Kisah inspiratif Khalisah Salsabilla di Barabai, Kalimantan Selatan. Belajar Bahasa Inggris dan menghafal Juz 30 ditemani kucing oren bernama Mochi. Cerita keluarga PNS yang penuh komedi dan nilai agama.
Hari Senin kembali menyapa Barabai dengan rutinitasnya yang sibuk. Di kantor dinas, Hifni baru saja menyelesaikan rapat koordinasi pembangunan daerah. Pikirannya agak terpecah; ia teringat target hafalan Khalisah minggu ini, yaitu Surah Al-Adiyat. Surah yang penuh dengan irama kuda perang yang berlari kencang.
"Pak Hifni, fokus sekali kelihatannya. Lagi mikir anggaran?" tanya rekan kerjanya, seorang PNS senior.
Hifni tersenyum kecut. "Bukan Pak, lagi mikir gimana caranya menjelaskan 'kuda perang yang memercikkan api' ke anak enam tahun supaya dia nggak takut."
Rekan senior itu tertawa. "Pakai analogi mobil balap saja, Pak. Anak zaman sekarang lebih cepat nyambung."
Hifni manggut-manggut. Ide bagus. Di sisi lain kota, Rina Rufida juga sedang berjuang di kelasnya. Mengajar Bahasa Inggris di tengah cuaca Barabai yang gerah menuntut kreativitas ekstra. Ia menggunakan metode Storytelling.
"Anak-anak, today we will learn about 'Horse'. Ada yang tahu kuda itu suaranya bagaimana?"
"Hiiihaaa!" teriak murid-muridnya.
Rina tersenyum. Di otaknya, ia sudah merancang metode gabungan: Khalisah akan belajar kosakata horse, running, and fire dalam Bahasa Inggris, sambil menghafal ayat-ayat Surah Al-Adiyat.
Sore harinya, rumah mereka kedatangan tamu spesial. Nurul Inayah datang membawa Husna. Mereka membawa oleh-oleh berupa Ikan Haruan (ikan gabus) masak habang khas Hulu Sungai Tengah.
"Wah, pas sekali! Aku baru mau masak," seru Rina menyambut teman SMA-nya itu.
Sembari para ibu memasak, Hifni mengambil alih tugas "mengasuh". Ia mengajak Khalisah dan Husna duduk di teras samping, dekat kandang Mochi yang baru saja dibersihkan. Mochi sedang dalam mode recharge, alias tidur telentang dengan kaki ke atas di bawah sinar matahari sore.
"Oke, Khalisah, Husna. Hari ini kita belajar Surah Al-Adiyat. Abah punya rahasia," ujar Hifni dengan nada misterius.
"Rahasia apa, Abah?" tanya Khalisah antusias. "Is it a treasure map?
"Lebih hebat dari peta harta karun. Kalian tahu nggak, kalau kalian lancar hafal Al-Qur'an, nanti di surga kalian bisa memakaikan mahkota cahaya untuk Abah, Mama, Aunty Nurul, dan Ayah Husna. Mahkotanya lebih berkilau dari matahari!"
Mata kedua bocah itu membelalak. Husna yang biasanya diam, tiba-tiba bertanya, "Mahkotanya ada lampunya ya, Om Hifni?"
Hifni terkekeh. "Lebih terang dari lampu jalanan di Barabai, Husna. Tapi, syaratnya harus sabar menghafalnya. Ayo, ikuti Abah. Wal-'ādiyāti dabhā..."
Khalisah mengikuti dengan aksennya yang khas. "Wal-'aad-iy-aa-ti dabh-aa... Abah, kuda-kudanya lari cepat ya? Like a Ferrari?"
"Betul! Fast like a Ferrari!" sahut Hifni bangga.
Interaksi itu mendadak menjadi lucu ketika Mochi tiba-tiba terbangun karena mendengar suara keras Hifni menirukan derap langkah kuda. Mochi yang kaget langsung melompat ke atas meja, menjatuhkan toples kerupuk, dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Mochi! Don't run like a horse! Kamu kan kucing!" teriak Khalisah sambil mengejar kucingnya.
Suasana teras penuh dengan tawa. Nurul Inayah yang mengintip dari balik jendela dapur merasa haru. "Rin, lihat deh. Hifni benar-benar telaten. Dulu tahun 2013, siapa yang sangka si ketua seksi hiburan OSIS sekarang jadi ustadz pribadi buat anaknya."
Rina tersenyum sambil mengaduk bumbu masak habang. "Itulah hebatnya jadi orang tua, Rul. Kita dipaksa jadi apa saja demi anak. Kamu juga hebat, Husna jadi anak yang sangat santun."
Malam harinya, setelah makan besar dengan menu Ikan Haruan, Khalisah menunjukkan kemajuannya. Di depan Abah, Mama, Nurul, dan Husna, ia membacakan lima ayat pertama Al-Adiyat dengan lancar.
"Alhamdulillah! Great job, Khalisah!" puji Rina.
Sebagai hadiah instan, Hifni mengeluarkan sebuah stiker bintang besar berwarna emas. "Ini stiker mahkota pertama. Kalau sudah terkumpul sepuluh, kita beli boneka kucing yang bisa bicara Bahasa Inggris!"
"Horeee!" Khalisah berjingkrak.
Mochi yang sedang menjilati sisa tulang ikan di piring (tentu saja setelah dicuci bersih oleh Rina), hanya mengeong pendek. Seolah ia juga ingin stiker bintang karena sudah sabar menjadi pendengar setia hafalan Khalisah seharian.
Sebelum pulang, Nurul membisikkan sesuatu pada Rina. "Rin, minggu depan di TK ada lomba hafalan antar kelas. Aku harap Khalisah ikut ya. Bukan buat cari juara, tapi buat melatih mentalnya."
Rina melirik Hifni, yang langsung mengangguk mantap. "Siap, Rul! Khalisah Salsabilla siap mewakili keluarga PNS Barabai!"
Perjalanan menuju "Mahkota Cahaya" semakin menantang, namun dengan dukungan sahabat lama dari tahun 2013 dan kehadiran kucing oren yang selalu bikin ulah, semuanya terasa jauh lebih ringan bagi Khalisah.
