Bab 9: Seminar dan Sajadah – Menyeimbangkan Organisasi dan Ibadah

Bab 9: Seminar dan Sajadah – Menyeimbangkan Organisasi dan Ibadah

Lev
0
Simak kisah inspiratif 5 sahabat perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga kisah cinta Islami. 


Tahun 2013 – Aula Kampus dan Mushola Sempit

Memasuki bulan ketiga di Banjarmasin, kehidupan lima sahabat ini mulai bergeser dari sekadar adaptasi menjadi rutinitas yang padat. Bagi Muhammad Hifni, dunia perkuliahan di Ilmu Pemerintahan tidak lengkap tanpa organisasi. Ia mulai aktif di Himpunan Mahasiswa (HIMA), mengejar ambisinya untuk memahami birokrasi dari akar rumput. Namun, di tahun 2013 itu, ia segera menyadari bahwa terjun ke dunia organisasi adalah ujian keseimbangan antara idealisme, manajemen waktu, dan kewajiban kepada Sang Pencipta.

"Hif, kamu pulang jam berapa semalam?" tanya Irvan saat mereka bertemu di teras kos untuk berangkat shalat Subuh berjamaah.

Hifni mengusap matanya yang merah. "Jam satu, Van. Ada rapat besar buat seminar nasional bulan depan. Banyak proposal yang harus diselesaikan."

Irvan menepuk bahu Hifni pelan. "Ingat kata Abah Guru di Martapura, Hif. Urusan dunia itu ibarat bayangan. Kalau kamu kejar, dia lari. Tapi kalau kamu bawa sujud, dia akan mengikutimu. Jangan sampai karena sibuk urus rakyat di organisasi, kamu lupa urus laporamu sama Yang Punya Rakyat."

Sentilan halus Irvan itu menjadi pengingat bagi Hifni sepanjang hari. Di kampus, Hifni adalah sosok yang vokal. Ia sering terlihat di koridor FISIP dengan map plastik di tangan, berdiskusi panas tentang kebijakan kampus atau rencana seminar. Namun, ujian sesungguhnya datang ketika adzan berkumandang di tengah rapat yang sedang krusial.

"Teman-teman, interupsi. Sudah adzan Ashar. Kita jeda 15 menit untuk ke masjid," ujar Hifni dengan tegas di depan forum.

Beberapa senior sempat mencibir. "Tanggung, Hif. Sedikit lagi poin ini selesai."

Hifni tersenyum, namun tetap teguh. "Izin, Bang. Kalau kita mau urusan organisasi ini dimudahkan Allah, kita harus dahulukan panggilan-Nya. Lagipula, otak kita butuh refreshing spiritual supaya diskusinya tidak pakai emosi."

Sikap Hifni ini perlahan memberi warna baru di organisasinya. Ia membuktikan bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi tidak harus meninggalkan sajadah. Sementara itu, di sisi lain kota, Nazib mengalami dilema serupa namun dalam bentuk yang lebih "teknis".

Nazib dipercaya menjadi panitia dokumentasi dan publikasi di jurusannya. Karena tahun 2013 internet masih sangat terbatas, ia harus stand-by di Lab Komputer hingga larut malam. "Van, gimana ya cara khusyuk kalau di kepala isinya cuma desain banner dan deadline upload?" keluh Nazib suatu malam.

Irvan, yang sedang melipat sajadahnya, menjawab sambil bercanda, "Zib, bayangkan saja loading pahala itu lebih cepat kalau kamu shalat tepat waktu. Niatkan kodingmu itu sebagai dakwah digital, maka setiap klik mouse-mu jadi pahala."

Komedi muncul ketika Khairi mencoba ikut organisasi kampus di FKIP. Karena sifatnya yang terlalu lembut, ia seringkali ditunjuk menjadi seksi konsumsi yang harus mengurus ratusan nasi bungkus. "Hif, ternyata mengurus organisasi itu lebih capek daripada mengajar anak SD ya? Aku harus memastikan 200 orang tidak kelaparan, kalau tidak, seminar bisa berubah jadi unjuk rasa perut!" ujar Khairi sambil memikul dua karpet telur.

Amin pun tak ketinggalan. Di sela kesibukannya di organisasi pecinta alam dan pertanian, ia selalu membawa botol air wudhu sendiri jika harus naik gunung atau masuk ke pelosok lahan gambut yang jauh dari sumber air bersih.

Suatu sore di bulan November 2013, mereka berlima akhirnya berkumpul di mushola kampus setelah lelah dengan agenda masing-masing. Di atas sajadah yang mulai kusam itu, segala keriuhan seminar, debat organisasi, dan tugas koding seolah luruh.

"Ternyata benar ya," bisik Amin saat mereka duduk melingkar setelah dzikir. "Seberapa sibuk pun kita di kampus, sajadah inilah tempat kita kembali jadi manusia biasa. Tanpa gelar, tanpa jabatan organisasi."

Hifni mengangguk setuju. Ia menyadari bahwa di tahun 2013 yang penuh ambisi ini, keseimbangan adalah kunci. Organisasi melatihnya menjadi pemimpin, namun sajadah melatihnya menjadi hamba. Tanpa keseimbangan itu, ia hanya akan menjadi birokrat yang haus kekuasaan tanpa ruh spiritualitas.

Malam itu, mereka pulang ke Kos Nomor 13 dengan hati yang lebih tenang. Hifni kembali ke tumpukan proposalnya, namun kali ini ia memulainya dengan Bismillah, menyadari bahwa setiap baris tulisan di sana adalah bagian dari ibadahnya untuk Banua.

Lanjut ke Bab 10: Tragedi Motor Mogok di Jembatan Barito – Petualangan Tak Terduga

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default