Bab 11 novel Islami Khalisah dan Rabiatun membawa Anda ke Comporta, Portugal. Temukan pantai tersembunyi yang sepi, alami, dan eksklusif. Nikmati ketenangan, refleksi diri, dan piknik damai jauh dari keramaian urban.
Bab 11: Pantai Tersembunyi di Comporta, Portugal
Setelah hiruk pikuk dan energi dinamis di Barceloneta, Khalisah dan Rabiatun mencari ketenangan dan privasi. Pilihan mereka jatuh pada Comporta, sebuah area pantai eksklusif dan tersembunyi di wilayah Alentejo, Portugal. Comporta dikenal karena keindahan alamnya yang masih asli, hamparan sawah padi, hutan pinus, dan pantai berpasir putih yang sepi.
"Dari yang ramai banget, sekarang ke yang sepi banget," komentar Rabiatun saat mobil sewaan mereka melaju di jalanan Comporta yang sepi. "Ini tempatnya benar-benar hidden gem, Khal."
"Iya, aku sengaja cari yang suasananya kontras. Kadang kita butuh ketenangan untuk refleksi diri," jawab Khalisah sambil fokus menyetir.
Mereka menginap di sebuah vila kecil bergaya pedesaan yang menawan. Kehidupan bermasyarakat di sini sangat tenang; penduduk lokalnya ramah, tetapi cenderung menjaga privasi masing-masing. Suasana pedesaan yang tenang memberikan rasa damai yang instan.
Keesokan paginya, setelah shalat Subuh, mereka langsung menuju pantai Comporta. Pantai ini membentang panjang dan terasa tak berujung. Hanya ada segelintir orang yang terlihat berjalan santai di kejauhan. Privasi yang mereka cari benar-benar mereka dapatkan di sini.
Mereka menemukan area yang sangat sepi, jauh dari siapa pun. Di sana, mereka menggelar sajadah tipis di atas pasir putih yang halus dan menunaikan shalat Dhuhr di bawah langit biru Portugal. Rasanya begitu damai dan khusyuk, shalat di tempat yang terasa sangat alami dan pribadi.
Setelah shalat, mereka menggelar tikar dan mengeluarkan bekal piknik yang sudah disiapkan: roti gandum, hummus, zaitun, dan buah-buahan segar. Mereka makan dengan tenang sambil mengamati ombak kecil yang bergulir lembut ke pantai.
"Ini nih yang aku cari, Khal. Ketenangan sejati," ujar Rabiatun sambil menghela napas panjang, menikmati semilir angin laut. "Jauh dari hiruk pikuk duniawi, cuma ada kita dan alam."
Khalisah tersenyum. "Betul, Bun. Traveling itu nggak cuma tentang lihat tempat baru, tapi juga tentang kasih waktu buat diri sendiri dan Allah. Me time dan Deen time."
Mereka menghabiskan sebagian besar hari itu dengan bersantai. Rabiatun yang ceria sesekali berlari di tepi pantai, mencoba membuat jejak kaki di pasir, sementara Khalisah sibuk membaca buku dan membuat sketsa pemandangan di jurnalnya.
Momen komedi ringan terjadi saat Khalisah, yang terlalu fokus membaca, tidak sadar kalau ombak pasang mulai mendekat dan membasahi sebagian tikar serta tasnya. Rabiatun yang melihat itu dari kejauhan langsung tertawa terbahak-bahak.
"Si perencana ulung kena ombak! Hahaha!" ledek Rabiatun sambil berlari membantu Khalisah memindahkan barang-barang mereka.
Wajah Khalisah sedikit kesal, tapi akhirnya ikut tertawa juga. "Oke, kali ini aku akui aku lengah. Alam memang suka bercanda."
Kejadian lucu itu membuat suasana semakin akrab. Mereka melanjutkan sore mereka dengan berjalan santai di sepanjang pantai, mengumpulkan kerang unik, dan menikmati sunset yang indah tanpa gangguan. Matahari terbenam di Comporta terasa lebih pribadi dan intim.
Khalisah merangkum pengalaman mereka di Comporta:
Review & Tips Comporta Portugal:
*Hidden gem terbaik untuk privasi dan ketenangan.
*Pantai sepi, alami, dan terasa eksklusif.
*Kehidupan bermasyarakat sangat tenang, cocok untuk relaksasi.
*Penting untuk bawa bekal makanan dan minuman sendiri karena minim fasilitas di area sepi.
*Waspada ombak pasang jika terlalu asyik membaca buku.
Comporta memberikan mereka jeda yang sangat dibutuhkan. Mereka merasa segar kembali, secara fisik maupun spiritual. Ikatan persahabatan mereka semakin kuat melalui momen-momen tenang dan lucu yang mereka bagi. Dengan hati yang damai, mereka siap untuk destinasi selanjutnya, kembali ke Italia untuk menjelajahi "Maladewa Italia" di Porto Cesareo.
