karena berhasil "mencerahkan" hidup sahabatnya—setidaknya untuk satu hari yang tak terlupakan di Pasar Gambut.

Pesan Moral & Refleksi:

Eksperimen Zaskia mengajarkan kita bahwa fleksibilitas dalam berekspresi adalah bagian dari kecerdasan sosial. Dalam Islam, menjaga penampilan agar menyenangkan dilihat orang lain adalah bagian dari jamal (keindahan) yang dicintai Allah. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: "Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan." (HR. Muslim).

Bagi Anda yang ingin mengeksplorasi perpaduan warna busana muslimah yang tetap syar'i namun modern, Anda bisa melihat tren terbaru di Fashion Muslim Indonesia. Bersiaplah untuk Bab 9: Ketika Anita Belajar Kalem, di mana giliran Anita yang harus berjuang menahan diri di tengah lautan warna pastel yang "membosankan" bagi dirinya!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default