Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.
Jumat pagi di Kayutangi selalu memiliki atmosfer yang berbeda. Suara pengajian dari pengeras suara masjid-masjid sekitar terdengar bersahutan, menciptakan ketenangan di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang bergegas menuju kelas pagi. Bagi kelima penghuni Kamar Nomor 5, Jumat bukan sekadar akhir pekan yang mendekat, tapi hari di mana "Dana Darurat Spiritualitas" mereka dikeluarkan.
Di atas meja kecil yang dialasi taplak plastik, terdapat sebuah celengan kaleng bekas biskuit yang mereka namai "Kotak Berkah". Setiap minggu, mereka menyisihkan uang kembalian belanja atau sisa uang saku untuk diisi ke dalamnya.
"Rin, ini jatahku untuk minggu ini," ujar Dina Selvina sambil memasukkan lembaran dua ribu rupiah yang sudah agak lecek. "Hasil penghematan tidak jajan pentol selama dua hari."
Rina Rufida tersenyum. "Alhamdulillah. Kalau digabung dengan punyaku, Eva, Lia, dan Fatimah, cukup lah untuk membeli tiga puluh bungkus nasi kuning."
Misi Nasi Bungkus dan Perjuangan Dompet Mahasiswa
Tahun 2013, harga satu bungkus nasi kuning di pinggir jalan Banjarmasin masih berkisar antara Rp5.000 hingga Rp7.000. Bagi anak kos yang kiriman bulanannya sering "koma" di tengah bulan, mengeluarkan uang untuk tiga puluh bungkus nasi adalah sebuah perjuangan besar.
"Kita tidak perlu makan mewah hari ini," cetus Eva Putri Mylin sambil menghitung sisa saldo di ATM-nya lewat SMS Banking. "Tadi aku cek, kalau kita makan mi instan siang ini, kita bisa nambah lima bungkus nasi lagi untuk dibagikan."
Abdalia Ulfah, sang ahli dapur, menggeleng. "Jangan mi instan terus, nanti konsentrasi kuliahmu hilang. Biar aku yang masak nasi putihnya, kita cuma beli lauk masak habang-nya saja di pasar. Lebih hemat dan lebih banyak porsinya."
Itulah rahasia mereka. Dengan kerja sama dan kreativitas, mereka berhasil menyiapkan puluhan bungkus nasi hangat yang mereka bungkus sendiri dengan daun pisang di lantai kos. Aroma rempah kayu manis dan cabai kering memenuhi ruangan, menciptakan kepuasan tersendiri sebelum nasi itu sampai ke tangan penerimanya.
Langkah Kaki Menuju Sabilal Muhtadin
Setelah shalat Dzuhur, dengan membawa dua kantong plastik besar, mereka berlima menaiki angkot menuju Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Masjid dengan kubah emas raksasa yang dikelilingi hutan kota ini adalah pusat gravitasi spiritual di Banjarmasin.
"Lihat bapak itu," bisik Fatimah sambil menunjuk seorang pemulung tua yang sedang beristirahat di bawah pohon trembesi di halaman masjid.
Mereka mendekat dengan sopan. Rina, dengan keberanian dan kerahiman yang ia pelajari dari didikan orang tuanya di Puruk Cahu, menyodorkan satu bungkus nasi.
"Permisi, Pak. Ini ada sedikit rezeki untuk makan siang. Mohon diterima," ujar Rina lembut.
Bapak itu menengadah, matanya yang lelah seketika berbinar. "Terima kasih, Nak. Mudahan kuliah kalian berkah, mudahan jadi orang sukses semuanya."
Doa itu sederhana, namun bagi mereka berlima, rasanya lebih berharga daripada nilai A di transkrip nilai. Ada rasa hangat yang menjalar di dada mereka—sebuah pembuktian bahwa kebahagiaan tidak datang dari apa yang kita miliki, tapi dari apa yang kita lepaskan untuk orang lain.
Pelajaran Tentang Qana'ah
Sambil duduk di selasar masjid yang sejuk dengan lantai marmernya, mereka memperhatikan jamaah yang baru saja selesai melaksanakan shalat Jumat.
"Kalian tahu," Fatimah memulai dengan nada pelan, "Tadi aku baca hadits, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tapi aku baru sadar hari ini, bahwa untuk memberi, kita tidak perlu menunggu kaya. Kita hanya perlu peduli."
Dina mengangguk setuju. "Aku tadi sempat ragu, apa uang dua ribu perakku berharga? Tapi melihat bapak tadi makan dengan lahap, aku jadi malu kalau masih sering mengeluh soal uang saku yang pas-pasan."
Di tahun 2013, ketika banyak anak muda seumuran mereka mulai sibuk memamerkan gadget terbaru atau nongkrong di kafe mahal yang mulai bermunculan di Banjarmasin, lima sahabat ini menemukan kemewahan dalam bentuk lain: Ketenangan jiwa.
"Ayo pulang," ajak Abdalia. "Sore ini kita ada jadwal belajar kelompok untuk ujian tengah semester. Sedekah sudah, sekarang waktunya ikhtiar belajar!"
Mereka meninggalkan area masjid saat burung-burung dara beterbangan di antara tiang-tiang megah Sabilal Muhtadin. Langit Banjarmasin hari itu terasa lebih cerah, seolah ikut mengamini doa-doa tulus yang baru saja mereka terima dari pinggir jalan.
Insight untuk Pembaca (Update 2026):
Masjid Raya Sabilal Muhtadin: Hingga tahun 2026, masjid ini tetap menjadi ikon wisata religi di Kalimantan Selatan. Informasi Jadwal Ibadah Sabilal Muhtadin.
Budaya Berbagi: Tradisi "Jumat Berkah" atau berbagi makanan setelah shalat Jumat adalah budaya yang sangat kental di Banjarmasin, mencerminkan sifat dermawan masyarakat lokal.
Tips Mahasiswa: Cerita ini memberikan inspirasi tentang bagaimana mahasiswa dapat melakukan kegiatan sosial dengan anggaran terbatas melalui sistem kolektif (patungan).
Lanjut ke Bab 10: Mudik Lebaran: Cerita Perjalanan Lintas Kalimantan (Perpisahan Sementara)...
Bagaimana rintangan perjalanan Rina menuju Puruk Cahu yang menempuh belasan jam? Jangan lewatkan petualangan mudik mereka!
